“Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera'” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD (jang enggak didemenin sama Oom Ben) silahken ngeklik ini. Aku kenal pribadi Ben Anderson, dikenalkan oleh Sidney Jones, wektu melawat ke Freeville tahun 1991. Dengannja aku biasa ngobrol tentang banjak hal: bahasa, politik, tentara, masak memasak (dia ternjata suka sajur kale bahasa Inggris atau boerenkool bahasa Belanda masak teri dan lombok, buwatanku) dan terutama musik klasik. Ben Anderson paling suka salah satu karja terachir Richard Strauss berdjudul Vier Letzte Lieder (empat lagu terachir) dibawakan oleh mendiang soprano Suisse Lisa della Casa, tapi paling bentji Beethoven. Berikut kenanganku tentang sobat jang satu ini. Benedict Richard O’Gorman … Lanjutkan membaca “Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera’” oleh Joss Wibisono

“Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

Untuk tahun 2013 (tatkala artikel ini ditulis) hadiah Nobel Kesusastraan diraih oleh tjerpenis Kanada Alice Munro. Lagi2 bukan penulis Asia Tenggara, seperti telah tak tulis di Tempo edisi 7-13 Oktober 2013 (halaman 74). Ini hlo versi usil kolomku itu. Sebagai pembuka, berikut dua dalil. Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnja djuga erat berkaitan dengan bahasa, djadi bukan melulu sastra, seperti dugaan orang selama ini. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karja sastra, keindahannja tak akan pernah bisa terungkap lewat medium lain ketjuali bahasa. Kedua, zaman sekarang djuga mustahil menjebut satu bahasa lebih indah ketimbang bahasa lain. Karena itu hadiah Nobel Kesusastraan … Lanjutkan membaca “Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono