“Kebahagiaan dan kekuatan: Pramoedya Ananta Toer berkorespondensi dengan Wim F. Wertheim” oleh Joss Wibisono

Dalam rangka merajakan seabad Pramoedya Ananta Toer (persis ini hari: anem februari), ingin kuungkap satu penemuan baru jang tampaknja tidak banjak diketahui orang. Sewaktu minggu lalu bersama anggota lain Watch65 kami mendalami arsip W. F. Wertheim jang disimpan oleh IISG (Institut Internasional bagi Sedjarah Sosial), Amsterdam, setjara tak sengadja kubatja larik berikut:

“Jakarta 13 Okt 1986.

Paman tercinta yang budiman

Dua surat Paman, tertanggal 6 September dan 1 Oktober 1986 telah saya terima, dan untuk itu beribu-ribu terima kasih. Setiap kata Paman membawakan pada saya kebahagiaan dan kekuatan, terutama waktu dalam kesepian, merasa seorang diri, dan kehilangan kepercayaan diri.”

Kalimat jang begitu menjentuh ini, menggelitikku, maka terus kubatja surat itu sampai achir. Begitu pula ketika kutemukan surat2 lain. Surat itu dikirim oleh Pramoedya Ananta Toer, penulis Indonesia terkenal, anggota Lekra jang merupakan (salah satu) musuh utama rezim harto daripada orde bau. Pram selalu membuka suratnja dengan “Paman” atau, lebih sering lagi, “Paman WAG yang tercinta”.

Mengapa Pramoedya menjapa Wertheim begitu? Singkatan apakah itu? Nama lengkap Werheim adalah Willem Frederik Wertheim, kalau disingkat WFW, bukan WAG. Djelas itu djuga bukan “wagé”, salah satu hari dalem pekan Djawa. Apa kira2 artinja? Lama-kelamaaan terbuka djuga mataku: WAG adalah singkatan untuk Wageningen, kota ketjil di Belanda tengah tempat tinggal Wim Wertheim, waktu itu.

Djelas Pramoedya merahasiakan nama Wertheim, paling sedikit bertindak hati2 klow2 suratnja itu sampai djatuh ke tangan orang jang memusuhinja. Dan memang musuh Pramoedya waktu itu banjak, bukan sadja rezim orde bau pimpinan orang kuwatnja jang bernama harto, tetapi djuga kalangan Manikebu (minus satu orang jaitu Arief Budiman, dosenku terkasih). Musuh terachir ini tampil beringas tatkala Pramoedya pada 1995 dianugerahi hadiah Magsaysay.

Kembali kepada korespondensi dengan Wertheim: djuga kuketahui bahwa mereka berdua tidak pernah berkirim surat melalui pos biasa. Pramoedya selalu menitipkan surat (atau kiriman lain) kepada orang jang berangkat ke Belanda (dan orang itu ternjata selalu ada sadja); begitu djuga Wim Wertheim: kirimannja (surat maupun barang lain) selalu dititipkan kepada orang jang bertandang ke Indonesia. Tak pelak lagi, langkah ini mereka lakukan untuk mendjamin supaja surat2 itu bener2 sampai ke tempat tudjuan, tanpa disadap oleh kaki-tangan orde bau.

Bagi mereka jang belum tahu siapa Wim Wertheim, dia adalah Indonesianis terkemuka di Belanda pada tahun2 1950an sampai 1980an. Resminja dia mendjabat gurubesar sosiologi non-Barat pada Gemeenteuniversiteit van Amsterdam, sekarang Universiteit van Amsterdam dari 1946 sampai pensiun tahun 1972. Dia termasuk pengkritik awal orde bau dan orang kuwatnja harto. Antara lain menurutnja harto itu dekat dengan obrus Oentoeng, pemimpin G30S, misalnja karena harto hadir pada perkawinan Oentoeng, itulah alesannja kenapa harto tidak ikutan didor, seperti enam perwira tinggi lain pada malam sial tanggal 30 september 1965 itu! Hal2 kritis seperti ini djelas tidak disukai oleh harto. Maka dari itu Wertheim dilarang masuk ke Indonesia. Bersama Benedict Anderson jang menulis Cornell Paper, Wertheim adalah akademikus luar negeri pertama jang kena tjekal rezim orde bau.

Menarik untuk mentjari tahu bagaimana Wertheim bisa mengenal Pramoedya setjara pribadi. Apakah mereka bertemu di Belanda sewaktu Pramoedya datang ke negeri bekas pendjajah pada 1953? Atau mereka bertemu di Indonesia pada paruh kedua dekade 1950an, karena pada zaman itu Wertheim beberapa kali bertandang ke Indonesia. Perlu ditjatat bahwa pada zaman pendjadjahan Belanda Wertheim datang ke Hindia Belanda untuk meniti karier. Berawal sebagai djaksa, achirnja Wertheim mendjabat gurubesar di Rechtshogeschool jang sekarang tidak lain adalah FHUI.

Surat-menjurat kedua tokoh menjangkut banjak topik, dan ada satu topik jang selalu muntjul: suasana politik. Pada surat terlampir jang ditulis tangan oleh Pramoedya dapat dibatja suasana politik achir 1985 jang disebutnja “menjesakkan”. Pada surat itu djuga tertera tiga djudul buku, ketiganja hanja singkatan. JL adalah “Jejak Langkah”, sedangkan SP adalah “Sang Pemula“. Kemudian di bagian achir Pramoedya menjebut RK jang tidak lain adalah “Rumah Kaca”.

Ada satu surat lagi jang lumajan menarik: tentang bahasa. Semula Pramoedya memudji Wertheim jang waktu itu, pada usia di atas 60 tahun, mulai beladjar bahasa Mandarin. Terus begini tulisnja:

“Dalam bahasa, saya tetap merasa minder. Waktu kecil bahasa rumah adalah Jawa. Sudah pada masa itu saya merasa minder terhadap anak-anak dari HIS (Hollandsch-Inlandsche School, sekolah dasar untuk anak2 bumiputra), apalagi ELS (Europeesche Lagere School, sekolah dasar untuk anak2 Eropa). Di samping itu rumah kami berada di sudut kota, di lingkungan petani, pedagang dan tukang kecil, yang sama sekali tidak berbahasa Belanda. Ayah saya menulis dalam Jawa, Melayu, Belanda, Jepang, membaca Inggris dan Arab. Sampai umur 17 tahun saya hanya menulis dalam Belanda, kemudian Indonesia sampai sekarang. Inggris saya pelajari di penjara Bukitduri, dan Jerman di penjara Salemba dan Buru. Prancis gagal saya pelajari di Bukitduri, mungkin karena bukunya tidak cocok: ‘Cours pratique de française’.”

Klow Pramoedya selalu menulis suratnja dalam bahasa Indonesia, maka Wim Wertheim menggunakan dua bahasa dalam menjurati Pramoedya. Ada surat2 jang berbahasa Belanda, ada pula surat2 berbahasa Indonesia.

Korespondensi Pramoedya dengan Wertheim djelas merupakan surat-menjurat dua tokoh jang merupakan musuh besar rezim harto daripada orde bau. Tatkala kini rezim tangan besi itu sudah bubaran, pasti menarik untuk menggali lebih landjut surat-menjurat mereka berdua. Seorang sohib karib orang Belanda berkata, “Pram en Wertheim: ze schrijven geschiedenis, ook aan elkaar”. Maksudnja: “Pramoedya maupun Wertheim sama2 menulis sedjarah, ternjata mereka djuga menulis untuk satu sama lain.”

Dirgahaju seabad Pramoedya!!

Oh ja, hasil lengkap gali arsip pekan silam bisa disimak di sini

Satu pemikiran pada ““Kebahagiaan dan kekuatan: Pramoedya Ananta Toer berkorespondensi dengan Wim F. Wertheim” oleh Joss Wibisono

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.