“Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow lebih demen batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini.

Sopir, toilet, trotoir dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap djangan kaget: keempatnja sekedar tjontoh kata2 Prantjis jang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua jang di tengah masih mirip aslinja, orang Prantjis mengedja keduanja sebagai toilettes dan trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua jang lain sudah kita ubah dalam edjaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Prantjis adalah chauffeur dan mereka mengedja bangkrut sebagai banqueroute.

Chauffeur - banqueroute - logement dalam edjaan bahasa Prantjis
Chauffeur – banqueroute – logement dalam edjaan bahasa Prantjis

Bagaimana mungkin kita bisa menjerap bahasa ini? Bukankah —lain dari Indochine (sekarang Vietnam, Laos atau Kambodja)— kita tidak pernah didjadjah Prantjis? Dengan tjontoh queijo mendjadi kedju dan manteiga mendjadi mentega, serapan bahasa Portugis masih lebih bisa dipahami, karena kita memang pernah didjadjah Portugal. Begitu pula bahasa Belanda. Tapi bahasa Prantjis? Djawabannja: bahasa itu kita serap lewat bahasa Belanda.

Tanpa kita sadari, ketika menjerap kata2 bahasa Belanda (kantor, atret, asbak, handuk dan lainnja), ternjata djuga kita serap kata2 Prantjis. Djadinja kita seperti berbelandja di pasar loak, menjerap bahasa dari sumber kedua, bukan sumber aslinja. Maka kita tidak tahu lagi bahwa itu berasal dari bahasa Prantjis. Siapa menduga sopir berasal dari kata Prantjis chauffeur? Sajangnja zaman sekarang kalangan kelas menengah perkotaan sudah makin djarang menggunakan sopir. Dasar keminggris (alias ke-inggris2an), mereka sekarang memilih menggunakan driver, karena konon kata ini lebih bergengsi. Padahal, djustru demi gengsi itu, orang Inggris malah lebih memilih menggunakan kata Prantjis chauffeur.

Sopir bangkrut losmen ketika diserap dalam bahasa Indonesia
Sopir bangkrut losmen ketika diserap dalam bahasa Indonesia

Selama paling sedikit tiga abad, bahasa Prantjis merupakan bahasa pengantar kalangan elit Eropa. Maklum, pada abad 17, 18 dan 19 pengaruh Prantjis lumajan besar. Bahkan selama tiga tahun (1811-1813) Prantjis (di bawah Napoléon Bonaparte) sempat mendjadjah Belanda. Alhasil sampai sekarang pengadilan Belanda tetap dibagi dalam sistem arrondissement Prantjis. Ini berarti bahwa sistem pengadilan Belanda punja organisasi sendiri jang tidak sedjalan dengan organisasi pemerintahannja. Bahkan satu arrondissement bisa mentjakup sampai tiga provinsi. Motto negara Belanda djuga tertera dalam bahasa Prantjis: Je maintiendrai (akan saja pertahankan).

Motto negara Belanda
Motto negara Belanda

Merdeka dari djadjahan Prantjis, Belanda jang sebelumnja republik djustru berubah mendjadi keradjaan. Selain se-hari2 berbahasa Prantjis, tiga radja pertama mereka, jaitu Willem I, Willem II dan Willem III (ke-tiga2nja adalah djuga radja Hindia Belanda) menulis buku harian dalam bahasa itu. Tidaklah mengherankan kalau bahasa Belanda menjerap banjak kata Prantjis. Pada gilirannja, ketika kita menjerap bahasa Belanda, terserap pula kata2 Prantjis. Tentu sadja djumlah serapan Prantjis kita tidak sebanjak serapan jang dilakukan oleh bahasa Belanda.

Walau begitu tetap harus diakui bahwa dalam kantjah diplomasi internasional, bahasa Prantjis memang punja pengaruh tidak ketjil. Kosakata dunia djuga dihuni beberapa istilah Prantjis. Paling sering digunakan adalah coup-d’état jang kita edja sebagai kudeta. Terachir istilah ini digunakan pertengahan november 2017, ketika presiden Zimbabwe Robert ‘Soeharto’ Mugabe digulingkan dari kekuasaannja. Selain itu masih ada vis-à-vis (ber-hadap2an), crème de la crème (terbaik dari jang terbaik), tête-à-tête (pembitjaraan empat mata) dan déjà-vu (pernah lihat) jang belakangan sering kita gunakan. Tidak boleh dilupakan ungkapan Prantjis c’est la vie jang berarti begitulah kehidupan.

Di luar itu, lumajan djuga kata se-hari2 bahasa Indonesia jang berasal dari bahasa Prantjis. Bagasi dari bagage, garasi dari garage, djaket dari jacquette, koran dari courant, ambulans dari ambulance, kado dari cadeau, karoseri dari carrosserie, gratis dari gratuit, kontan dari contant, populer dari populair, djuga prestise dari prestige. Tak ketinggalan losmen dari logement.

Di bidang politik, selain kudeta, kita djuga mengenal parlemen jang berasal dari parlement. Kemudian masih ada departemen (sekarang diganti djadi kementrian) jang berasal dari département. Istilah militer seperti bataljon berasal dari bataillon, sedangkan peleton aslinja peloton. Resimen berasal dari régiment. Perlengkapan angkatan udara parasut berasal dari parachut.

Kata2 itu lebih dahulu masuk bahasa Belanda. Harap djangan mengira kata2 itu berasal dari bahasa Inggris, karena djelas serapan bahasa Belanda lebih dahulu masuk bahasa kita katimbang serapan Inggris. Jang terachir ini baru terdjadi pada achir abad 20, ketika pengaruh bahasa Belanda mengering, seiring dengan menipisnja generasi didikan Belanda jang fasih berbahasa si bekas pendjadjah.

Bahasa Prantjis, di lain pihak, djuga menjerap kata2 bahasa Belanda. Kelasi dalam bahasa Prantjis adalah matelot, konon berasal dari kata Belanda matroos. Tanggul jang bahasa Belandanja dijk, berubah mendjadi digue ketika terserap oleh bahasa Prantjis. Paling menarik mungkin bolwerk (benteng pertahanan) jang berubah mendjadi boulevard ketika diserap oleh bahasa Prantjis. Djelas perubahan jang luar biasa, karena djuga membawa perubahan makna. Dari bahasa Prantjis inilah (dan bukan bahasa Belanda, padahal ini sumber aslinja) kita mengenal bulevar.

***

Bagaimana dengan bahasa Indonesia atau salah satu bahasa daerah di Nusantara, mungkinkah telah terdjadi persilangan antara bahasa2 ini dengan bahasa Prantjis? Sebelum mendjawabnja, terlebih dahulu perlu dikemukakan bahwa pada zaman Belanda dulu ternjata sudah ada bumiputra Hindia jang meng-gebu2 beladjar bahasa Prantjis, setelah dia beladjar dan menguasai bahasa Belanda. Djelas dia paham makna penting bahasa Prantjis di dunia internasional. Tokoh ini tidak lain adalah R. A. Kartini (1879-1904). Pertama kali Kartini berbitjara mengenai keinginannja untuk beladjar bahasa Prantjis tatkala menulis surat kepada Stella Zeehandelaar pada tanggal 23 agustus 1900. Antara lain berikut ini tulisnja:

Nu wil ik je ook nog iets vertellen, namelijk dat wij drietjes begonnen zijn met Frans te leren, uit de boekjes van Servaas de Bruijn. Wij hebben al een stuk of vier boekjes doorgeworsteld en komen je nu vragen ons eenvoudige, gemakkelijke Franse boeken te willen noemen (geen leerboeken). Pa heeft ons ook een leercursus Duits cadeau gedaan, doch als wij met het Frans ooit klaar komen kunnen, hopen we met het Engels te beginnen; ‘t Duits naderhand, als wij nog leven ten minste. We proberen nu Franse illustraties te lezen, maar lezen en begrijpen is twee, nietwaar? In den beginne maakten wij de dolste vertalingen, maar het gaat langzamerhand gelukkig beter. Wij zijn vol goeden moed. Roekmini beweerde eens in ‘t Frans te dromen; ze was met Chateaubriand in Louisiana, ‘t wonderschone land, dat hij beschreef. De Franse taal heeft veel overeenkomst met de onze, wat zinsbouw betreft, en ook de h is geheel als bij ons.

Sekarang kepadamu djuga ingin kuberitahu bahwa kami bertiga mulai beladjar bahasa Prantjis, menggunakan buku karja Servaas de Bruijn. Kami sudah menggumuli empat buku dan ingin bertanja padamu beberapa buku dalam bahasa Prantjis jang mudah dibatja (bukan buku peladjaran bahasa). Ajah djuga menghadiahi kami buku peladjaran bahasa Djerman, walau begitu kalau kelak kami sudah fasih berbahasa Prantjis, maka kami akan mulai beladjar bahasa Inggris; bahasa Djerman nanti sadja, paling sedikit kalau kami masih hidup. Sekarang kami berupaja membatja ilustrasi bahasa Prantjis, tetapi membatja harus dibedakan dari mengerti, bukankah begitu? Pada awalnja kami menerdjemahkan dengan lutju, tetapi pelan2 membaik, sjukurlah. Kami penuh semangat. Roekmini menjatakan pernah bermimpi dalam bahasa Prantjis; konon dia bersama Chateaubriand di Louisiana, negeri jang ditulisnja dengan indah. Bahasa Prantjis punja banjak persamaan dengan bahasa kami, dalam soal susunan kalimat, demikian pula lafal h sama dengan bahasa kami.

Tjuplikan di atas mengungkap paling sedikit dua hal tentang tjara Kartini, Roekmini dan Kardinah beladjar bahasa Prantjis. Pertama mereka beladjar sendiri menggunakan buku2 peladjaran bahasa Prantjis karja Servaas de Bruijn, penulis Belanda. Ini berarti bahwa mereka beladjar bahasa Prantjis dari bahasa Belanda. Kedua, dengan beladjar tanpa guru, mereka lebih banjak menerdjemahkan, bisa dari bahasa Prantjis ke bahasa Belanda atau ke bahasa Djawa. Oleh karena itu Kartini melihat banjak persamaan antara bahasa Prantjis dengan “bahasa kami”: jang dimaksudnja adalah bahasa Djawa. Sebagai tjontoh bisa dikemukakan “rumah hidjau” jang dalam bahasa Prantjis “la maison verte” dan bahasa Djawa “omah idjo”, sedangkan bahasa Belanda “het groene huis”. Djelas terlihat baik bahasa Prantjis maupun bahasa Djawa mendahulukan omah/maison, baru kemudian warna idjo/verte. Berbeda dengan bahasa Belanda jang terlebih dahulu menjebut groene alias warna hidjau, baru kemudian het huis atau rumah. Persamaan itulah jang dimaksud Kartini.

Selain itu dalam bahasa Prantjis huruf h sering tidak dilafalkan, walaupun ditulis. Tjontohnja adalah heures jang berarti djam, dilafalkan tanpa h. Aksara Djawa djuga menulis hånå, padahal jang dimaksudkan adalah ånå jang berarti ada. Perlu ditegaskan pada zaman Kartini bahasa Djawa melulu ditulis dalam aksara Djawa dan tidak dalam huruf Latin. Dalam surat2nja kalau memberi tjontoh bahasa Djawa, Kartini menulisnja dalam aksara Djawa.

Door duisternis tot licht, kumpulan surat2 Kartini
Door duisternis tot licht, kumpulan surat2 Kartini

Dari pendjelasan di atas lajak dipertanjakan bagaimana mungkin Kartini dan adik2nja bisa beladjar bahasa asing tanpa guru? Bukankah mereka harus dengan benar melafalkan kata2 Prantjis jang mereka peladjari, dan untuk itu mereka tidak bisa tidak pasti butuh guru jang akan memberi tjontoh utjapan jang semestinja? Pertanjaan seperti ini akan memperoleh djawaban kalau kita batja surat Kartini kepada njonja N. van Kol tanggal 12 djuli 1902. Di situ tertera alinea berikut:

Neen, helaas!Hollands is de enige Europese taal, die wij lezen, wat een groot verdriet is voor ons. Dolgaarne willen wij de moderne talen leren; ‘t is ene grote illusie van ons, om mooie werken van buitenlandse schrijvers eens te kunnen genieten in ‘t oorspronkelijke. Er is hier geen gelegenheid geweest om talen te leren. Nu zouden wij gaarne met het Frans beginnen, waarin een vriendinnetje van ons, ene onderwijzeres, die uw echtgenoot hier ook ontmoette, ons gaarne helpen wil.

Sajangnja, bahasa Belanda adalah satu2nja bahasa Eropa jang kami batja, betapa kami sangat sedih karenanja. Kami sangat ingin beladjar bahasa modern; tjita2 besar kami adalah menikmati karja2 penulis luar negeri dalam bahasa asli karja itu ditulis. Di sini tidak ada kesempatan untuk beladjar bahasa. Sekarang kami ingin mulai dengan bahasa Prantjis, seorang kenalan kami, seorang ibu guru jang djuga pernah bertemu suami ibu, ingin membantu kami.

Ibu guru jang dimaksud adalah Annie Glaser, seorang perempuan muda Belanda jang datang ke Djepara dari Belanda untuk mengadjar. Selain idjazah guru, mejuffrouw (nona) Glaser ternjata djuga memiliki idjazah mengadjar bahasa Prantjis, sesuatu jang sangat menggembirakan Kartini dan adik2nja. Apalagi ketika gadis Belanda itu menjatakan bersedia membantu apa sadja. Dari sini bisa dipastikan satu hal: Kartini, Roekmini dan Kardinah begitu menggebu beladjar bahasa Prantjis. Niat ini pasti muntjul karena ketiganja paham makna bahasa Prantjis dalam pergaulan internasional. Bagaimana itu mungkin? Bukankah dia sempat mendjalani pingitan selama empat tahun, dari usia 12 sampai 16 tahun?

Tak pelak lagi, empat tahun pingitan itu (dari 1891 sampai 1895 untuk Kartini) djustru semakin mendekatkan si gadis Djepara bukan sadja dengan dunia di luar kamarnja, lebih dari itu djuga dengan dunia internasional. Ini berkat dua hal: buku2 berbahasa Belanda jang “dengan rakus” dilahapnja serta korespondensinja dengan orang2 Belanda. Tapi tidak sampai di sini sadja urusan Kartini dengan bahasa Prantjis.

Lebih menarik lagi: ketiga bersaudara ini ternjata djuga mengadjar bahasa Prantjis kepada anak2 perempuan didikan mereka. Dalam surat2nja Kartini memang tidak menjinggung2 soal pengadjaran bahasa Prantjis ini, bisa djadi karena dia tidak memiliki idjazah mengadjar, apalagi mengadjar bahasa Prantjis. Tetapi kalau dengan seksama kita amati foto2 peninggalan Kartini dan kedua adiknja, maka akan terlihat sebuah foto jang menundjukkan kegiatan mengadjar bahasa Prantjis. Foto itu menampilkan Kartini dan Roekmini bersama 11 murid di sekitar papan tulis. Di papan tulis itu tertera tulisan dalam bahasa Prantjis berdjudul “Le petit chaperon rouge” jang berarti “Topi merah ketjil”. Ini adalah dongeng anak2 Prantjis, dan itulah jang diadjarkan Kartini kepada murid2nja!

Di papan tulis tertera "Le petit chaperon rouge"
Di papan tulis tertera “Le petit chaperon rouge”

Siapakah bumiputra jang begitu bersusah-pajah beladjar serta mengadjar bahasa Prantjis pada pergantian abad 19 ke abad 20? Dan itu mereka lakukan atas inisiatif sendiri, bukan karena harus mengikuti peladjaran sekolah. Lagi pula sekolah mana di Indonesia zaman sekarang jang mengadjarkan bahasa Prantjis kepada murid2nja? Tak pelak lagi, inilah keistimewaan Kartini jang tidak tertandingi.

***

Bagaimana dengan persinggungan bahasa Indonesia dengan bahasa Prantjis? Karena tidak pernah didjadjah Prantjis maka tak satupun kata bahasa Indonesia diserap oleh bahasa ini. Tentu sadja ada perketjualian dan itu menjangkut tiga kata: “orang utan” , “amok” dan “kampong” jang djuga dikenal dalam bahasa Prantjis dan beberapa bahasa Eropa lain. Di Eropa, tampaknja memang hanja bahasa Belanda jang menjerap kata2 bahasa Indonesia, dengan tjontoh senang, manusje (manusia), toko dan amper (hampir). Keempat kata itu (dan tentunja lebih) sekarang sudah terserap dalam bahasa Belanda. Tapi paling sedikit ada dua ungkapan bahasa Prantjis jang menggunakan kata “Djawa”. Pertama faire la java (berbuat Djawa). Definisi lengkap tertjantum pada Wiktionnaire Prantjis, faire la java adalah “Participer à une fête nocturne avec musique et alcools jusqu’au bout de la nuit”. Artinja kira2 “ikut serta dalam pesta malam dengan musik dan alkohol sampai benar2 larut malam”. Tampaknja faire la java berarti pesta pora gila2an.

Faire la java
Faire la java

Kemudian djuga ada carrefour javanais jang kurang lebih senada, walaupun jang ini berkisar pada urusan lalu lintas dan bukan mengenai belandja, apalagi soal pasar swalajan. Kalau ada dua mobil berhadapan di perempatan dan satunja ingin terus sementara jang lainnja ingin belok, maka, dalam keadaan tanpa lampu lalu lintas, keduanja harus saling memberi kesempatan untuk lewat dahulu. Baru kalau salah satunja mempersilahkan jang lain, maka dia boleh melakukan hal itu. Kalau tidak ada tanda dan keduanja saling berebut, maka orang Prantjis akan menjebut mereka telah melakukan “carrefour javanais” jang kira2 berarti perempatan Djawa. Perempatan seperti ini tampaknja memang tidak terlalu njaman, bahkan agak berbahaja. Seorang teman Prantjis berkabar bahwa sekarang istilah ini sudah diganti mendjadi “carrefour à l’indonésienne” atau “le croisement à l’indonésienne”. Tidak djelas kapan persisnja pergantian ini terdjadi, tapi tampaknja orang Prantjis achirnja sadar djuga bahwa Djawa sekarang sudah merupakan salah satu pulau Indonesia. Walau begitu jang perlu diperhatikan adalah bahwa semula bahasa Prantjis mengenal dua ungkapan jang menggunakan kata Djawa.

Ada beberapa kemungkinan kenapa orang Prantjis sampai dua kali menggunakan “Djawa” untuk menggambarkan situasi jang tidak terlalu menguntungkan itu. Pertama Djawa (la java) adalah tarian berpasangan jang lebih bebas dari walsa dan populer pada 1920an.

Voyage de Paris à Java
Voyage de Paris à Java

Kedua, tak kalah pentingnja, Djawa sempat populer di Prantjis pada abad 19. Tampaknja popularitas itu berawal pada tahun 1832 tatkala terbit Voyage de Paris à Java (Perjalanan dari Paris ke Djawa), novel chajalan karja sastrawan aliran realis Honoré de Balzac (1799-1850) jang tidak pernah ke Djawa. Dari djudulnja sadja orang sudah bisa bertanja2, bukankah ini sebuah perlawatan jang aneh, kalau kota berangkat disebut djelas, jaitu Paris, mengapa tidak disebut djelas pula kota tudjuannja? Mengapa tidak disebut satu kota tertentu di Djawa? Bisa sadja lantaran penulis chawatir pembatja tidak tahu kota tudjuan itu di mana. Tetapi menjebut Soerabaja (atau Sourabaya dalam edjaan jang lebih tjotjok dengan tjara orang Prantjis menulis) kemudian diikuti dengan Java-Est (Djawa Timur) djuga bisa dilakukan. Ketika itupun tidak dilakukan oleh Balzac orang memang patut tjuriga, bisa2 dia memang belum pernah ke sana. Apalagi kalau membatja isinja. Maklum Balzac menggambarkan Djawa sebagai pulau mistik dengan kemungkinan tak terbatas, dunia exotis dengan wanita jang bisa hamil hanja berkat terpaan sinar matahari, pohon2 dengan buah beratjun, atau kelapa jang tidak lain adalah telur naga jang siap menetas, dan segala matjam fantasi lain. Tentu sadja itu penggambaran abad 19 awal, ketika orang Eropa umumnja dan Prantjis chususnja masih belum begitu tahu Djawa, tapi —berkat revolusi industri— benar2 ingin berpetualang menengoknja.

Penggambaran ini tjukup membuat chalajak Prantjis tergelitik untuk mentjari tahu lebih landjut tentang Djawa. Adalah penjair Arthur Rimbaud (1854-1891) jang begitu terdorong sampai dia benar2 melawat ke Djawa. Pada bulan djuli 1876 ia tiba di Batavia, sebagai salah satu pradjurit bajaran Belanda jang akan mendjalani latihan militer untuk dikerahkan bagi penaklukan Atjeh. Pada 2 agustus 1876 Rimbaud tiba di Tuntang, dekat Salatiga, tempat dilakukannja latihan militer. Tapi pada tanggal 15 agustus dia hilang, ternjata melakukan desersi dan tahu2 pada awal desember 1876 nongol di Charlesville, kota kelahirannja di Ardennes, Prantjis utara. Sekarang di rumah dinas walikota Salatiga terpampang plakat untuk mengenang perlawatan Rimbaud ke kota sedjuk Djawa Tengah ini. Pemasangan tahun 1997 itu ditandatangani oleh Thierry de Beaucé, waktu itu duta besar Prantjis untuk Indonesia.

Plakat mengenang Arthur Rimbaud di Salatiga
Plakat mengenang Arthur Rimbaud di Salatiga

Achirnja, pada tahun 1889, publik Prantjis (chususnja Paris) berkesempatan melihat orang Djawa tulen, ketika mereka ber-bondong2 menjaksikan Le village javanais (desa Djawa). Itulah paviljun Belanda pada l’Exhibition universelle (pameran semesta) jang diselenggarakan untuk memperingati seabad Revolusi Prantjis. Di situ hadir pengradjin dari Surabaja dan Jogjakarta, penabuh gamelan Sari Onéng dari desa Parakan Salak, dekat Sukabumi, dan tak ketinggalan para penari kraton Mangkoenegaran, Solo.

Kalangan jang kritis pasti ber-tanja2 bagaimana mungkin beksan (tarian) kraton Mangkoenegaran tampil diiringi gamelan Sunda? Ini merupakan dampak keputusan penguasa kolonial waktu itu. Jang datang ke Paris adalah kalangan swasta, antara lain Adriaan Holle, pemilik kebun teh Parakan Salak, dekat Sukabumi. Dia tidak bertindak atas nama pemerintah Den Haag. Dari awal pemerintah keradjaan Belanda sudah menolak ikut serta dalam peringatan 100 tahun bubarnja monarki Prantjis.

Pintu gerbang masuk »Le village javanais«
Pintu gerbang masuk »Le village javanais«

Walau begitu media massa Prantjis terkesima. Pelbagai resensi jang berisi pudjian mendorong chalajak untuk serta merta membandjiri Le village javanais sehingga dalam enam bulan pameran itu tertjatat sampai 875 ribu pengundjung. Empat gadis penari kraton Mangkoenegaran (mereka bukan putri bangsawan) jang masih belia mendjadi talk of the town. Tout Paris (seantero Paris) meramaikan mereka sebagai sensasi besar. Tak pelak lagi, Djawa makin dikenal chalajak Prantjis. Digelar di sekitar Esplanade des Invalides, Le village javanais beserta penghuninja jang benar2 berasal dari Djawa dan Sunda itu termasuk orang pertama jang menjaksikan menara Eiffel, maklum pembukaannja merupakan puntjak peringatan 100 tahun Revolusi Prantjis.

Para penari Mangkoenegaran
Para penari Mangkoenegaran

Pementasan gamelan Sunda Sari Onéng mempesona komponis Claude Debussy (1862-1918) jang ber-kali2 menontonnja. Menjebut akord2 musik Barat C dan F (tonika dan dominan) sebagai djamur bulukan jang hanja untuk me-nakut2i anak2, menurut Debussy gamelan djustru lebih mampu menuangkan setiap nuansa, sampai jang paling sulit sekalipun. Ia tidak hanja kagum pada bunji gamelan, tetapi djuga pada rumitnja saling tindak antara pelbagai instrumen gamelan serta suara manusia, karena begitu taat pada prinsip contrepoint (contrapunt dalam bahasa Belanda atau counterpoint bahasa Inggrisnja). Patut ditjatat Debussy tidak membedakan Djawa dari Sunda, dia djuga tidak tahu bahwa gamelan Djawa, misalnja, mengenal tangga nada pélog serta sléndro.

Halaman pertama »Pagodes«
Halaman pertama »Pagodes«

Pada tahun 1903 (14 tahun setelah gamelan Sari Onéng pentas) terbit Estampes, kumpulan tiga komposisi piano tunggal karja Debussy. Nomer pertama, berdjudul Pagodes, merupakan pembaruan penting. Kalau musik aliran Romantis jang waktu itu berdjaja begitu bergedjolak dan ber-api2, maka musik Debussy, disebut musik Impresionis, lebih lamat2 dan mementingkan nuansa. Itu ditjapainja dengan menggubah paduan nada (akord) jang mengambang dan tidak pernah mentjapai penjelesaian. Tjaranja, antara lain, dengan menggunakan musik pentatonis lima nada, nada chas gamelan.

Bisa dipastikan pada abad 19 itu Djawa memang punja daja tarik tersendiri bagi chalajak Prantjis, sampai2 tiga senimannja tergerak untuk berbuat sesuatu. Honoré de Balzac menulis novel fantasi, Claude Debussy menggubah karja musik bernuansa timur, sajangnja hanja Arthur Rimbaud jang tidak menghasilkan apa2, padahal dia —dan ini benar2 keistimewaannja— sempat bertandang ke Djawa, hanja dia dari ketiganja.

Harus dimaklumi saat itu Rimbaud memang sudah tidak berkarja lagi. Puisi2nja tertjipta antara tahun 1870 (tatkala dia belum lagi 16 tahun) dan 1874, ketika ia mengindjak usia 20 tahun. Dua himpunan puisinja Une saison en enfer (Semusim di neraka) dan Illumination (Penerangan) merupakan perintis puisi modern. Karja2 itu mempengaruhi banjak seniman lain, bukan tjuma sesama sastrawan (seperti T.S. Elliot atau Thomas Mann), tetapi djuga komponis musik serius (Benjamin Britten), bahkan musik rock (Patti Smith).

Tidak lagi menulis puisi, selama beberapa bulan di Djawa pada 1876 itu Rimbaud ternjata djuga tidak menulis surat kepada siapapun. Padahal dari usia 15 tahun (tahun 1869) dia begitu radjin menulis surat, baik kepada ibunja maupun adiknja, Isabelle. Korespondensi ini mentjapai ratusan halaman dalam kumpulan karjanja. Tapi ternjata tidak ada bahan tertulis apapun tentang kundjungan ke Djawa, jaitu perlawatan pertamanja keluar Eropa. Alhasil orang tidak tahu apa dampak Djawa jang pernah dikundjunginja itu bagi dirinja, atau bagi karjanja. Sesuatu jang memang amat disajangkan.

Kehampaan ini menjebabkan spekulasi, terutama karena nama terkenal Rimbaud dan pengaruhnja jang meluas. Maka terbitlah pelbagai tulisan atau buku, fiksi maupun non-fiksi (esai), jang djuga menulari penulis Indonesia. Salah satu esai membual bahwa sesudah melakukan desersi Rimbaud mengembara di rimba belantara Djawa Tengah dan bertemu orang hutan. Sedjak kapan orang hutan djuga berkeliaran di belantara Djawa?

Honoré de Balzac - Arthur Rimbaud - Claude Debussy
Honoré de Balzac – Arthur Rimbaud – Claude Debussy

Langkah lebih tjerdik adalah menulis fiksi, seperti dilakukan oleh wartawan/penulis Triyanto Triwikromo jang menggubah tjerita berdjudul “Hantu di Kepala Rimbaud”. Seperti fiksi2 surealis Triyanto lain, dalam tjerita ini bisa dibatja kisah lutju tentang tokoh aku jang berupaja membudjuk tokoh Raden (tampaknja jang disasar adalah perupa Raden Saleh) untuk bukannja melukis melainkan mengarang tjerita tentang Rimbaud bertandang ke Djawa menggunakan “perspektif musjkil”.

Terus berlandjutkah saling silang Prantjis dengan Djawa? Tampaknja tatkala Indonesia lahir pada tahun 1940an, bahasa Prantjis sudah tidak lagi menjerapnja. Bahkan, seperti tadi sudah disebut, kini carrefour javanais sudah berubah mendjadi carrefour à l’indonésienne. Tapi tak perlu chawatir: itu sama sekali tidak berarti bahwa publik Prantjis telah benar2 melupakan Djawa.

Pada tahun 1963, Serge Gainsbourg (1928-1991), penjanji dan pentjipta lagu ringan Prantjis, menggubah sebuah lagu berdjudul »La javanaise« (perempuan Djawa). Lagu tenang ini berkisah tentang djatuh tjinta sedjenak ketika menarikan tarian »La javanaise«. Tampaknja memang ini hanja nama tarian dan tidak benar2 berkaitan dengan Djawa.

Semula Serge Gainsbourg mentjiptakan lagu ini untuk dia sendiri dan untuk Juliette Gréco, salah seorang penjanji terkenal Prantjis jang oleh sastrawan Iwan Simatupang (1928-1970) disebut sebagai penjanji existensialis. Sekarang »La javanaise« sudah berulang kali dibawakan oleh banjak penjanji Prantjis, termasuk seorang biduanita jang mewakili Prantjis pada Festival Eurosong tahun 2012. Dia bernama Anggun Cipta Sasmi dan kita tahu dia benar2 seorang perempuan Djawa.

***

Pada abad 21 ini —tatkala djarak sudah bukan lagi faktor jang memperdjauh sehingga dalam hitungan detik Djakarta bisa berhubungan dengan Paris— kita lajak bertanja: masih berlandjutkah interaksi Prantjis dengan Djawa/Indonesia? Di djedjaring sosial bertebaran foto2 bukan tjuma orang Indonesia di sekeliling menara Eiffel (tahukah mereka bahwa nenek mojang kita hadir pada peresmiannja tahun 1889?), tapi djuga orang Prantjis di Borobudur; dan objek wisata lain kedua negara. Kedua negara djuga membina hubungan diplomatik pada tingkat tertinggi: pertukaran duta besar. Tapi adakah bahasa Indonesia terus berlandjut menjerap bahasa Prantjis dan Prantjis meneruskan terkesimanja pada Indonesia?

Dari perilaku kalangan kelas menengah perkotaan sekolahan jang mengganti kata sopir dengan kata bahasa Inggris lajak diduga keras bahwa di Indonesia bahasa Prantjis sudah bukan lagi tergolong sebagai bahasa bergengsi. Langkah menjerap bahasa Prantjis pasti djuga sudah berhenti.

Saling silang kita dengan Prantjis memang tidak (pernah) punja dasar ekonomi, penjerapan bahasa Prantjis sadja lewat bahasa Belanda; sehingga mungkin lebih tepat untuk menjebut dialektika kedua negara berlangsung secara immaterialis.

Amsterdam achir 2017

*) Versi terdahulu telah terbit sebagai kolom dalam madjalah Tempo edisi 30 Desember 2013- 5 djanuari 2014, halaman 80.

Referensi

  1. Benedict Anderson [2005], Under Three Flags: Anarchism and the Anti-Colonial Imagination, London: Verso. ISBN 1-84467-037-6
  2. Marieke Bloembergen [z.j.], De koloniale vertoning: Nederland en Indië op de wereldtentonstellingen (1880-1931), Amsterdam: Wereldbibliotheek. ISBN 902841925X.
  3. Marieke Blombergen [2004], Koloniale inspiratie: Frankrijk, Nederland, Indië en de wereldtentoonstellingen 1883-1931, Leiden: KITLV Uitgeverij. ISBN 90-6718236-2.
  4. Jamie James [2011], Rimbaud in Java: the lost voyage, Singapura: Editions Didier Millet ISBN 978-981-4260-82-4.
  5. Joss Wibisono {2012], Saling Silang Indonesia-Eropa: dari diktator, musik hingga bahasa, Djakarta: Mardjin Kiri. ISBN 978-979-1260-16-9.
  6. R. A. Kartini [1923], Door duisternis tot licht: Gedachten over en voor het Javaansche volk, ‘s Gravenhage, N.V. Electr. Drukkerij “Luctor et Emergo”, vierde druk.
  7. Triyanto Triwikromo [2009], “Hantu di Kepala Arthur Rimbaud” dalam Ular di Mangkuk Nabi, kumpulan tjerita, Djakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. Halaman 119-127. ISBN 978-979-22-4742-8.
  8. Iwan Simatupang [1982], “Patates Frites” dalam Tegak Lurus dengan Langit (kumpulan tjerpen), Djakarta: Penerbit Sinar Harapan. Halaman 53-61.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s