“Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja EYD, silahken ngeklik ini, tapi versi itu gak terlalu djudes Tatkala sekarang Britania ber-siap2 meninggalkan Uni Eropa, beberapa orang politisi Prantjis mentjium kesempatan emas untuk mengkikis habis dominasi bahasa Inggris. Demikian diberitaken oleh harian pagi Amsterdam de Volkskrant pada edisi rebo 29 djuni 2016, halaman lima bawah. “Bahasa Ingris tidak bisa lagi merupakan tiga bahasa kerdja parlemen Eropa,” demikian kitjauan Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai kiri Parti de Gauche, dalam twitternja. Tiga bahasa kerdja parlemen Eropa itu adalah bahasa2 Djerman, Prantjis dan Inggris. Molière versus Shakespeare Politikus lain, jaitu Robert Ménard, walikota Béziers, kota ketjil di wilajah … Lanjutkan membaca “Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono

“Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 29 Djuli Bajangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnja bajangkan bahasa Indonesia itu tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Atjeh bisa memahami orang Papua? Djangankan Atjeh di Sumatra dan Papua di Indonesia timur sebagai dua pulau jang terpisah itu; tanpa bahasa nasional warga satu pulau sadja tampaknja sudah akan kesulitan untuk bisa saling bertutur kata. Di Sumatra sadja: bagaimana orang Atjeh di wilajah utara harus menjapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Kiranja djelas, bagi kita tiadanja bahasa Indonesia tak … Lanjutkan membaca “Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono