“Seminar berkelas: debat terbuka murid dengan guru” oleh Joss Wibisono dan Arief Budiman

Dalam rangka mengenang 100 hari kepergian Arief Budiman jang kira2 berlangsung hari2 ini, berikut sebuah debat terbuka jang pernah aku lakukan dengan guru terkasih. Debat ini berlangsung dalam dua edisi Gita Kampus, medium internal Universitas Kristen Satya Watjana (UKSW), jaitu edisi 19 dan edisi 20, kira2 terbit pada achir tahun 1986, 34 tahun silam. Dalam debat ini kukritik penjelenggaraan Seminar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dan untuk itu aku gunakan istilah2 marxisme misalnja dengan menundjuk kelas. Di luar dugaan, gajung ternjata bersambut, dalam mendjawab kritikku guru terkasih djuga menggunakan istilah2 marxisme. Mumpung soal komunisme dan masjarakat berkelas sedang ramai2nja djadi pembitjaraan … Lanjutkan membaca “Seminar berkelas: debat terbuka murid dengan guru” oleh Joss Wibisono dan Arief Budiman

“Di balik bahasa ada kuasa” oleh Rony K. Pratama

Versi terdahulu dan dalem EYD bisa dibatja dengen mengklik ini. Bahasa selalu bersifat politis. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, sebagaimana dipahami djamak orang, melainkan djuga instrumen dan medium kekuasaan. Tjorak kekuasaan dalam bahasa salah satunja ditandai oleh sistem edjaan. Sebuah pendisiplinan jang subtil di tengah keanekaragaman ekspresi berbahasa masjarakat. Joss Wibisono dalam buku terbarunja bertadjuk Maksud politiek djahat (2020) setjara lugas menguraikan kedudukan bahasa dan kekuasaan di Indonesia. Kritik tadjamnja terhadap pengunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) membongkar praktek diskursif rezim Soeharto selama tiga dekade. Rezim otoriter pada semua lini kehidupan masjarakat Indonesia waktu itu ternjata menjembunjikan “maksud jahat” di balik … Lanjutkan membaca “Di balik bahasa ada kuasa” oleh Rony K. Pratama

“Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

Maksud Politik Jahat: Benedict Anderson tentang bahasa dan kuasa Joss Wibisono Tanda Baca, 2020 xiv+142 halaman Versi edjaan zaman kini bisa dibatja dengan ngeklik ini. Ben Anderson, sang sardjana ahli Indonesia dan Asia Tenggara itu, biasanja dikenal di Indonesia karena tiga karja penting. Pertama tentu sadja karena Cornell Paper jang membahas soal konflik internal di dalam Angkatan Darat dan kaitannja dengan gerakan 30 September 1965. Kedua, karena disertasinja jang menulis peran pemuda dan pemudaisme dalam revolusi Indonesia. Dan karena buku teoretisnja soal asal-usul rasa kebangsaan: Imagined Communities. Ketiga karja besar ini setjara garis besar adalah karja ilmu politik jang membahas … Lanjutkan membaca “Meneer Joss Wibisono dan Ben Anderson melawan orde bau” oleh Gde Dwitya

“Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

Mendiang Benedict Anderson (1936-2015) telah menerdjemahkan beberapa karja sastra Djawa dan Indonesia ke dalem bahasa Inggris.     Sastra Indonesia 1. Idrus “Surabaja”. 2. Prijana Winduwinata “M. M. M. dan lain2 Tjerita Binatang Modern”. 3. Pramoedya Ananta Toer “Dendam”. 4. Pramoedya Ananta Toer “Njonja Dokterhewan Suharko”. 5. Pramoedya Ananta Toer “Perburuan dan Keluarga Gerilja” 6. Eka Kurniawan “Corat-coret di Toilet” 7. Eka Kurniawan “Jimat Séro” Sastra Djawa 1. Suluk Gatholotjo (Bagian 1) 2. Suluk Gatholotjo (Bagian 2) Selain karja2 di atas, Anderson djuga masih menerdjemahkan tjerpen karja Achdiat Kartamihardja berdjudul “Sensasi diatas pohon kelapa” jang dimuat dalam kumpulan tjerpen Asia … Lanjutkan membaca “Benedict Anderson sebagai penerdjemah karja sastra” dihimpun oleh Joss Wibisono

“Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit lain nongol di mingguan Tempo, edisi 21 djuli 2019, halaman 38. Pada abad 20 dulu, orang masih menggunakan arbei untuk menjebut buah merah tanaman perdu jang tumbuh di daerah pegunungan beriklim sedjuk. Sekarang kata ini sudah terlupakan, orang menjebut buah itu stroberi (dari kata Inggris strawberry). Abad lalu orang djuga masih menggunakan korting untuk menjebut potongan harga, sekarang digunakan diskon (dari kata Inggris discount). Dulu orang masih menggunakan persekot atau uang muka, sekarang ramai2 mereka gunakan DP (singkatan Inggris down payment). Maka di sini kita saksikan betapa serapan bahasa Inggris telah mendesak serapan bahasa Belanda. Arbei berasal … Lanjutkan membaca “Arbei, korting & persekot” oleh Joss Wibisono

“Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

Inilah djawabanku atas kolom Udar Rasa Don Sabdono, eh Bre Redana, di harian Kompas, edisi 21 djuli 2019 Mengapa kita, orang Indonesia, begitu menggetoli Milan Kundera, penulis Ceko jang pada 1975 mengungsi ke Paris? Lebih dari itu mengapa tak pernah sekalipun kita sebut nama Václav Havel? Sebenarnja Kundera tak pernah bisa dilepaskan dari Havel, berbitjara tentang Kundera, seseorang harus pula bitjara tentang Havel. Klow tjuman tentang Kundera sadja (apalagi lantaran utjapannja soal ‘melawan lupa’) maka orang itu tjuman bitjara tentang satu hal jang kebetulan tjotjok baginja. Di luar negeri, keduanja, Kundera dan Havel setjara bersama, selalu disebut dalam satu tarikan … Lanjutkan membaca “Getol Kundera, tak tahu atau lupa Havel” oleh Joss Wibisono

“Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

Masuk ke bagian bawah tanah museum Stedelijk, Ngamsterdam, aku kaget melihat foto ini.  Ternjata ada hlo foto orang Indonesia di museum Stedelijk. Siapakah dia? Di bawah foto segera terbatja namanja: Roestam Effendi. Ah, inilah orang jang pernah kubatja namanja.   Roestam Effendi dikenal oleh chalajak Indonesia hanja sebagai sastrawan asal Minangkabau angkatan Poedjangga Baroe. Karja sastranja jang sering di-sebut2 (tapi sedikit jang benar2 batja) adalah drama berdjudul ‘Bebasari‘. Jang tidak diketahui orang adalah bahwa Roestam Effendi ini kemudian djuga menempuh pendidikan di Belanda, semula beladjar mendjadi guru bahasa Belanda, kemudian beladjar ekonomi. Lebih dari dari itu Roestam Effendi terlibat dalam … Lanjutkan membaca “Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

“Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

Sebagian besar, kalau tidak semua tokoh dalam tjerpen2 jang terhimpun pada kumpulan berdjudul Teh dan pengchianat ini adalah orang2 Belanda. Tentu sadja Belanda berpendirian madju dan progresif jang bersimpati dengan nasib inlanders terdjadjah. Inilah keistimewaan Iksaka Banu, penulisnja. Keistimewaan ini penting bagi kita jang selalu mengira bahwa dulu itu semua orang Belanda adalah pendjadjah jang berperangai buruk. Bukan itu sadja. Dengan tokoh2 seperti Hendriek Cornelis Adam, Jan van de Vlek atau Simon Vastgebonden, Banu djuga tampil istimewa di hadapan penulis2 Belanda zaman sekarang. Walaupun Multatuli sudah mentjiptakan Saïdjah dan Adinda dalam novel »Max Havelaar« (1860), sajangnja para penerus tokoh penting … Lanjutkan membaca “Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono