” Bagaimana mesti menamai negara dan wilajah asing?” oleh Joss Wibisono

Ini adalah pengembangan salah satu kolom bahasa jang pernah dimuat oleh mingguan Tempo. Bahasa Indonesia memiliki pelbagai tjara untuk menamai negara2 lain atau wilajah2 luar negeri, tidak ada satu tjara jang tegas dan menjeluruh. Di antara pelbagai tjara itu ternjata ada dua kutub jang berlawanan: pertama, dengan penuh kebanggaan menamai negara lain dan wilajah luar negeri sesuai bahasa kita sendiri. Kedua, abai, malas dan tanpa kebanggaan, bisanja tjuma membebek tjara penamaan bahasa lain, terutama bahasa Inggris. Ini bukan tjuman kelakuan orang di djedjaring sosial; koran dengan tiras tebesar, bahkan Kamus Besar Bahasa Indonesiapun melakukan perbuatan tertjela itu. Di antara dua … Lanjutkan membaca ” Bagaimana mesti menamai negara dan wilajah asing?” oleh Joss Wibisono

“G30S dan akal bulus orde bau: dari Malang lewat Salatiga sampai Amsterdam” oleh Joss Wibisono

LAHIR DI PENGHUDJUNG dekade 1950an, saja tidak begitu sadar akan prahara 1965-1966. Baru belakangan saja batja bahwa di Malang, kota kelahiran dan tempat saja dibesarkan, djuga terdjadi pembunuhan massal. Sungai Brantas, misalnja, dikabarkan sempat merah karena darah dan tak djarang pula terlihat majat2 mengapung. Tapi itu semua tak pernah saja saksikan. Selain karena rumah kami djauh dari sungai jang membelah kota Malang itu, pasti orang tua djuga menentukan sekali apa jang boleh dilihat oleh anak2 mereka. Walau begitu, karena hal ketjil2, saja sadar djuga bahwa saat itu saja hidup di zaman jang tidak normal. Misalnja seorang paman, adik ibu, selalu … Lanjutkan membaca “G30S dan akal bulus orde bau: dari Malang lewat Salatiga sampai Amsterdam” oleh Joss Wibisono

“Merdeka lebih dulu” oleh Joss Wibisono

17 Agustus lebih dahulu bermakna bagi Soewardi Suryaningrat ketimbang bagi bangsa Indonesia setjara keseluruhan. Kok bisa? Kenapa? Karena pada tanggal 17 agustus 1917 menteri koloni Belanda Thomas Pleyte memutuskan untuk mentjabut keputusan pengasingan Soewardi jang dikeluarkan oleh gubernur djenderal Alexander Indenburg. Pada tahun 1913, menggunaken apa jang disebut »exorbitante rechten« (hak2 luar biasa), Idenburg mengasingkan Soewardi ke Bangka. Ini menjusul insiden “Als ik eens Nederlander was” artikel sinis Soewardi jang mengedjek penguasa kolonial ketika berniat mengadakan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda (dari pendjadjahan Napoléon) di hadapan rakjat Indonesia jang mereka djadjah. Soewardi sendiri pada tanggal 17 agustus 1917 itu berada … Lanjutkan membaca “Merdeka lebih dulu” oleh Joss Wibisono

“Seminar berkelas: debat terbuka murid dengan guru” oleh Joss Wibisono dan Arief Budiman

Dalam rangka mengenang 100 hari kepergian Arief Budiman jang kira2 berlangsung hari2 ini, berikut sebuah debat terbuka jang pernah aku lakukan dengan guru terkasih. Debat ini berlangsung dalam dua edisi Gita Kampus, medium internal Universitas Kristen Satya Watjana (UKSW), jaitu edisi 19 dan edisi 20, kira2 terbit pada achir tahun 1986, 34 tahun silam. Dalam debat ini kukritik penjelenggaraan Seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan untuk itu aku gunakan istilah2 marxisme misalnja dengan menundjuk kelas. Di luar dugaan, gajung ternjata bersambut, dalam mendjawab kritikku guru terkasih djuga menggunakan istilah2 marxisme. Mumpung soal komunisme dan masjarakat berkelas sedang ramai2nja djadi pembitjaraan … Lanjutkan membaca “Seminar berkelas: debat terbuka murid dengan guru” oleh Joss Wibisono dan Arief Budiman

“Di balik bahasa ada kuasa” oleh Rony K. Pratama

Versi terdahulu dan dalem EYD bisa dibatja dengen mengklik ini. Bahasa selalu bersifat politis. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, sebagaimana dipahami djamak orang, melainkan djuga instrumen dan medium kekuasaan. Tjorak kekuasaan dalam bahasa salah satunja ditandai oleh sistem edjaan. Sebuah pendisiplinan jang subtil di tengah keanekaragaman ekspresi berbahasa masjarakat. Joss Wibisono dalam buku terbarunja bertadjuk Maksud politiek djahat (2020) setjara lugas menguraikan kedudukan bahasa dan kekuasaan di Indonesia. Kritik tadjamnja terhadap pengunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) membongkar praktek diskursif rezim Soeharto selama tiga dekade. Rezim otoriter pada semua lini kehidupan masjarakat Indonesia waktu itu ternjata menjembunjikan “maksud jahat” di balik … Lanjutkan membaca “Di balik bahasa ada kuasa” oleh Rony K. Pratama

“Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang bahasa dan kuasa Joss Wibisono Tanda Baca, 2020 xiv+142 halaman Versi edjaan zaman kini bisa dibatja dengan ngeklik ini. Ben Anderson, sang sardjana ahli Indonesia dan Asia Tenggara itu, biasanja dikenal di Indonesia karena tiga karja penting. Pertama tentu sadja karena Cornell Paper jang membahas soal konflik internal di dalam Angkatan Darat dan kaitannja dengan gerakan 30 September 1965. Kedua, karena disertasinja jang menulis peran pemuda dan pemudaisme dalam revolusi Indonesia. Dan karena buku teoretisnja soal asal-usul rasa kebangsaan: Imagined Communities. Ketiga karja besar ini setjara garis besar adalah karja ilmu politik jang membahas … Lanjutkan membaca “Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

“In memoriam Arief Budiman” oleh Joss Wibisono

Hari kemis 23 april itu guruku Arief Budiman tutup usia dan dimakamkan di Salatiga, kota di lereng gunung Merbabu tempat aku mengenalnja pada 1981 begitu dia tiba dari Amerika Serikat. Dua mata kuliah jang diasuh pak Arief, begitu aku menjapanja, sempat kuambil, jaitu “Sosiologi pembangunan” (dapat A) dan “Lingkungan dunia usaha Indonesia” (dapat A djuga). Tapi dia bukan sekadar guru, karena berkat dia aku bisa menulis dan tulisanku diumumkan oleh pelbagai media massa. Semula media massa tanah air, dan sekarang djuga media massa luar negeri. Foto terachirku dengan pak Arief dan bu Leila, september 2012 Ada tiga hal jang kukenang … Lanjutkan membaca “In memoriam Arief Budiman” oleh Joss Wibisono

“Perlawanan keluarga Soejono” oleh Joss Wibisono

Versi edjaan orde bau dapat dibatja dengen mengklik ini Sebelum peringatan 75 tahun proklamasi kemerdekaan agustus mendatang, awal 2020 ini Eropa sudah terlebih dahulu memperingati tiga perempat abad pembebasannja dari tjengkeraman nazi-Djerman. Walau begitu tidaklah berarti bahwa peringatan ini tidak mengikutsertakan orang Indonesia. Dalam perlawanan Belanda terhadap pendudukan nazi-Djerman selama Perang Dunia Kedua, misalnja, orang Indonesia djuga punja peran. Itulah sebabnja achir djanuari lalu pada dua tempat di Leiden berlangsung peringatan seabad Irawan Soejono, sekaligus mengenang 75 tahun gugurnja mahasiswa Indonesia ini akibat peluru seorang pradjurit Wehrmacht, pasukan pendudukan nazi. Nama Irawan Soejono sudah mulai tersiar di Belanda sedjak tanggal … Lanjutkan membaca “Perlawanan keluarga Soejono” oleh Joss Wibisono

“Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

Mendiang Benedict Anderson (1936-2015) telah menerdjemahkan beberapa karja sastra Djawa dan Indonesia ke dalem bahasa Inggris.     Sastra Indonesia 1. Idrus “Surabaja”. 2. Prijana Winduwinata “M. M. M. dan lain2 Tjerita Binatang Modern”. 3. Pramoedya Ananta Toer “Dendam”. 4. Pramoedya Ananta Toer “Njonja Dokterhewan Suharko”. 5. Pramoedya Ananta Toer “Perburuan dan Keluarga Gerilja” 6. Eka Kurniawan “Corat-coret di Toilet” 7. Eka Kurniawan “Jimat Séro” Sastra Djawa 1. Suluk Gatholotjo (Bagian 1) 2. Suluk Gatholotjo (Bagian 2) Selain karja2 di atas, Anderson djuga masih menerdjemahkan tjerpen karja Achdiat Kartamihardja berdjudul “Sensasi diatas pohon kelapa” jang dimuat dalam kumpulan tjerpen Asia … Lanjutkan membaca “Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

“Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

Setelah kuburan djenderal besar Francisco Franco dibongkar kemis 24 oktober, maka keturunan para korban diktator militer Spanjol ini beralih menuding dua gembong tentara lain yang masih enak2an nongkrong di dalem kuburan terhormat. Maklum keluarga para korban itu masih banjak jang tergeletak dalam kuburan massal, tak tahu di mana pastinja. Mereka masih harus digali dan diindentifikasi melalui udji DNA. Tentu keturunan korban ini tidak rela melihat para pembunuh jang terus enak2an nongkrong di dalem geredja alias kuburan terhormat, sementara nenek mojang mereka bergeletakan di kuburan massal, tidak dalam makam jang djelas dan djuga tidak teridentifikasi. Salah satu kontroverse itu menjangkut makam … Lanjutkan membaca “Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono