“Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

Dengan 77 persen perolehan suara, kembali terpilihnja Wladimir Putin pada ahad 18 maret sebagai presiden Rusia memang luar binasa. Satu kenaikan dibandingkan tahun 2012 (64,4 persen). Dalam dua kali pilpres sebelumnja, raupan suaranja pun setara: tahun 2000 (52,9 persen) dan tahun 2004 (71,3 persen). Antara tahun 2008 s/d 2012, harus istirahat, sebab setelah dua kali berturut-turut mresiden, menurut ketentuannja mesti langsir dulu.

Putin ketika berkampanje maret 2018
Putin ketika berkampanje maret 2018

Bukan tjuma soal kemenangan Putin nan tak telak itu, tapi bagaimana Putin memerintah Rusia tampaknja menarik perhatian. Sampai2 Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon „berkitjau soal Indonesia butuh pemimpin seperti presiden Rusia Vladimir Putin, bukan jang banjak utang dan planga-plongo“ (merdeka.com 1 april 2018), tentu bikin planga-plongo bagi jang “ilmunja pas2an” (mindjem istilah Amin Rais) tentang sistem pemerintahan Rusia. Sebelum Fadli Zon, sudah ada jang plonga-plongo lantaran merindukan Putin.

Sosok Wladimir Putin jang dikenal bisa mengambil sikap tegas untuk menegakkan wibawa nasional Rusia rupanja djuga dirindukan untuk Indonesia. Menurut pakar ekonomi Umar Juoro, sebenarnja jang diharapkan dan semestinja tampil sebagai Wladimir Putin Indonesia saat ini adalah presiden Susilo Bambang Yudhoyono” (“Indonesia Rindukan Pemimpin seperti Putin”, Kompas, kemis, 1 november 2017).

Kitjauan Fadli Zon ketka merinduken Wladimir Putin
Kitjauan Fadli Zon ketka merinduken Wladimir Putin

Apa jang akan terdjadi kalow sistem pemerintahan Rusia itu diterapkan di tanah Nuswantoro? Fadli Zon, machluk kelahiran 1 djuni 1971, selasa kliwon, berwuku tambir, berwatak pemarah dan pentjemburu, suka mengganggu orang lain, suka membual dan urakan itu, djelas bakal plonga-plongo dengan kedudukannja sebagai wakil ketua DPR itu.

Knapa? Sampai sekarang, gak gampang menggolongkan sistem pemerintahan Rusia. Sebutannja matjem2: presidensialisme patronal, presidensialisme hegemonial, semi- presidensialisme, premier-presidentialism, system hybrid kombinasian semi-presidensial dengan superpresidensialisme. Di mana letak kesukarannja?

Logo de l'Assemblée nationale française
Logo de l’Assemblée nationale française

Agar bebas plonga-plongo, ambil sadja tjontoh jang sederhana, tjotjok buat jang „ilmunja pas2an“. Rusia bereksekutif ganda: Presiden dan berperdana menteri sebagai kepala pemerintahan, bernuansa semi-presidensialisme à la tanah Prantjis. Meski presiden mengangkat perdana menteri, tapi nasib perdana menteri Prantjis itu tergantung pada majoritas Assemblée Nationale (DPR Perantjis), jang dihuni oleh 577 legislator. Karenanja, Perdana Menteri bisa dilengserkan oleh Assemblée Nationale. Bahkan, kalow misalnja ra-tjotjok sama presiden, sang perdana menteri bisa meminta mosi kepertjajaan dari Assemblée Nationale — sebagai isjarat kepada presiden, bahwa majoritas Assemblée Nationale ada ngekor sama dia. Bila perdana menteri berasal dari partai jang bersabrangan dengen presiden, maka dalam tubuh eksekutif tertjiptalah apa jang beken disebut sebagai kohabitasi alias kumpul kebo (Französische Botschaft: „Staatspräsident — Aufgaben und Rolle in der V. Republik“).

Di Rusia, kedudukan presiden lebih kentjengan ketimbang di semi-presidensialisme tanah Prantjis. Mirip2 di tanah Prantjis, sesuai pasal 83 UUD Rusia, dengan persetudjuan Duma (DPR Rusia), presiden berhak mengangkat perdana menteri dan memutuskan nasib pemerintah: „The President of the Russian Federation shall: appoint by agreement with the State Duma the Chairman of the Government of the Russian Federation; have the right to chair meetings of the Government of the Russian Federation; on the proposalby the Chairman of the Government of the Russian Federation appoint and dismiss deputy chairmen of the Government of the Russian Federation and federal ministers“.

Tapi berbeda dari tanah Prantjis, menurut pasal 111 UUD Rusia, presiden Rusia dapat mbubarin Duma, kalow kandidat perdana menteri usulan presiden ditolak tiga kali oleh Duma: „The Chairman of the Government of the Russian Federation shall be appointed by the President of the Russian Federation with the consent of the State Duma; In case the State Duma rejects three times the candidates for the post of the Chairman of the Government of the Russian Federation, dissolve the State Duma and appoint new elections“ (The Constitution of the Russian Federation).

Akibatnja, Duma ngeper sama presiden Rusia. Kalow harus berpemilu ulang, bisa2 Fadli Zonnya Rusia plonga-plongo ra-kepilih lagi. Alhasil, Rusia lebih perkasa ketimbang semi- presidensialismenja Prantjis. Djuga lebih maut ketimbang presidensialisme umumnja, alias super-presidensialisme. Maklum, bisa mbubarin Duma. Djelas bertentangan dengan prinsip presidensialisme seperti halnja tertera dalam pasal 7C UUD 1945. Bahwa: „Presiden tidak dapat membekukan dan/atau membubarkan Dewan Perwakilan Rakjat“.

Gedung Duma di Moskow
Gedung Duma di Moskow

Selain itu, dukungan Putin di Duma sangat kokoh. Dalam pemilu Duma 2016 misalnja, partai pendukung Putin (Jedinaja Rossija alias United Russia (UR) alias Rusia Bersatu dan bukan Gerakan Rusia Raya), berhasil merebut majoritas: 343 dari 450 kursi. Sedangkan partai terkuat kedua, ketiga dan keempat, jaitu Communist Party of the Russian Federation Partai (CPRF), Liberal Democratic Party of Russia (LDPR) dan A Just Russia (AJR) tjuma dikasih 42, 39 dan 23 kursi sadja (Derek S. Hutcheson, „Contextualizing the 2016 State Duma Election“, Russian Politics 2(4): hal. 403).

Pada pemilu sebelumnja, jakni tahun 2011, Rusia Bersatu (UR) merebut 238 dari 450 kursi. Lalu, partai terkuat kedua (CPRF), ketiga (LDPR) dan keempat AJR) merebut 92, 64 dan 56 kursi (Lars Peter Schmidt/Irina Orchirowa/Victor Frank, „Parlamentswahlen in Russland: Ergebnisse und Bewertung“, Konrad Adenauer Stiftung 5 desember 2011)

Bisa dibajangkan kalow Nuswantoro seperti presidensialisme Rusia: posisi Gerindra bisa plonga-plongo matjam partai terkuat ketiga Rusia. Gerakan Indonesia Raya bisa maudjud djadi tjuma Gerak-Gerik Indonesia Raya.

Itulah pasalnja, begitu memerintah, Putin bisa langsung kepret sana kepret sini, kontrasannja Jokowi jang pada awal masa pemerintahannja tjuma menguasai sekitar 36 persen DPR sehingga Jokowi hanja bisa plonga-plongo rapopoan.

Maka, Putin mendjadi Prabowo UnTuk Indonesia seperti harapan Fadli Zon itu tjuma fiksi belaka. Dan ia mendjadi fiktif, sebab setjara faktual, sistem pemerintahan Repablik Nuswantoro memang rapodo sama sistem pemerintahan Rusia. Keadjaiban tentu sadja bisa terdjadi, kalow Prabowo, maudjud 17 oktober 1951, rebo pon, wuku Djulungpudjut bersesadjen nasi tumpeng, lauknja ajam merah, kuluban sembilan matjam dan Fadli Zon bersesadjen nasi pulen dan nasi uduk, lauknja pindang bebek dan ajam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s