“Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono

Kalau seorang penjiar radio berpapasan di djalan dengan salah seorang pendengarnja, bagaimana mereka bisa saling mengenali? Penjiar radio bukan penjiar televisi, pendengar paling banter hanja mengenali swaranja. Wadjah seorang penjiar radio tidak tersiar dan karena itu djuga tidak terkenal seperti swaranja. Menariknja, untuk kasus Timor Timur sebagai bekas penjiar Radio Nederland Wereldomroep di Hilversum, Negeri Belanda, saja punja pengalaman unik dalam berdjumpa dengan pendengar. Berikut dua peristiwa jang benar2 telah saja alami sendiri. Oslo, awal desember 1996. Ketika pada hari sabtu tanggal 7 desember saja tiba di ibukota Norwegia ini, tjuatja sudah agak “menghangat”. Udara beku jang membuat djalan2 litjin … Lanjutkan membaca “Meliput Timor Timur untuk Radio Nederland serta ‘menggilir’ uskup Belo di Oslo dan Dili” oleh Joss Wibisono