“‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

Dibatjaken di Leiden pada sabtu sore 29 september 2018 wektu pengluntjuran Wesel Pos karja Ratih Kumala Terus terang jach, saja merasa gamang ketika mulai membatja Wesel Pos, novel pendek Ratih Kumala ini. Bukan karena pendeknja, tapi karena tjeritanja. Seorang gadis dari Purwodadi, kota ketjil di wilajah timur Djawa Tengah, datang ke Djakarta untuk pertama kalinja dalam rangka mendjenguk kakaknja, padahal sudah lama sekali dia tidak berhubungan dengan si kakak. Pasti ini sebuah perdjalanan untuk menemui nasib malang, gadis ini pasti akan ditimpa malapetaka. Demikian praduga jang segera meliputi saja. Sampul depan novel pendek Wesel Pos Saja bukan seorang pembatja jang … Lanjutkan membaca “‘Wesel Pos’ dan keberpihakan Ratih Kumala” oleh Joss Wibisono

“Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

Versi edjaan orde bau bisa dibatja dengan mengklik tautan ini. Pada 12 djuli 1938, M.H. Thamrin, atas nama fraksi nasonalis dalam de Volksraad, parlemen Hindia Belanda jang anggotanja ditundjuk (bukan dipilih) membuat kedjutan. Mulai hari itu, demikian tandasnja, dalam setiap sidang Volksraad (djadi bukan dalam sidang pandangan umum belaka) fraksinja hanja akan menggunakan bahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia. Thamrin berniat menindaklandjuti keputusan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, pada djuni 1938, jang bertekad memperluas penggunaan bahasa Melajoe di pelbagai kesempatan umum. Bahasa Melajoe, menurut Thamrin, harus sebanjak mungkin digunakan, supaja ditingkatkan mutunja dan terangkat dari keterpurukan. Dengan menggunakan bahasa … Lanjutkan membaca “Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

“Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan tapi tetep dalam edjaan Suwandi telah nongol di Tirto.id Ada satu perkembangan dalam bahasa Indonesia jang belakangan begitu meluas sehingga merisaukan dan membuat saja risi. Perkembangan itu adalah semakin galaknja pentjampuradukan bahasa nasional dengan bahasa Inggris. Harus diakui ini bukan hal baru, sudah sedjak sekitar tahun 1980an orang suka sekali melakukannja. Waktu itu djumlah mereka masih sedikit dan setiap kali menggunakan kata2 atau istilah2 bahasa Inggris jang bersangkutan masih merasa perlu untuk menerdjemahkannja ke dalam bahasa Indonesia. Belakangan kalangan jang selalu saja edjek sebagai keminggris (bahasa Djawa artinja ke-inggris2an) ini, sudah semakin banjak dan berbeda dengan pendahulu mereka … Lanjutkan membaca “Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

“Presidensialisme dan dwi partai” oleh Pipit R. Kartawidjaja

Di tanah Nuswantoro ada sematjem super kejakinan, bahwa presidensialisme itu klopnja kalow menerapkan sistem dwi partai. Kerap didjadikan tjontoh adalah tanah impralis Amerika Serikat. “Pengalaman dari beberapa negara jang menerapken sistem dua partai jang dipadukan dengan sistem presidensial itu terbukti berhasil membentuk pemerintahan jang efektif dan stabil, seperti jang dipraktekkan Amerika Serikat. Sebaliknja sistem presidensial terbukti gagal dipraktekkan di negara2 dengan sistem multikepartaian”, “Kata Pengantar” Anies Baswedan dalam Hanta Yuda AR, Presidensialisme setengah hati: dari dilema ke kompromi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010, hal. xxvi. Segudang pakar tanah Nuswantoropun berpendapat ra-berbeda. Tjara ke sana, menurut Amien Rais: “penjederhanaan partai … Lanjutkan membaca “Presidensialisme dan dwi partai” oleh Pipit R. Kartawidjaja

“Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

Dengan 77 persen perolehan suara, kembali terpilihnja Wladimir Putin pada ahad 18 maret sebagai presiden Rusia memang luar binasa. Satu kenaikan dibandingkan tahun 2012 (64,4 persen). Dalam dua kali pilpres sebelumnja, raupan suaranja pun setara: tahun 2000 (52,9 persen) dan tahun 2004 (71,3 persen). Antara tahun 2008 s/d 2012, harus istirahat, sebab setelah dua kali berturut-turut mresiden, menurut ketentuannja mesti langsir dulu. Bukan tjuma soal kemenangan Putin nan tak telak itu, tapi bagaimana Putin memerintah Rusia tampaknja menarik perhatian. Sampai2 Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon „berkitjau soal Indonesia butuh pemimpin seperti presiden Rusia Vladimir Putin, bukan jang banjak … Lanjutkan membaca “Putin dan presiden planga-plongo” oleh Pipit Kartawidjaja

“Surat perintah pembunuhan: antara Hitler dan harto” oleh Joss Wibisono

Artikel terbaru Jess Melvin dalam situs Indonesia at Melbourne menurunkan salah satu intisari terpenting bukunja The Army and the Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder (Tentara dan genosida Indonesia: mekanisme pembunuhan massal). Berikut dua alinea jang merupakan djantung artikel itu: It can now be revealed that Soeharto was much more active in consolidating his position and operating independently of Soekarno. New documentary evidence indicates Soeharto sent telegrams to regional military commanders on the morning of 1 October in his assumed position of Armed Forces commander, declaring that a coup – led by the 30 September Movement – had occurred in … Lanjutkan membaca “Surat perintah pembunuhan: antara Hitler dan harto” oleh Joss Wibisono

“Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87. Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).   Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran … Lanjutkan membaca “Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder