“Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87. Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).   Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran … Lanjutkan membaca “Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

“‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem edjaan orde bau bisa dibatja di sini. Perubahan terbesar dalam hidup Vincent van Gogh (1853-1890) diawali oleh usul adiknja, Theo van Gogh (1857-1891). Theolah jang men-dorong2 kakaknja supaja mendjadi seniman perupa. Selandjutnja, dalam hidup Vincent jang serba kekurangan, Theo selalu tampil sebagai adik jang penuh pengertian. Mengapa Theo membiajai hidup kakaknja? Adakah si adik punja intuisi masa depan, atau dia tjuma terdorong oleh tjinta pada kakak? Sebagai anak sulung, Vincent van Gogh dibesarkan dalam keluarga pendeta, bersama lima orang adiknja, dua laki2 dan tiga perempuan. Vincent dan adik2nja dididik dalam norma kelas menengah Belanda abad 19: … Lanjutkan membaca “‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

“La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

Conférence tenue le 12 janvier 2018 lors de la présentation de l’ultime numéro de la revue Le Banian. De nos jours, la presse indonésienne est libre et jouit de bien plus de liberté que son homologue des Philippines, où les journalistes risquent leur vie dans l’exercice de leur travail. Cependant, on a tendance à oublier que cette situation dure depuis moins de vingt-cinq ans. Auparavant, surtout pendant le régime autoritaire de Suharto, la presse indonésienne était considérée comme l’une des plus censurées et des plus corrompues d’Asie du Sud-Est, voire du monde. Ma génération a accédé à la conscience politique … Lanjutkan membaca “La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

“Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

Di negeri jang penduduknja kebanjakan bersepeda seperti Belanda, si bekas pendjadjah itu, penitipan sepeda djelas merupakan fasilitas penting di pelbagai stasiun. Maklum, selain bersepeda jang digunakan di dalam kota, warga Belanda kebanjakan djuga menggunakan kereta api kalau bepergian ke kota lain. Untuk berangkat ke luar kota, seseorang akan bersepeda dulu ke stasiun di kotanja, menitipkan sepeda di stasiun itu, baru kemudian naik kereta api untuk sampai pada kota tudjuan. Tidak djarang pula, ketika tiba di kota tudjuan, jang bersangkutan kemudian bersepeda lagi ke tempat tudjuannja. Waktu dulu masih bekerdja di Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi), aku selalu bersepeda ke stasiun … Lanjutkan membaca “Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

“Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow lebih demen batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Sopir, toilet, trotoir dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap djangan kaget: keempatnja sekedar tjontoh kata2 Prantjis jang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua jang di tengah masih mirip aslinja, orang Prantjis mengedja keduanja sebagai toilettes dan trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua jang lain sudah kita ubah dalam edjaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Prantjis adalah chauffeur dan mereka mengedja bangkrut sebagai banqueroute. Bagaimana mungkin kita bisa menjerap bahasa ini? Bukankah —lain dari Indochine (sekarang Vietnam, Laos atau Kambodja)— kita tidak pernah didjadjah Prantjis? … Lanjutkan membaca “Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

“Dari Salatiga ke Amsterdam: perdjalanan sastra Joss Wibisono” oleh Ibarruri Sudharsono

Rumah tusuk sate di Amsterdam selatan merupakan djudul sebuah buku ukuran saku (149 halaman) jang ditulis oleh Joss Wibisono dan diterbitkan oleh Penerbit OAK, Djogjakarta. Buku tersebut berisi lima tjerpen jang ditulis dalam kurun waktu antara djuni 2011 – djanuari 2017 dan pernah diterbitkan di suratkabar Suara Merdeka (2012), Koran Tempo (2016), atau diumumkan oleh LKIP – Lembaga Kebudajaan Indo Progress (2013, 2014). Teman2 Joss kemudian mengandjurkan agar tjerpen2nja dibukukan. Joss setudju dan menjerahkan enam tulisan, tapi rupanja jang diambil hanja lima, dan jang satu, jang agak pandjang, diterbitkan terpisah sebagai novel pendek atau tjerita pandjang dengan djudul Nai Kai: … Lanjutkan membaca “Dari Salatiga ke Amsterdam: perdjalanan sastra Joss Wibisono” oleh Ibarruri Sudharsono

”Nasionalisme bahasa: dari Soempah Pemoeda sampai keminggris” wawantjara dengen Joss Wibisono

Dalam rangka Soempah Pemoeda, situs Terakota.id mewawantjaraiku. Semula mereka kira dan begitu djuga aku kira, wawantjara itu pendek sadja. Tapi berhubung aku sedang mikir2 tentang bahasa Indonesia, dan punja gagasan jang lebih chusus lagi tentang nasionalisme bahasa, maka djawabanku tidak pendek, bahkan super pandjang. Ada beberapa sjarat jang aku adjuken kepada pengelola situs, sebelum mendjawab pertanjaan mereka. Misalnja harap djawabanku tidak dipotong, tapi dimuat setjara berseri. Kemudian edjaan Suwandi jang aku gunaken harap tidak diganti dengan edjaan Van Ophuysen atau edjaan jang sekarang berlaku, apapun nama itu edjaan. Baru setelah mereka setudju pada sjarat2 jang kukemukakan, djawaban mulai kutulis. Pandjangnja … Lanjutkan membaca ”Nasionalisme bahasa: dari Soempah Pemoeda sampai keminggris” wawantjara dengen Joss Wibisono