“Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan tapi tetep dalam edjaan Suwandi telah nongol di Tirto.id Ada satu perkembangan dalam bahasa Indonesia jang belakangan begitu meluas sehingga merisaukan dan membuat saja risi. Perkembangan itu adalah semakin galaknja pentjampuradukan bahasa nasional dengan bahasa Inggris. Harus diakui ini bukan hal baru, sudah sedjak sekitar tahun 1980an orang suka sekali melakukannja. Waktu itu djumlah mereka masih sedikit dan setiap kali menggunakan kata2 atau istilah2 bahasa Inggris jang bersangkutan masih merasa perlu untuk menerdjemahkannja ke dalam bahasa Indonesia. Belakangan kalangan jang selalu saja edjek sebagai keminggris (bahasa Djawa artinja ke-inggris2an) ini, sudah semakin banjak dan berbeda dengan pendahulu mereka … Lanjutkan membaca “Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

“Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

Dit is een Nederlandse versie van een reeds in het Indonesisch gepubliceerd artikel. Dit artikel is gebruikt in het kader van tentoonstelling Gouden Tijden Zwarte Bladzijden in Deventer. De Spanjaarden deden het in de Filipijnen, Portugezen in Oost-Timor, de Fransen in Indochina, en de Britten in Birma: deze kolonisators legden hun taal op aan de inheemse bevolking. Maar Nederland deed dat niet in Indië. Daar bleef de bevolking de handelstaal Maleis gebruiken. In andere Nederlandse koloniën, zoals Suriname en de Antillen, moest wél Nederlands worden geleerd en gesproken. Hoe is dit verschil in taalpolitiek te verklaren? In Afrika, Zuid-Azië en Latijns-Amerika … Lanjutkan membaca “Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono