“Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow lebih demen batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Sopir, toilet, trotoir dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap djangan kaget: keempatnja sekedar tjontoh kata2 Prantjis jang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua jang di tengah masih mirip aslinja, orang Prantjis mengedja keduanja sebagai toilettes dan trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua jang lain sudah kita ubah dalam edjaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Prantjis adalah chauffeur dan mereka mengedja bangkrut sebagai banqueroute. Bagaimana mungkin kita bisa menjerap bahasa ini? Bukankah —lain dari Indochine (sekarang Vietnam, Laos atau Kambodja)— kita tidak pernah didjadjah Prantjis? … Lanjutkan membaca “Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

“Dari Salatiga ke Amsterdam: perdjalanan sastra Joss Wibisono” oleh Ibarruri Sudharsono

Rumah tusuk sate di Amsterdam selatan merupakan djudul sebuah buku ukuran saku (149 halaman) jang ditulis oleh Joss Wibisono dan diterbitkan oleh Penerbit OAK, Djogjakarta. Buku tersebut berisi lima tjerpen jang ditulis dalam kurun waktu antara djuni 2011 – djanuari 2017 dan pernah diterbitkan di suratkabar Suara Merdeka (2012), Koran Tempo (2016), atau diumumkan oleh LKIP – Lembaga Kebudajaan Indo Progress (2013, 2014). Teman2 Joss kemudian mengandjurkan agar tjerpen2nja dibukukan. Joss setudju dan menjerahkan enam tulisan, tapi rupanja jang diambil hanja lima, dan jang satu, jang agak pandjang, diterbitkan terpisah sebagai novel pendek atau tjerita pandjang dengan djudul Nai Kai: … Lanjutkan membaca “Dari Salatiga ke Amsterdam: perdjalanan sastra Joss Wibisono” oleh Ibarruri Sudharsono

“Bahasa Indonesia: pernahkah didjadjah?” oleh Joss Wibisono

Dalam rangka bulan bahasa oktober ini diturunken wawantjara tertulis jang dilakuken oleh Zach Szumer terhadep diriku. Zach adalah orang Australia jang sekarang kajaknja lagi ngendon di Djakarta. Djika dibandingkan dengan banjak negara pasca-kolonial lainnja (misalnja Filipina, Malaysia, Singapura, India) Indonesia djauh lebih sukses dalam menerapkan bahasa nasional jang menjatukan berbagai suku/ras jang memiliki bahasa masing2. Namun demikian, banjak artikel tentang perkembangan bahasa Indonesia jang saja batja berargumen bahwa bahasa Indonesia, dan terutama bahasa Indonesia jang baik dan benar, berada di situasi jang vulnerable/precarious (maaf saja tidak bisa ketemu padanan bahasa Indonesia jang tepat untuk ‘precarious’, menurut temanku repas/rentan tidak tjukup … Lanjutkan membaca “Bahasa Indonesia: pernahkah didjadjah?” oleh Joss Wibisono

“Mempertanjaken peran Indonesia dalem penelitian Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi jang lebih lunak dan tidak terlalu djudes bisa diklik di sini. Keputusan pemerintah Belanda mendanai usulan penelitian terhadap apa jang mereka sebut periode dekolonisasi Indonesia berlatar belakang politik kentel. Ini sangat perlu kita perhatikan karena peneliti Indonesia djuga dilibatkan. Lebih dari itu djuga perlu dengen teges dirumusken apa kepentingan Indonesia ikut serta dalem ini penelitian. Tanpa perumusan kepentingan jang djelas dan teges maka bisa2 kita tjuman akan hanja ikut2an dalam politik dalam negeri si bekas pendjadjah. Sembilan bulan setelah pemerintah Belanda memutuskan mendukungnja, pada tanggal 14 september silam, di Amsterdam, diadakan aftrap alias tendangan awal dalam bentuk pengenalan publik … Lanjutkan membaca “Mempertanjaken peran Indonesia dalem penelitian Belanda” oleh Joss Wibisono

“Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja edjaan orde bau EYD, silahken ngeklik ini. Menerdjemahkan sebuah karja tulis adalah mentjari padanan kata, kalimat atau ungkapan bahasa jang digunakan untuk menuangkan karja itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensjaratkan persamaan jang setaraf, jang berimbang atau jang berbobot sama. Lebih dari itu, penerdjemahan djuga mensjaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terdjemahan jang berhasil akan berhasil pula menerdjemahkan nuansa sebuah karja, apalagi kalau karja itu berbobot sastra. Nuansa inilah jang sulit ditemukan pada terdjemahan Sulastin Sutrisno atas surat2 Kartini. Kartini menulis surat2nja dalam bahasa Belanda, dan mendiang Sulatin Sutrisno, gurubesar filologi Universitas Gadjah Mada, menerdjemahkan … Lanjutkan membaca “Betapa Kartini telah terdjinakkan” oleh Joss Wibisono

“De schaduw van Soeharto” door Joss Wibisono

Geschreven op 20 mei 2008, voor de site van de Wereldomroep n.a.v. het ten val brengen van Soeharto 10 jaar eerder. Tien jaar na zijn val, op 21 mei 1998, kampt Indonesië nog steeds met de erfenis van Soeharto’s regime. Iedereen mag ongehinderd de straat op, zelfs om het aftreden van de huidige president te eisen. Maar de economie wil maar niet op gang komen. Daardoor heeft politieke vrijheid weinig betekenis voor gewone Indonesiërs. Men verlangt zelfs naar de tijd van vóór de crisis van 1997, toen ‘alles nog betaalbaar was.’ Als Soeharto nog leefde, zou hij de staatsinrichting van … Lanjutkan membaca “De schaduw van Soeharto” door Joss Wibisono

“Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono

Penulis India Amitav Ghosh menarik novelnja The Glass Palace dari nominasi Hadiah Sastra Persemakmuran tahun 2001 karena ia menolak ikut “merajakan kebesaran Kekaisaran Britania Raya” (Tempo 24 djuli 2016, halaman 58). Novel tentang penaklukan Burma ini dengan rintji menggambarkan betapa pendjadjahan Inggris telah menelan begitu banjak korban, bukan sadja di Burma tapi djuga di India. Maklum penaklukan Burma berlangsung dari India, negara tetangganya jang pada abad 19 itu sudah terlebih dahulu didjadjah Inggris. “Saja bertemu dengan begitu banjak orang jang menolak kekuasaan Keradjaan Britania Raya,” tutur Ghosh. Ia hanja menjatakan penolakannja bertudjuan untuk menghindari ironi, tapi djelas betapa ia menolak … Lanjutkan membaca “Ketjelakaan dalem sedjarah sastra kita” oleh Joss Wibisono