“Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

Een eerdere versie van dit artikel is reeds verschenen in Ons Erfdeel No 4 november 2018 Er is één ontwikkeling in de Indonesische taal die zo wijdverbreid is dat het me dwarszit en me ongemakkelijk maakt. Het is de vermenging van de nationale taal met het Engels. Toegegeven, dit is niet nieuw. Sinds de jaren tachtig van de vorige eeuw doen mensen dit al. In die tijd was het aantal mensen dat de taal mixte nog klein en elke keer als er Engelse woorden of termen werden ingevoerd voelden de gebruikers meestal nog een behoefte om het in het Indonesisch … Lanjutkan membaca “Talen in Indonesië: geen vernederlandsing, wel verengelsing” door Joss Wibisono

“Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

Les indonésiens sont extrêmement susceptibles quand il s’agit de leur territoire, mais n’ont jamais éprouvé le besoin de se battre pour leur propre langue. Néanmoins, le néerlandais n’a jamais réussi à s’imposer dans les anciennes indes néerlandaises. Une évolution de la langue indonésienne me chiffonne et me met mal à l’aise, il s’agit du mélange avec l’anglais. Au cours des quarante dernières années, de plus en plus de mots et d’expressions anglais ont été introduits, mais on éprouve moins le besoin de les transposer en indonésien. Les personnes que je qualifie d’anglicisées (keminggris en javanais) sont de plus en plus … Lanjutkan membaca “Pas de néerlandisation, mais une anglicisation: les langues en Indonésie” par Joss Wibisono

“Waarom ik historische fictie schrijf” door Joss Wibisono

Dit is mijn bidrage aan de discussie gepeperd verleden nummer 5. Tijdens mijn vakantie in Burma, in april 2016, vatte ik het plan op om een verhaal te schrijven over een voormalige slaaf (tot slaaf gemaakte moet ik eigenlijk zeggen) die carrière maakt in het 19e eeuwse Amsterdam. Ik was zo gefascineerd door het verhaal van Wange Richard van Bali, dat ik op dat moment las in het boek van Reggie Baay getiteld Daar werd wat gruwelijks verricht, over slavernij in Nederlands-Indië. Ik had net een verhaal klaar over Indonesische studenten in bezet Amsterdam dat ik vanuit Yangoon (de hoofdstad … Lanjutkan membaca “Waarom ik historische fictie schrijf” door Joss Wibisono

“Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan tapi tetep dalam edjaan Suwandi telah nongol di Tirto.id Ada satu perkembangan dalam bahasa Indonesia jang belakangan begitu meluas sehingga merisaukan dan membuat saja risi. Perkembangan itu adalah semakin galaknja pentjampuradukan bahasa nasional dengan bahasa Inggris. Harus diakui ini bukan hal baru, sudah sedjak sekitar tahun 1980an orang suka sekali melakukannja. Waktu itu djumlah mereka masih sedikit dan setiap kali menggunakan kata2 atau istilah2 bahasa Inggris jang bersangkutan masih merasa perlu untuk menerdjemahkannja ke dalam bahasa Indonesia. Belakangan kalangan jang selalu saja edjek sebagai keminggris (bahasa Djawa artinja ke-inggris2an) ini, sudah semakin banjak dan berbeda dengan pendahulu mereka … Lanjutkan membaca “Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

“Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87. Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).   Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran … Lanjutkan membaca “Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

“‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem edjaan orde bau bisa dibatja di sini. Perubahan terbesar dalam hidup Vincent van Gogh (1853-1890) diawali oleh usul adiknja, Theo van Gogh (1857-1891). Theolah jang men-dorong2 kakaknja supaja mendjadi seniman perupa. Selandjutnja, dalam hidup Vincent jang serba kekurangan, Theo selalu tampil sebagai adik jang penuh pengertian. Mengapa Theo membiajai hidup kakaknja? Adakah si adik punja intuisi masa depan, atau dia tjuma terdorong oleh tjinta pada kakak? Sebagai anak sulung, Vincent van Gogh dibesarkan dalam keluarga pendeta, bersama lima orang adiknja, dua laki2 dan tiga perempuan. Vincent dan adik2nja dididik dalam norma kelas menengah Belanda abad 19: … Lanjutkan membaca “‘Broederliefde’: Kehangatan kakak beradik Vincent dan Theo van Gogh” oleh Joss Wibisono

“Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

Di negeri jang penduduknja kebanjakan bersepeda seperti Belanda, si bekas pendjadjah itu, penitipan sepeda djelas merupakan fasilitas penting di pelbagai stasiun. Maklum, selain bersepeda jang digunakan di dalam kota, warga Belanda kebanjakan djuga menggunakan kereta api kalau bepergian ke kota lain. Untuk berangkat ke luar kota, seseorang akan bersepeda dulu ke stasiun di kotanja, menitipkan sepeda di stasiun itu, baru kemudian naik kereta api untuk sampai pada kota tudjuan. Tidak djarang pula, ketika tiba di kota tudjuan, jang bersangkutan kemudian bersepeda lagi ke tempat tudjuannja. Waktu dulu masih bekerdja di Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi), aku selalu bersepeda ke stasiun … Lanjutkan membaca “Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono