“Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

Mendiang Benedict Anderson (1936-2015) telah menerdjemahkan beberapa karja sastra Djawa dan Indonesia ke dalem bahasa Inggris.     Sastra Indonesia 1. Idrus “Surabaja”. 2. Prijana Winduwinata “M. M. M. dan lain2 Tjerita Binatang Modern”. 3. Pramoedya Ananta Toer “Dendam”. 4. Pramoedya Ananta Toer “Njonja Dokterhewan Suharko”. 5. Pramoedya Ananta Toer “Perburuan dan Keluarga Gerilja” 6. Eka Kurniawan “Corat-coret di Toilet” 7. Eka Kurniawan “Jimat Séro” Sastra Djawa 1. Suluk Gatholotjo (Bagian 1) 2. Suluk Gatholotjo (Bagian 2) Selain karja2 di atas, Anderson djuga masih menerdjemahkan tjerpen karja Achdiat Kartamihardja berdjudul “Sensasi diatas pohon kelapa” jang dimuat dalam kumpulan tjerpen Asia … Lanjutkan membaca “Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

“Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

Setelah kuburan djenderal besar Francisco Franco dibongkar kemis 24 oktober, maka keturunan para korban diktator militer Spanjol ini beralih menuding dua gembong tentara lain yang masih enak2an nongkrong di dalem kuburan terhormat. Maklum keluarga para korban itu masih banjak jang tergeletak dalam kuburan massal, tak tahu di mana pastinja. Mereka masih harus digali dan diindentifikasi melalui udji DNA. Tentu keturunan korban ini tidak rela melihat para pembunuh jang terus enak2an nongkrong di dalem geredja alias kuburan terhormat, sementara nenek mojang mereka bergeletakan di kuburan massal, tidak dalam makam jang djelas dan djuga tidak teridentifikasi. Salah satu kontroverse itu menjangkut makam … Lanjutkan membaca “Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

“30 tahun bobolnja tembok Berlin” oleh Joss Wibisono

Ini hari, 9 november 2019, tepat 30 tahun silam tembok Berlin bobol. Aku sempat menjaksiken peristiwa bersedjarah ini dengen mata kepala sendiri. Tapi sebelum nulis lebih landjut perlu ditegeskan bahwa aku tidak berada di Berlin tepat pada tanggal 9 november 1989 itu. Aku baru ke sana 10 hari sesudahnja, tepatnja tanggal 18 november 1989, seperti bisa dilihat pada visa DDR (Djerman Timur) jang itu wektu aku peroleh dan tertera pada salah satu paspor lamaku. Tapi tidak ke Berlin azha, 30 tahun silam aku djuga ke Leipzig. Tentu azha aku mengirim laporan untuk Radio Nederland, tempatku bekerdja waktu itu, sebagai repoter … Lanjutkan membaca “30 tahun bobolnja tembok Berlin” oleh Joss Wibisono

“Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit lain nongol di mingguan Tempo, edisi 21 djuli 2019, halaman 38. Pada abad 20 dulu, orang masih menggunakan arbei untuk menjebut buah merah tanaman perdu jang tumbuh di daerah pegunungan beriklim sedjuk. Sekarang kata ini sudah terlupakan, orang menjebut buah itu stroberi (dari kata Inggris strawberry). Abad lalu orang djuga masih menggunakan korting untuk menjebut potongan harga, sekarang digunakan diskon (dari kata Inggris discount). Dulu orang masih menggunakan persekot atau uang muka, sekarang ramai2 mereka gunakan DP (singkatan Inggris down payment). Maka di sini kita saksikan betapa serapan bahasa Inggris telah mendesak serapan bahasa Belanda. Arbei berasal … Lanjutkan membaca “Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono

“Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

Sekitar minggu kedua september 2015, seorang kenalan baik mengirim surat elektronik, mengabarkan niatnja menerbitkan buku tetang 50 tahun G30S. Apa aku punja tulisan jang bisa diikutkan di dalemnja? Aku tak punja tulisan baru, tapi bersedia menggarap tulisan lama supaja sesuai dengan perkembangan jang sudah terdjadi sampai 2015. Waktu itu di Belanda kami ber-siap2 menggelar IPT 65. Maka djadilah tulisan ini, tjuman sajangnja rentjana penerbitan buku itu batal. Penerbitnja gak pernah kasih kabar lagi, padahal sebelumnja mereka sudah setudju dan karena itu semua naskah djuga siap. Daripada disimpan, berikut esai itu. Sebelas tahun sudah berlalu sedjak saja menulis artikel berikut jang … Lanjutkan membaca “Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

“Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

Sekedar pengantar: pembebasan belum kemerdekaan Indonesia Penulis artikel ini, Mimi Soetiasmi Soejono, adalah kakak Irawan Soejono, mahasiswa Indonesia jang pada 13 djanuari 1945 ditembak mati oleh Wehrmacht, tentara pendudukan Djerman jang pada hari sial itu melakukan razia di Leiden. Irawan jang pada saat berlangsung razia sedang mengangkut mesin stensil dengan sepeda, sudah berupaja menghindar (sebelumnja sudah dua kali dia lolos dari razia), tetapi pasukan Werhmacht jang awas langsung melihatnja dan segera pula menembaknja. Seperti Irawan, Mimi djuga aktif terlibat dalam verzet, perlawanan bawah tanah terhadap nazi Djerman jang waktu itu menduduki Belanda. Dia berperan sebagai kurir, dengan tugas menjebarkan selebaran … Lanjutkan membaca “Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

“Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

Pelbagai kenangan jang muntjul di djedjaring sosial meratapi kepergian pater Adolf Heuken (lafal ‘hoiken’) jang berpulang 25 djuli itu kebanjakan bersifat pribadi. Mereka jang mengenang almarhum kebanjakan kenal sang rohaniwan dan kebanjakan djuga memudji keahliannja dalam bidang sedjarah Batavia-Djakarta. Ada jang menulis bagaimana almarhum begitu disiplin mendjaga koleksinja, sehingga koleksi itu tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Ada pula jang menulis sesudah mewawantjarai pater keturunan Djerman ini, segera dia tahu betapa sang rohaniwan begitu prihatin dengan pengetahuan sedjarah generasi muda Djakarta atas kota mereka. Karena tidak sadar nilai sedjarah itu, demikian sang pater melantunkan kechawatirannja, ketika besar mereka akan dengan gampang … Lanjutkan membaca “Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono