“Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

Sekitar minggu kedua september 2015, seorang kenalan baik mengirim surat elektronik, mengabarkan niatnja menerbitkan buku tetang 50 tahun G30S. Apa aku punja tulisan jang bisa diikutkan di dalemnja? Aku tak punja tulisan baru, tapi bersedia menggarap tulisan lama supaja sesuai dengan perkembangan jang sudah terdjadi sampai 2015. Waktu itu di Belanda kami ber-siap2 menggelar IPT 65. Maka djadilah tulisan ini, tjuman sajangnja rentjana penerbitan buku itu batal. Penerbitnja gak pernah kasih kabar lagi, padahal sebelumnja mereka sudah setudju dan karena itu semua naskah djuga siap. Daripada disimpan, berikut esai itu. Sebelas tahun sudah berlalu sedjak saja menulis artikel berikut jang … Lanjutkan membaca “Orde bau — rezim kanan pelaku pembunuhan massal” oleh Joss Wibisono

“Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

Pelbagai kenangan jang muntjul di djedjaring sosial meratapi kepergian pater Adolf Heuken (lafal ‘hoiken’) jang berpulang 25 djuli itu kebanjakan bersifat pribadi. Mereka jang mengenang almarhum kebanjakan kenal sang rohaniwan dan kebanjakan djuga memudji keahliannja dalam bidang sedjarah Batavia-Djakarta. Ada jang menulis bagaimana almarhum begitu disiplin mendjaga koleksinja, sehingga koleksi itu tidak boleh dibawa keluar perpustakaan. Ada pula jang menulis sesudah mewawantjarai pater keturunan Djerman ini, segera dia tahu betapa sang rohaniwan begitu prihatin dengan pengetahuan sedjarah generasi muda Djakarta atas kota mereka. Karena tidak sadar nilai sedjarah itu, demikian sang pater melantunkan kechawatirannja, ketika besar mereka akan dengan gampang … Lanjutkan membaca “Adolf Heuken versus Joop Beek: pastor tidak boleh berpolitik praktis” oleh Joss Wibisono

“Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson

Diterdjemahkan dari versi asli (bahasa Inggris), ke dalam edjaan Suwandi, edjaan jang paling disukai oleh Oom Ben, penulis analisa ini. Kedjutan sering muntjul tatkala seseorang mem-bongkar2 gudang jang penuh sesak dan berdebu. Ketika membolak-balik ribuan halaman hasil fotokopi laporan stenografi pengadilan Letnan Kolonel Penerbangan Heru Atmodjo di depan Mahkamah Militer Luar Biasa, saja menemukan beberapa dokumen jang merupakan lampiran berkas2 pengadilan. Ini adalah laporan jang disusun oleh sekelompok ahli forensik medis, beranggotakan lima orang, jang telah memeriksa djenazah enam orang djenderal (Yani, Suprapto, Parman, Sutojo, Harjono dan Pandjaitan) dan seorang letnan muda (Tendean) jang dibunuh pada dinihari 1 oktober 1965. … Lanjutkan membaca “Bagaimana para djenderal gugur” oleh Benedict R. O’G. Anderson

“50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain tindjauan pers ini telah nongol di madjalah Historia No 25, halaman 17-19. Lima puluh tahun G30S ternjata djuga mendjadi pemberitaan media massa Belanda, negeri bekas pendjadjah. Bukan tjuma koran, mingguan atau media tjetak lain jang memberitakannja, tapi djuga radio dan televisi serta tak ketinggalan situs web. Menariknja, ketika mingsih adaaa sadja media massa Indonesia jang gak bosen2nja meng-ulang2 sudut pemberitaan seperti 50 tahun silam (keminggrisnja gak bisa move on) jaitu G30S terus2an dipandang sebagai bentrokan ideologis antara PKI dan mungsuh2nja (seperti maunja orde bau), maka media massa Londo si bekas pendjadjah sudah sama sekali meninggalkan sudut pandang kuno … Lanjutkan membaca “50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono