“Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

Ini resensi fiksi keduwa jang pernah kubikin, sekaligus ini adalah versi keduwa resensi keduwa ini. Versi pertama nongolnja di Tempo. Lantaran buku Iksaka Banu ini begitu menarik dan mingsih ada azha gagasan jang bernongolan, maka aku nulis versi kedua jang nongolnja di Majalah Loka. Berikut ini versi jang sedikit lain, lantaran tida dalem EYD. SEDJARAH INDONESIA SEBAGAI FIKSI: selain Pramoedya Ananta Toer, tidak banjak jang bernjali melakukannja. Salah satu penulis jang sedikit itu adalah Iksaka Banu. Dalam buku pertamanja, kumpulan tjerita pendek berdjudul Semua untuk Hindia Banu menggubah fiksi jang berisi kisah2 mulai dari kedatangan Cornelis de Houtman di kepulauan … Lanjutkan membaca “Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Tien Soeharto: Tumbal, Djimat, Sakti atau Wahju?” Oleh Joss Wibisono

Tjatatan pengantar: Ini tulisan lama, ditulis tak lama setelah Tien Soeharto mendadak meninggal dunia. Versi bahasa Belandanja (dengan djudul “Tien Soeharto: ongeluksvrouw, geluksvrouw en mysterieuze krachtvrouw”) diterbitkan oleh Indonesië en Oost-Timor Feiten en Meningen Jaargang 19 nummer 2/3 juni-augustus 1996, halaman 7. Oh ja, djangan lupa untuk djuga membatja buku saja jang menguraikan tjorak kekuwasaan Soeharto. Klik ini untuk melihat situs bukunja. Dan klik ini untuk pesan buku itu pada penerbitnja. Sudah banjak analisa ditulis tentang meninggalnja Tien Soeharto, termasuk pertanjaan apakah Soeharto akan melandjutkan kekuasaannja ketika tahun depan masa djabatannja jang keenam akan berachir. Semua analisa itu bersifat spekulasi … Lanjutkan membaca “Tien Soeharto: Tumbal, Djimat, Sakti atau Wahju?” Oleh Joss Wibisono

“Politik Bahasa dan Mentalitas VOC” oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini pernah terbit di Mingguan Tempo Edisi 23 Djanuari 2012. Djuga diambiil alih oleh blog rubrik bahasa milik Ivan Lanin Serasa ada sesuatu jang terlewat pada setiap bulan bahasa, sebagai bagian ritual mengenang heroiknja Soempah Pemoeda. Itulah mengadjukan dan berupaja mentjari djawaban terhadap sebuah pertanjaan jang tidak kalah pentingnja: mengapa pendjadjah Belanda dulu tidak mewadjibkan kita berbahasa mereka? Bukankah di Filipina Spanjol memberlakukan bahasa mereka, seperti djuga Portugal di Timor Lorosa’e dan Prantjis di Indochine, sekarang Vietnam, Kambodja dan Laos? Kekuatan kolonial Eropa jaitu Inggris, Prantjis, Spanjol dan Portugal memang selalu membuat wilajah djadjahan mereka djuga berbahasa … Lanjutkan membaca “Politik Bahasa dan Mentalitas VOC” oleh Joss Wibisono

“Malacañang lengang” oleh Joss Wibisono

Sekedar penghantar: ini tulisan dari zaman baheula, pernah diumumkan oleh Koran Kampus Satya Wacana, Salatiga, tahun 1986. Waktu itu kedjatuhan Marcos begitu mempesona. Siapa sadja terpana, termasuk aku. Lebih gawat lagi waktu itu aku begitu berambisi menulis dalem gaja sastra, gaja fiksilah. Itu djelas gagal, kerna djadinja tjuman gado2 matjam begini. Pembitjaraan djarak djauh itu terhenti. Kemudian menjusul djeda jang amat lama. Tentu sadja si lawan bitjara djadi bingung. Ia lalu bertanja, “Mister President, anda masih ada pada pesawat?” Djawaban jang didengar Senator Paul Laxalt amat lirih. “Ja, Senator. Tapi … saja amat, amat ketjewa”. Itulah pertjakapan Ferdinand Marcos pada … Lanjutkan membaca “Malacañang lengang” oleh Joss Wibisono

“Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

Pertama kali diumumkan oleh Gita Kampus XIII/1985, Koran Kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Ketemu Onghokham dan bitjara soal thujul, asjik bukan? “Thujul memang asli Djawa,” Ong memulai. Maksudnja djelas, hanja orang Djawa jang punja thujul. Sajang, ketika tulisan ini diturunkan ke percetakan, Willi Toisuta masih di Djakarta, sehingga nggak sempat ditanjakan apakah di Ambon dan Kupang djuga ada thujul. “Tapi”, Ong berlandjut sambil geleng kepala, “Orang Djawa djangan keburu tepuk dada. Di Barat, di dunia bulé, djuga ada thujul!” Lho? Bener nih Pak Botak? Doktor sedjarah ini mulai memperoleh gugatan. “Ija!” Tegas Ong dalam djawatimuran jang medhok (dia kan … Lanjutkan membaca “Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

“Anomali Sedjarah” oleh Joss Wibisono

Versi awal tulisan ini diumumken oleh harian Sinar Harapan pada edisi 2 Oktober 2004. Sajang link-nja sudah mati, alias enggak bisa ditemuken lagi di situsnja koran itu. ADAKAH orde baunja Djindral Besuar Purnawirawan Hadji Mohamad Soeharto jang resminja sampai 32 tahun begitu mutlak menguasai pentas politik Indonesia punja akar sedjarahnja sendiri di bumi Nusantara? Sebagai kekuatan kanan misalnja? Bukankah orde bau tampil setelah berhasil sampai ke akar2nja mengganjang PKI beserta antèk2nja, jaitu pelbagai gerakan kiri jang lain? Dalam berupaja mendjawab pertanjaan di atas seorang peminat sedjarah Indonesia bisa dipastikan akan menumbuk anomali sedjarah atau sebutan mentèrèngnja: anomali historiografi Indonesia. Betapa … Lanjutkan membaca “Anomali Sedjarah” oleh Joss Wibisono