“Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu yang dalam EYD bisa dilihat di sini. Kebebasan, terutama kebebasan berpendapat jang didjundjung tinggi di Belanda, sekarang dalam antjaman. Masalahnja sedjarawan dan kolumnis Thomas von der Dunk dibungkam. Dia dilarang bertjeramah soal persamaan antara Nazi di Djerman zaman dulu dengan PVV, partai kebebasan pimpinan Geert Wilders di Belanda zaman sekarang. Tentu sadja, PVV jang anti Islam itu termasuk salah satu pihak jang melarangnja. Untuk kita di Indonesia pidato Thomas von der Dunk ini relevan, terutama karena dia djuga menulis tentang upaja kemerdekaan kita jang dihalang-halangi oleh Belanda. Dihukum mati Arondéuslezing adalah tjeramah tahunan jang diselenggarakan oleh Provinsi Noord … Lanjutkan membaca “Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

“Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

Larangan mendengarkan djenis musik tertentu ternjata bukan tjuma pengalaman kita di zaman Demokrasi Terpimpin dulu. Sekitar tiga dekade sebelumnja, di zaman Nazi, orang Djerman djuga sudah pernah mengalami larangan serupa (tentunja termasuk berbagai pembatasan lain). Persamaannja dengan pengalaman kita, menariknja lagi, ternjata tidak berhenti di sini sadja: pada masing2 zaman itu musik jang dilarang selalu diberi nama, djulukan jang djelas bersifat edjekan belaka. Seperti kita tahu, pada zaman Demokrasi Terpimpin musik jang dilarang disebut musik ngak-ngik-ngok, dan terwudjud pada kelompok Koes Bersaudara (kemudian terkenal sebagai Koes Plus) jang didjebloskan dalam pendjara karena berada di garis depan para pemusik à la … Lanjutkan membaca “Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

“Fascination with Fascism” by Joss Wibisono

Fascination with Fascism: Japan and Germany in the Indies of the 1930s Japan’s victory over Russia in 1905 was, as widely known, an eye opener for other Asian nations, especially those who were still colonized. At last fellow Asians defeated the white race, so it was perceived. Japan became a model and the interest in the country of the rising sun extended well until the 1930s, a different period in Japan as it embraced fascism. Information and knowledge about Japan filtered through to the Indies mainly through publications in Dutch, which, in turn, originated from Germany. This should not be … Lanjutkan membaca “Fascination with Fascism” by Joss Wibisono

“Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini esei jang ditulis dalem EYD diumumken sama Majalah Historia Online. Kalow gak dojan batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, ja silahken klik MHO. Tjuman di situ gak lengkap dan tjonto2 karja musiknja djuga gak banjak. Perupa Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kedjutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinja. Tampang asli? Ija, kerna ketika misih muda, usia awal 20an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu misih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indischnja. Wilders, seperti kita tahu, memang punja nenek mojang jang berasal dari Hindia Belanda, tjikal bakal … Lanjutkan membaca “Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono