“Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang bahasa dan kuasa Joss Wibisono Tanda Baca, 2020 xiv+142 halaman Versi edjaan zaman kini bisa dibatja dengan ngeklik ini. Ben Anderson, sang sardjana ahli Indonesia dan Asia Tenggara itu, biasanja dikenal di Indonesia karena tiga karja penting. Pertama tentu sadja karena Cornell Paper jang membahas soal konflik internal di dalam Angkatan Darat dan kaitannja dengan gerakan 30 September 1965. Kedua, karena disertasinja jang menulis peran pemuda dan pemudaisme dalam revolusi Indonesia. Dan karena buku teoretisnja soal asal-usul rasa kebangsaan: Imagined Communities. Ketiga karja besar ini setjara garis besar adalah karja ilmu politik jang membahas … Lanjutkan membaca “Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

“In memoriam Arief Budiman” oleh Joss Wibisono

Hari kemis 23 april itu guruku Arief Budiman tutup usia dan dimakamkan di Salatiga, kota di lereng gunung Merbabu tempat aku mengenalnja pada 1981 begitu dia tiba dari Amerika Serikat. Dua mata kuliah jang diasuh pak Arief, begitu aku menjapanja, sempat kuambil, jaitu “Sosiologi pembangunan” (dapat A) dan “Lingkungan dunia usaha Indonesia” (dapat A djuga). Tapi dia bukan sekadar guru, karena berkat dia aku bisa menulis dan tulisanku diumumkan oleh pelbagai media massa. Semula media massa tanah air, dan sekarang djuga media massa luar negeri. Foto terachirku dengan pak Arief dan bu Leila, september 2012 Ada tiga hal jang kukenang … Lanjutkan membaca “In memoriam Arief Budiman” oleh Joss Wibisono

“Perlawanan keluarga Soejono” oleh Joss Wibisono

Versi edjaan orde bau dapat dibatja dengen mengklik ini Sebelum peringatan 75 tahun proklamasi kemerdekaan agustus mendatang, awal 2020 ini Eropa sudah terlebih dahulu memperingati tiga perempat abad pembebasannja dari tjengkeraman nazi-Djerman. Walau begitu tidaklah berarti bahwa peringatan ini tidak mengikutsertakan orang Indonesia. Dalam perlawanan Belanda terhadap pendudukan nazi-Djerman selama Perang Dunia Kedua, misalnja, orang Indonesia djuga punja peran. Itulah sebabnja achir djanuari lalu pada dua tempat di Leiden berlangsung peringatan seabad Irawan Soejono, sekaligus mengenang 75 tahun gugurnja mahasiswa Indonesia ini akibat peluru seorang pradjurit Wehrmacht, pasukan pendudukan nazi. Nama Irawan Soejono sudah mulai tersiar di Belanda sedjak tanggal … Lanjutkan membaca “Perlawanan keluarga Soejono” oleh Joss Wibisono

“70 jaar Soevereiniteitsoverdracht” door Joss Wibisono

Voordracht bij herdenking van 70 jaar Soevereniteitsoverdracht, Nationaal Archief, Den Haag 15 december 2019 Precies 10 jaar geleden, ter gelegenheid van de 60-jarige herdenking van de soevereiniteitsoverdracht, hadden we bij de Indonesische afdeling van de Wereldomroep een aantal speciale uitzendingen. Een daarvan was een interactieve uitzending met onze partnerstations in Indonesië waarin luisteraars van die stations de gelegenheid kregen om vragen te stellen, en wijlen Rosihan Anwar was de studiogast. Deze doorgewinterde Indonesische journalist deed in 1949 verslag van de ronde tafel conferentie in de Ridderzaal en speciaal voor deze gelegenheid hadden we hem in Hilversum uitgenodigd. Als regisseur van … Lanjutkan membaca “70 jaar Soevereiniteitsoverdracht” door Joss Wibisono

“Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

Setelah kuburan djenderal besar Francisco Franco dibongkar kemis 24 oktober, maka keturunan para korban diktator militer Spanjol ini beralih menuding dua gembong tentara lain yang masih enak2an nongkrong di dalem kuburan terhormat. Maklum keluarga para korban itu masih banjak jang tergeletak dalam kuburan massal, tak tahu di mana pastinja. Mereka masih harus digali dan diindentifikasi melalui udji DNA. Tentu keturunan korban ini tidak rela melihat para pembunuh jang terus enak2an nongkrong di dalem geredja alias kuburan terhormat, sementara nenek mojang mereka bergeletakan di kuburan massal, tidak dalam makam jang djelas dan djuga tidak teridentifikasi. Salah satu kontroverse itu menjangkut makam … Lanjutkan membaca “Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

“30 tahun bobolnja tembok Berlin” oleh Joss Wibisono

Ini hari, 9 november 2019, tepat 30 tahun silam tembok Berlin bobol. Aku sempat menjaksiken peristiwa bersedjarah ini dengen mata kepala sendiri. Tapi sebelum nulis lebih landjut perlu ditegeskan bahwa aku tidak berada di Berlin tepat pada tanggal 9 november 1989 itu. Aku baru ke sana 10 hari sesudahnja, tepatnja tanggal 18 november 1989, seperti bisa dilihat pada visa DDR (Djerman Timur) jang itu wektu aku peroleh dan tertera pada salah satu paspor lamaku. Tapi tidak ke Berlin azha, 30 tahun silam aku djuga ke Leipzig. Tentu azha aku mengirim laporan untuk Radio Nederland, tempatku bekerdja waktu itu, sebagai repoter … Lanjutkan membaca “30 tahun bobolnja tembok Berlin” oleh Joss Wibisono

“Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit lain nongol di mingguan Tempo, edisi 21 djuli 2019, halaman 38. Pada abad 20 dulu, orang masih menggunakan arbei untuk menjebut buah merah tanaman perdu jang tumbuh di daerah pegunungan beriklim sedjuk. Sekarang kata ini sudah terlupakan, orang menjebut buah itu stroberi (dari kata Inggris strawberry). Abad lalu orang djuga masih menggunakan korting untuk menjebut potongan harga, sekarang digunakan diskon (dari kata Inggris discount). Dulu orang masih menggunakan persekot atau uang muka, sekarang ramai2 mereka gunakan DP (singkatan Inggris down payment). Maka di sini kita saksikan betapa serapan bahasa Inggris telah mendesak serapan bahasa Belanda. Arbei berasal … Lanjutkan membaca “Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono