“Delapan komponis di penitipan sepeda” oleh Joss Wibisono

Di negeri jang penduduknja kebanjakan bersepeda seperti Belanda, si bekas pendjadjah itu, penitipan sepeda djelas merupakan fasilitas penting di pelbagai stasiun. Maklum, selain bersepeda jang digunakan di dalam kota, warga Belanda kebanjakan djuga menggunakan kereta api kalau bepergian ke kota lain. Untuk berangkat ke luar kota, seseorang akan bersepeda dulu ke stasiun di kotanja, menitipkan sepeda di stasiun itu, baru kemudian naik kereta api untuk sampai pada kota tudjuan. Tidak djarang pula, ketika tiba di kota tudjuan, jang bersangkutan kemudian bersepeda lagi ke tempat tudjuannja. Waktu dulu masih bekerdja di Radio Nederland Siaran Indonesia (Ranesi), aku selalu bersepeda ke stasiun Amsterdam Centraal untuk kemudian, tatkala tiba di stasiun Hilversum, bersepeda lagi ke studio Ranesi jang terletak di pinggir kota Hilversum, sekitar 10 menit bersepeda. Tidak terlalu djauh, djika dibandingkan dengan djalan kaki jang kira2 butuh setengah djam. Untuk djelasnja dulu itu, selain punja sepeda di Amsterdam, aku djuga punja sepeda di Hilversum jang kutitipkan di stasiun.

Setelah tidak lagi bekerdja di Radio Nederland, lantaran ditutup oleh pemerintah Belanda jang itu wektu super sibuk dalem mengadaken penghematan, paling sering tudjuanku kalau pergi ke luar kota adalah Leiden. Maklum di sana ada perpustakaan Asia jang menjimpan banjak buku jang berkaitan dengan tanah air. Sebenernja baru sekitar lima tahun terachir ini aku sering ke Leiden. Sebelum itu di Amsterdam masih ada perpustakaan Institut Tropen, KIT, jang djuga menjimpan banjak buku tentang tanah air. Tapi seperti Ranesi, perpustakaan KIT djuga ditutup akibat getolnja langkah penghematan pemerintah Belanda. Alhasil aku mesti ke Leiden, dan untuk itu aku bersepeda ke stasiun Amsterdam Zuid (selatan), dari situ naik kereta api intercity jang hanja berhenti di stasiun bandara Schiphol sebelum sampai di stasiun Leiden Centraal. Di sana aku tidak punja sepeda, karena memang tidak perlu datang tiap hari; dengan begitu tjukup berdjalan kaki sadja jang butuh waktu sekitar 10 menitan.

Deretan pertama: Mozart•Schubert•Liszt•Bach
Deretan pertama: Mozart•Schubert•Liszt•Bach

Penitipan sepeda di stasiun Amsterdam Zuid, jang ingin kutjeritakan lebih landjut, sekarang mengalami perubahan jang mentjengangken. Dulu di stasiun ini hanja ada satu tempat penitipan sepeda jang didjaga, letaknja di bawah tanah; tapi di atas tanah djuga ada beberapa tempat penitipan lain jang tidak didjaga. Mengingat lamanja sepeda kutinggal di stasiun, biasanja lebih dari dua djam (sehingga ada kemungkinan rahib kalau ditaruh di tempat penjimpanan tak didjaga), selalu kupilih penitipan sepeda jang didjaga. Tapi dengan tjepet tempat penitipan berkapasitas sekitar 2000 sepeda itu penuh, terutama pada hari2 biasa tatkala banjak orang mesti pergi ke luar kota. Tahun2 silam sering kudapati penitipan sepeda itu penuh dan tidak bisa menampung sepeda lagi. Sampai dua kali harus kubatalken niat ke Leiden, lantaran tempat penitipan sepeda di bawah tanah itu penuh sesak. Aku tak mau menitipkan sepeda di penitipan tak didjaga, karena takut kehilangan sepeda jang dulu butuh beberapa ratus euro untuk membelinja.

Sedjak achir 2016 (djadi sudah setahun lebih) dibuka tempat penitipan sepeda baru di belakang stasiun, tepatnja di Mahlerplein. Dan memang, setelah dua kali ditolak di tempat penitipan lama, sedjak musim panas tahun lalu aku selalu menempatken sepeda di tempat penitipan baru. Ini lebih luas dan moderen, dengan kapasitas 3000 sepeda. Berlainan dengan tempat penitipan lama, tempat penitipan baru ini djauh lebih luas, lebih bersih, lebih terang; pokoknja selalu didjamin dapat tempat, walaupun pada hari biasa, bukan achir pekan. Setiap kali titip sepeda orang harus menggunakan kartu kereta api, tidak lagi menerima kartjis seperti pada penitipan sepeda lama di depan stasiun. Gratis untuk 24 djam pertama, tapi harus bajar €1,25 untuk 24 djam berikutnja. Ini djelas djauh lebih murah ketimbang parkir mobil jang mentjapai €1,50 per djam untuk parkir di dalam gedung atau €3 untuk parkir di pinggir djalan. Memang tarif murah parkir sepeda itu bertudjuan untuk mendorong chalajak ramai supaja naik sepeda jang djelas tidak berbahaja bagi lingkungan. Aku sendiri tak pernah bajar parkir jang sudah murah itu untuk  menitipkan sepeda kalau ke Leiden. Maklum untuk urusan pindjam atau kembali buku, orang tidak perlu menginap. Urusan itu tjuma beberapa djam, tidak sampai 24 djam.

Ada sesuatu jang istimewa ketika pada rebo 21 februari itu aku menitipkan sepeda di tempat penitipan baru di Mahlerplein sekitar djam 12:15. Di tempat ini sekarang setiap deretan rak penampung sepeda diberi nama. Terachir, waktu djanuari lalu aku menitipkan sepeda di sini, tak ada nama pada rak2 itu. Dan jang lebih mentjengangkan lagi itu adalah nama2 komponis! Rada tergesa lantaran takut ketinggalan kereta, segera kupilih deretan bernama Schubert jang tidak djauh dari pintu masuk. Selesai menaruh sepeda, waktu berdjalan ke stasiun, kuamati lagi rak2 jang lain: wauw, sekarang rak2 itu memang punja nama. Ada delapan nama komponis musik klasik jang terpampang. Hanja dua rak paling podjok ketjil2 jang tidak diberi nama.

Waktu sampai di peron, aku sadar, nama2 komponis itu mereka pasang karena memang stasion Amsterdan Zuid berada di bilangan Amsterdam jang djalan2nja diberi nama komponis. Tempat penitipan sepeda lama berada di Strawinskylaan, sedangkan tempat penitipan baru ini di Mahlerplein. Igor Strawinsky [1882-1971] adalah komponis Rusia jang terpaksa meninggalkan negerinja waktu Tsar Nicholas didjatuhkan; Gustav Mahler [1860-1911] adalah komponis Austria jang sempat berkarja sebagai pengaba di New York. “Ah, makanja delapan nama komponis lain bertengger di rak2 sepeda itu,” begitu aku membatin sambil memantapken niat untuk memotret nama2 komponis itu ketika kembali sebelum mengambil sepeda untuk pulang.

Dua setengah djam kemudian, begitu tiba dari Leiden dengan tudjuan memperpandjang berlakunnja kartu perpustakaan, ketika sampai di tempat penitipan sepeda, segera kubidikkan kamera telpon genggam pada delapan nama komponis itu. “Nanti akan kupasang di djedjaring sosial, sambil membubuhkan tjeritanja,” batinku. Segera sepeda kuambil dan kudekati petugas jang sementara itu sudah menampakkan diri membawa alat pengetjek lamanja penitipan sepeda. Kalau masuk orang tjukup meletakkan kartu kereta api pada alat pengetjek masuk, sedangkan untuk keluar, karena kemungkinan harus bajar, orang harus mengetjekkan kartu kereta itu pada petugas.

– Penitipan gratis karena tidak sampai 24 djam, kata si petugas dalam aksen Amsterdam kental. Aku baru akan mengutjapkan terima kasih ketika dia berlandjut.

– Tapi mesti bajar karena mengambil foto! Waduh, apa2an ini?

– Tidak ada tulisan bikin foto mesti bajar, protesku.

– Ja mestinja djuga tidak, tapi lantaran tidak minta izin dulu, maka mesti bajar! Begitu kira2 jang kutangkap dari aksen Amsterdam kental jang kedengarannja seperti gerundelan, lantaran utjapan jang tidak djelas. Sialan amat, batinku.

– Berapa? Aku ogah berdebat dengan orang jang kelihatannja begitu mata duitan ini.

– Masing2 €2. Delapan foto €16, tegasnja. Bagaimana dia tahu aku hanja ambil delapan foto? Seingatku siluet2 Beethoven dan Schubert aku ambil dua kali, lantaran jang awal gagal. Djangan2 dia bakal masukkan duwitku ke kantong sendiri.

– Bajar pakai kartu bisa? Gak ada kontan nich, aku mulai ingin usil, karena bajar pakai kartu akan mempersulitnja untuk langsung mengantongi uang tunai. Lagi pula aku lihat peralatan bajar kartu tergeletak menantang di medjanja. Dia ternjata pantang mundur.

– Tidak bisa, alatnja rusak. Walah, dia minta uang tunai.

– Kalau begitu aku butuh kembali, tidak ada uang pas, kataku sambil merogoh kantung tjelana, mentjari dompet. Aku sengadja berbohong, karena dalam dompet sebenarnja ada uang pas itu. Tak sudi kupermudah keinginannja dapat uang tunai dariku.

Deretan kedua: Beethoven•Chopin•Brahms•Mahler
Deretan kedua: Beethoven•Chopin•Brahms•Mahler

Tak kuduga dia ketawa. Enggak, kok. Aku tjuman main2, katanja. Sialan batinku. Lalu kukatakan kepadanja baru sekarang aku lihat nama2 komponis di situ, aku senang musik karja mereka. Sering kudengar, ini aku lagi dengerin Bach, kataku sambil menunjukkan ponsel jang berhubungan dengan kabel penjalur musik pada telinga. Dia terus sadja tertawa. Dan aku kembali bersungut dalam hati. Tapi muntjul ide untuk mengusilinja.

– Kamu tahu gak mereka itu komponis? Apa kamu pernah dengar karja2 mereka?

Dia berhenti tertawa, lalu menundjuk radio di medjanja. Di situ terdengar gedombrang gedombrèng jang oleh anak muda zaman sekarang disebut rap.

Masak itu musik sih? Dia tampak ragu, kepalanja ber-gerak2 seperti sedang tjari2 djawaban. Tapi djawaban itu tak kundjung keluar, sehingga terbentang dalih padaku untuk segera melangkah keluar dengan kedua belah tangan menggenggam erat stang sepeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.