“Jokowi tabur bunga di Serodja: sepadan dengen siapa?” oleh Joss Wibisono

Berikut sekedar gagasan awal tentang mengapa Indonesia bisanja tjuman mendjiplak Belanda, bekas pendjadjahnja. Berkenaan dengen kundjungan Jokowi ke Timor Leste jang merdeka dari pendudukan ABRI (sekarang TNI), di facebook sempat beredar beberapa foto jang membandingkennja dengen kundjungan Kanselir Djerman Barat Willy Brandt ke ghetto Jahudi di Warsawa pada desember 1970. Pada saat itu, setelah meletakkan karangan bunga, Willy Brandt tiba2 berlutut di depan tugu peringatan pemberontakan ghetto di Warsawa. Apa jang disebut »Warschauer Kniefall« (berlutut di Warsawa) ini tjukup menggemparkan. Bukan hanja lantaran di luwar protokol, tapi terutama djuga lantaran maknanja, jaitu kerendahan hati dan permintaan maaf. Tentu sadja Jokowi … Lanjutkan membaca “Jokowi tabur bunga di Serodja: sepadan dengen siapa?” oleh Joss Wibisono

“Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Kalow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Tudjuh puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda si bekas pendjadjah masih sadja dihantui oleh masa lampau kolonial itu. Lalu apa jang harus dilakukan Indonesia? Diam dan mengamati sadja setiap ada ribut2 di bekas negeri induk? Jakinkah orang Indonesia bahwa dia tidak membebek Belanda: melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an di negeri lain? Beberapa hari mendjelang peringatan 70 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, persisnja pada hari Djumat 14 Agustus lalu, NRC Handelsblad —harian sore Belanda terbitan Amsterdam— datang dengan berita kedjutan. Gebrakan ini berdampak ribut2 dalam pers Belanda dan terus terbawa … Lanjutkan membaca “Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono