“Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

Tiga tahun berlalu sedjak dikau menghadep sang Chalik, mengachiri 25 tahun persahabatan kita. Tiga tahun atau sekitar seribu hari merupaken peringatan terachir jang dilakuken orang Djawa untuk mengenang mereka jang ‘berangkat duluan’ (mestinja peringatan seribu hari kepergianmu sudah harus dilakukan awal september lalu). Sebelum itu orang Djawa sudah harus empat kali mengenang handai tolan jang berpulang: pada hari ketiga, ketudjuh, keempatpuluh dan keseratus kepergiannja. Tradisi Djawa ini sengadja kusebut, walaupun sekarang kuikuti langkahmu bertamasja ke utara, ke negerinja Lolo José. Di achir hidup memang perhatianmu lebih terpusat ke Filipina, padahal kau sudah boleh dateng lagi ke tanah air, tjinta pertamamu. … Lanjutkan membaca “Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

“Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

Terjemahan ini berdasarkan versi bahasa Inggris jang bisa dirudjuk di sini. Eka Kurniawan (1975, Tasikmalaja, Djawa Barat) adalah penulis jang, dalam fiksi menarik, mendjeladjahi komplexnja sedjarah mutachir Indonesia. Menulis skripsi sardjana filsafat tentang penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, Kurniawan meninggalkan realisme sosialis dan mengembangkan sendiri gaja menulis inovatif untuk menggapai kenjataan jang peka dan sering traumatis sehingga mendjadi relevan dan bisa dipahami pembatja luas. Ia menggabungkan unsur2 pelbagai aliran sastra dan pengaruh, termasuk tjerita rakjat, sedjarah lisan, pewajangan, pentjak silat dan komik horor serta realisme magis, untuk menggambarkan pengalaman orang jang njata dan ber-lapis2. Dengan ketjerdasan sedjarah mendalam, penuturan … Lanjutkan membaca “Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

“‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

Dibatjaken di Leiden pada sabtu sore 29 september 2018 wektu pengluntjuran Wesel Pos karja Ratih Kumala Terus terang jach, saja merasa gamang ketika mulai membatja Wesel Pos, novel pendek Ratih Kumala ini. Bukan karena pendeknja, tapi karena tjeritanja. Seorang gadis dari Purwodadi, kota ketjil di wilajah timur Djawa Tengah, datang ke Djakarta untuk pertama kalinja dalam rangka mendjenguk kakaknja, padahal sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan si kakak. Pasti ini sebuah perdjalanan untuk menemui nasib malang, gadis ini pasti akan ditimpa malapetaka. Demikian praduga jang segera meliputi saja. Sampul depan novel pendek Wesel Pos Saja bukan seorang pembatja jang … Lanjutkan membaca “‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

“Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

Versi edjaan orde bau bisa dibatja dengan mengklik tautan ini. Pada 12 djuli 1938, M.H. Thamrin, atas nama fraksi nasonalis dalam de Volksraad, parlemen Hindia Belanda jang anggotanja ditundjuk (bukan dipilih) membuat kedjutan. Mulai hari itu, demikian tandasnja, dalam setiap sidang Volksraad (djadi bukan dalam sidang pandangan umum belaka) fraksinja hanja akan menggunakan bahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia. Thamrin berniat menindaklandjuti keputusan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, pada djuni 1938, jang bertekad memperluas penggunaan bahasa Melajoe di pelbagai kesempatan umum. Bahasa Melajoe, menurut Thamrin, harus sebanjak mungkin digunakan, supaja ditingkatkan mutunja dan terangkat dari keterpurukan. Dengan menggunakan bahasa … Lanjutkan membaca “Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

“Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan tapi tetep dalam edjaan Suwandi telah nongol di Tirto.id Ada satu perkembangan dalam bahasa Indonesia jang belakangan begitu meluas sehingga merisaukan dan membuat saja risi. Perkembangan itu adalah semakin galaknja pentjampuradukan bahasa nasional dengan bahasa Inggris. Harus diakui ini bukan hal baru, sudah sedjak sekitar tahun 1980an orang suka sekali melakukannja. Waktu itu djumlah mereka masih sedikit dan setiap kali menggunakan kata2 atau istilah2 bahasa Inggris jang bersangkutan masih merasa perlu untuk menerdjemahkannja ke dalam bahasa Indonesia. Belakangan kalangan jang selalu saja edjek sebagai keminggris (bahasa Djawa artinja ke-inggris2an) ini, sudah semakin banjak dan berbeda dengan pendahulu mereka … Lanjutkan membaca “Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

“Presidensialisme dan dwi partai” oleh Pipit R. Kartawidjaja

Di tanah Nuswantoro ada sematjem super kejakinan, bahwa presidensialisme itu klopnja kalow menerapkan sistem dwi partai. Kerap didjadikan tjontoh adalah tanah impralis Amerika Serikat. “Pengalaman dari beberapa negara jang menerapken sistem dua partai jang dipadukan dengan sistem presidensial itu terbukti berhasil membentuk pemerintahan jang efektif dan stabil, seperti jang dipraktekkan Amerika Serikat. Sebaliknja sistem presidensial terbukti gagal dipraktekkan di negara2 dengan sistem multikepartaian”, “Kata Pengantar” Anies Baswedan dalam Hanta Yuda AR, Presidensialisme setengah hati: dari dilema ke kompromi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010, hal. xxvi. Segudang pakar tanah Nuswantoropun berpendapat ra-berbeda. Tjara ke sana, menurut Amien Rais: “penjederhanaan partai … Lanjutkan membaca “Presidensialisme dan dwi partai” oleh Pipit R. Kartawidjaja

“Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

Dengan 77 persen perolehan suara, kembali terpilihnja Wladimir Putin pada ahad 18 maret sebagai presiden Rusia memang luar binasa. Satu kenaikan dibandingkan tahun 2012 (64,4 persen). Dalam dua kali pilpres sebelumnja, raupan suaranja pun setara: tahun 2000 (52,9 persen) dan tahun 2004 (71,3 persen). Antara tahun 2008 s/d 2012, harus istirahat, sebab setelah dua kali berturut-turut mresiden, menurut ketentuannja mesti langsir dulu. Bukan tjuma soal kemenangan Putin nan tak telak itu, tapi bagaimana Putin memerintah Rusia tampaknja menarik perhatian. Sampai2 Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon „berkitjau soal Indonesia butuh pemimpin seperti presiden Rusia Vladimir Putin, bukan jang banjak … Lanjutkan membaca “Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja