“Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

Sekedar pengantar: pembebasan belum kemerdekaan Indonesia Penulis artikel ini, Mimi Soetiasmi Soejono, adalah kakak Irawan Soejono, mahasiswa Indonesia jang pada 13 djanuari 1945 ditembak mati oleh Wehrmacht, tentara pendudukan Djerman jang pada hari sial itu melakukan razia di Leiden. Irawan jang pada saat berlangsung razia sedang mengangkut mesin stensil dengan sepeda, sudah berupaja menghindar (sebelumnja sudah dua kali dia lolos dari razia), tetapi pasukan Werhmacht jang awas langsung melihatnja dan segera pula menembaknja. Seperti Irawan, Mimi djuga aktif terlibat dalam verzet, perlawanan bawah tanah terhadap nazi Djerman jang waktu itu menduduki Belanda. Dia berperan sebagai kurir, dengan tugas menjebarkan selebaran … Lanjutkan membaca “Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

“Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

Pelbagai kenangan jang muntjul di djedjaring sosial meratapi kepergian pater Adolf Heuken (lafal ‘hoiken’) jang berpulang 25 djuli itu kebanjakan bersifat pribadi. Mereka jang mengenang almarhum kebanjakan kenal sang rohaniwan dan kebanjakan djuga memudji keahliannja dalam bidang sedjarah Batavia-Djakarta. Ada jang menulis bagaimana almarhum begitu disiplin mendjaga koleksinja, sehingga koleksi itu tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Ada pula jang menulis sesudah mewawantjarai pater keturunan Djerman ini, segera dia tahu betapa sang rohaniwan begitu prihatin dengan pengetahuan sedjarah generasi muda Djakarta atas kota mereka. Karena tidak sadar nilai sedjarah itu, demikian sang pater melantunkan kechawatirannja, ketika besar mereka akan dengan gampang … Lanjutkan membaca “Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

“Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

Inilah djawabanku atas kolom Udar Rasa Don Sabdono, eh Bre Redana, di harian Kompas, edisi 21 djuli 2019 Mengapa kita, orang Indonesia, begitu menggetoli Milan Kundera, penulis Ceko jang pada 1975 mengungsi ke Paris? Lebih dari itu mengapa tak pernah sekalipun kita sebut nama Václav Havel? Sebenarnja Kundera tak pernah bisa dilepaskan dari Havel, berbitjara tentang Kundera, seseorang harus pula bitjara tentang Havel. Klow tjuman tentang Kundera sadja (apalagi lantaran utjapannja soal ‘melawan lupa’) maka orang itu tjuman bitjara tentang satu hal jang kebetulan tjotjok baginja. Di luar negeri, keduanja, Kundera dan Havel setjara bersama, selalu disebut dalam satu tarikan … Lanjutkan membaca “Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

“Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

Achir pekan jang baru lewat (awal mei 2019), Belanda si bekas pendjadjah memperingati 74 tahun pembebasannja dari pendudukan nazi Djerman selama Perang Dunia Kedua. Setiap 4 mei dikenang mereka jang gugur semasa pendudukan dan setiap 5 mei diperingati kapitulasi nazi jang berarti pembebasan negeri kintjir angin dari pendudukan fasisme. Salah satu atjara jang menarik dan sering aku hadiri adalah pembukaan untuk umum rumah2 orang Jahudi atau rumah2 tempat berlangsungnja perlawanan terhadap pendudukan kalangan fasis itu. Atjara itu dinamai “Open Joodse Huizen van Verzet” alias buka rumah Jahudi, rumah perlawanan. Rumah Jahudi adalah rumah2 jang dulu ditempati oleh orang2 Jahudi, salah … Lanjutkan membaca “Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

“Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu jang lebih pendekan telah nongol di Tirto.id Selain nama pulau2, gunung2 dan sungai2 Nusantara, djalan2 di kota2 Belanda si bekas pendjadjah djuga ada jang menggunakan nama pahlawan2 kita. Djadi, selain Javastraat atau Sumatrastraat, djuga ada Brantasgracht dan Semerustraat, tapi jang terpenting ada pula R.A. Kartinistraat, Sutan Sjahrirstraat atau Mohamed Hattastraat. Harap diingat: straat (djalan), gracht (kanal), singel (parit) atau plein (alun2/plaza) selalu harus digabung dengan nama orang, atau pulau, atau sungai jang merupaken namanja. Pantang dipisah. Begitulah tata bahasa Belanda jang pasti berbeda dengen tata bahasa Inggris jang memang memisahkan nama dari djalan. Di sini harap menulis setjara … Lanjutkan membaca “Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono