“Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

Sekitar minggu kedua september 2015, seorang kenalan baik mengirim surat elektronik, mengabarkan niatnja menerbitkan buku tetang 50 tahun G30S. Apa aku punja tulisan jang bisa diikutkan di dalemnja? Aku tak punja tulisan baru, tapi bersedia menggarap tulisan lama supaja sesuai dengan perkembangan jang sudah terdjadi sampai 2015. Waktu itu di Belanda kami ber-siap2 menggelar IPT 65. Maka djadilah tulisan ini, tjuman sajangnja rentjana penerbitan buku itu batal. Penerbitnja gak pernah kasih kabar lagi, padahal sebelumnja mereka sudah setudju dan karena itu semua naskah djuga siap. Daripada disimpan, berikut esai itu. Sebelas tahun sudah berlalu sedjak saja menulis artikel berikut jang … Lanjutkan membaca “Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

“Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

Sekedar pengantar: pembebasan belum kemerdekaan Indonesia Penulis artikel ini, Mimi Soetiasmi Soejono, adalah kakak Irawan Soejono, mahasiswa Indonesia jang pada 13 djanuari 1945 ditembak mati oleh Wehrmacht, tentara pendudukan Djerman jang pada hari sial itu melakukan razia di Leiden. Irawan jang pada saat berlangsung razia sedang mengangkut mesin stensil dengan sepeda, sudah berupaja menghindar (sebelumnja sudah dua kali dia lolos dari razia), tetapi pasukan Werhmacht jang awas langsung melihatnja dan segera pula menembaknja. Seperti Irawan, Mimi djuga aktif terlibat dalam verzet, perlawanan bawah tanah terhadap nazi Djerman jang waktu itu menduduki Belanda. Dia berperan sebagai kurir, dengan tugas menjebarkan selebaran … Lanjutkan membaca “Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

“Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

Pelbagai kenangan jang muntjul di djedjaring sosial meratapi kepergian pater Adolf Heuken (lafal ‘hoiken’) jang berpulang 25 djuli itu kebanjakan bersifat pribadi. Mereka jang mengenang almarhum kebanjakan kenal sang rohaniwan dan kebanjakan djuga memudji keahliannja dalam bidang sedjarah Batavia-Djakarta. Ada jang menulis bagaimana almarhum begitu disiplin mendjaga koleksinja, sehingga koleksi itu tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Ada pula jang menulis sesudah mewawantjarai pater keturunan Djerman ini, segera dia tahu betapa sang rohaniwan begitu prihatin dengan pengetahuan sedjarah generasi muda Djakarta atas kota mereka. Karena tidak sadar nilai sedjarah itu, demikian sang pater melantunkan kechawatirannja, ketika besar mereka akan dengan gampang … Lanjutkan membaca “Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

“Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

Inilah djawabanku atas kolom Udar Rasa Don Sabdono, eh Bre Redana, di harian Kompas, edisi 21 djuli 2019 Mengapa kita, orang Indonesia, begitu menggetoli Milan Kundera, penulis Ceko jang pada 1975 mengungsi ke Paris? Lebih dari itu mengapa tak pernah sekalipun kita sebut nama Václav Havel? Sebenarnja Kundera tak pernah bisa dilepaskan dari Havel, berbitjara tentang Kundera, seseorang harus pula bitjara tentang Havel. Klow tjuman tentang Kundera sadja (apalagi lantaran utjapannja soal ‘melawan lupa’) maka orang itu tjuman bitjara tentang satu hal jang kebetulan tjotjok baginja. Di luar negeri, keduanja, Kundera dan Havel setjara bersama, selalu disebut dalam satu tarikan … Lanjutkan membaca “Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

“Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

Masuk ke bagian bawah tanah museum Stedelijk, Ngamsterdam, aku kaget melihat foto ini.  Ternjata ada hlo foto orang Indonesia di museum Stedelijk. Siapakah dia? Di bawah foto segera terbatja namanja: Roestam Effendi. Ah, inilah orang jang pernah kubatja namanja.   Roestam Effendi dikenal oleh chalajak Indonesia hanja sebagai sastrawan asal Minangkabau angkatan Poedjangga Baroe. Karja sastranja jang sering di-sebut2 (tapi sedikit jang benar2 batja) adalah drama berdjudul ‘Bebasari‘. Jang tidak diketahui orang adalah bahwa Roestam Effendi ini kemudian djuga menempuh pendidikan di Belanda, semula beladjar mendjadi guru bahasa Belanda, kemudian beladjar ekonomi. Lebih dari dari itu Roestam Effendi terlibat dalam … Lanjutkan membaca “Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

“Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

Sebagian besar, kalau tidak semua tokoh dalam tjerpen2 jang terhimpun pada kumpulan berdjudul Teh dan pengchianat ini adalah orang2 Belanda. Tentu sadja Belanda berpendirian madju dan progresif jang bersimpati dengan nasib inlanders terdjadjah. Inilah keistimewaan Iksaka Banu, penulisnja. Keistimewaan ini penting bagi kita jang selalu mengira bahwa dulu itu semua orang Belanda adalah pendjadjah jang berperangai buruk. Bukan itu sadja. Dengan tokoh2 seperti Hendriek Cornelis Adam, Jan van de Vlek atau Simon Vastgebonden, Banu djuga tampil istimewa di hadapan penulis2 Belanda zaman sekarang. Walaupun Multatuli sudah mentjiptakan Saïdjah dan Adinda dalam novel »Max Havelaar« (1860), sajangnja para penerus tokoh penting … Lanjutkan membaca “Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

“Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

Achir pekan jang baru lewat (awal mei 2019), Belanda si bekas pendjadjah memperingati 74 tahun pembebasannja dari pendudukan nazi Djerman selama Perang Dunia Kedua. Setiap 4 mei dikenang mereka jang gugur semasa pendudukan dan setiap 5 mei diperingati kapitulasi nazi jang berarti pembebasan negeri kintjir angin dari pendudukan fasisme. Salah satu atjara jang menarik dan sering aku hadiri adalah pembukaan untuk umum rumah2 orang Jahudi atau rumah2 tempat berlangsungnja perlawanan terhadap pendudukan kalangan fasis itu. Atjara itu dinamai “Open Joodse Huizen van Verzet” alias buka rumah Jahudi, rumah perlawanan. Rumah Jahudi adalah rumah2 jang dulu ditempati oleh orang2 Jahudi, salah … Lanjutkan membaca “Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono