“Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

Masuk ke bagian bawah tanah museum Stedelijk, Ngamsterdam, aku kaget melihat foto ini.  Ternjata ada hlo foto orang Indonesia di museum Stedelijk. Siapakah dia? Di bawah foto segera terbatja namanja: Roestam Effendi. Ah, inilah orang jang pernah kubatja namanja.   Roestam Effendi dikenal oleh chalajak Indonesia hanja sebagai sastrawan asal Minangkabau angkatan Poedjangga Baroe. Karja sastranja jang sering di-sebut2 (tapi sedikit jang benar2 batja) adalah drama berdjudul ‘Bebasari‘. Jang tidak diketahui orang adalah bahwa Roestam Effendi ini kemudian djuga menempuh pendidikan di Belanda, semula beladjar mendjadi guru bahasa Belanda, kemudian beladjar ekonomi. Lebih dari dari itu Roestam Effendi terlibat dalam … Lanjutkan membaca “Roestam Effendi: sastrawan dan politikus komunis” oleh Joss Wibisono

“Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

Sebagian besar, kalau tidak semua tokoh dalam tjerpen2 jang terhimpun pada kumpulan berdjudul Teh dan pengchianat ini adalah orang2 Belanda. Tentu sadja Belanda berpendirian madju dan progresif jang bersimpati dengan nasib inlanders terdjadjah. Inilah keistimewaan Iksaka Banu, penulisnja. Keistimewaan ini penting bagi kita jang selalu mengira bahwa dulu itu semua orang Belanda adalah pendjadjah jang berperangai buruk. Bukan itu sadja. Dengan tokoh2 seperti Hendriek Cornelis Adam, Jan van de Vlek atau Simon Vastgebonden, Banu djuga tampil istimewa di hadapan penulis2 Belanda zaman sekarang. Walaupun Multatuli sudah mentjiptakan Saïdjah dan Adinda dalam novel »Max Havelaar« (1860), sajangnja para penerus tokoh penting … Lanjutkan membaca “Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

“Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain nongol Tirto, untuk mengenang tiga tahun kepergian Benedict Anderson. Awal desember 2017, mendjelang dua tahun kepergian Benedict Anderson, kudjeladjahi internet dan kudapati bahwa Noli me tángere, novel pertama José Rizal (1861-1896), bapak bangsa Filipina, ternjata sudah diterdjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Penerdjemahnja bernama A. A. Fokker. Memang tidak ditegaskan dari bahasa apa terdjemahan ini dilakukan: apakah langsung dari bahasa Spanjol atau dari bahasa lain. Menilik beberapa tjatetan kaki dan tjara pelafalan jang tertjantum pada beberapa tjatetan kaki itu, bisalah dipastikan bahwa penerdjemahan itu dilakukan dari bahasa Spanjol, bahasa novel itu ditulis. Sebenernja ini tidaklah begitu mengheranken, maklum … Lanjutkan membaca “Mengagumi kekaguman Benedict Anderson terhadap José Rizal” oleh Joss Wibisono

“Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

Tiga tahun berlalu sedjak dikau menghadep sang Chalik, mengachiri 25 tahun persahabatan kita. Tiga tahun atau sekitar seribu hari merupaken peringatan terachir jang dilakuken orang Djawa untuk mengenang mereka jang ‘berangkat duluan’ (mestinja peringatan seribu hari kepergianmu sudah harus dilakukan awal september lalu). Sebelum itu orang Djawa sudah harus empat kali mengenang handai tolan jang berpulang: pada hari ketiga, ketudjuh, keempatpuluh dan keseratus kepergiannja. Tradisi Djawa ini sengadja kusebut, walaupun sekarang kuikuti langkahmu bertamasja ke utara, ke negerinja Lolo José. Di achir hidup memang perhatianmu lebih terpusat ke Filipina, padahal kau sudah boleh dateng lagi ke tanah air, tjinta pertamamu. … Lanjutkan membaca “Seribu hari kepergian Ben Anderson” oleh Joss Wibisono

“Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”

Terjemahan ini berdasarkan versi bahasa Inggris jang bisa dirudjuk di sini. Eka Kurniawan (1975, Tasikmalaja, Djawa Barat) adalah penulis jang, dalam fiksi menarik, mendjeladjahi komplexnja sedjarah mutachir Indonesia. Menulis skripsi sardjana filsafat tentang penulis besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer, Kurniawan meninggalkan realisme sosialis dan mengembangkan sendiri gaja menulis inovatif untuk menggapai kenjataan jang peka dan sering traumatis sehingga mendjadi relevan dan bisa dipahami pembatja luas. Ia menggabungkan unsur2 pelbagai aliran sastra dan pengaruh, termasuk tjerita rakjat, sedjarah lisan, pewajangan, pentjak silat dan komik horor serta realisme magis, untuk menggambarkan pengalaman orang jang njata dan ber-lapis2. Dengan ketjerdasan sedjarah mendalam, penuturan … Lanjutkan membaca “Laporan komite hadiah pangeran Claus 2018: Eka Kurniawan • Indonesia • sastra”