“Kuburan massal di Spanjol: San Fernando di Sevilla versus San Rafael di Málaga” oleh Joss Wibisono

Setelah kuburan djenderal besar Francisco Franco dibongkar kemis 24 oktober, maka keturunan para korban diktator militer Spanjol ini beralih menuding dua gembong tentara lain yang masih enak2an nongkrong di dalem kuburan terhormat. Maklum keluarga para korban itu masih banjak jang tergeletak dalam kuburan massal, tak tahu di mana pastinja. Mereka masih harus digali dan diindentifikasi melalui udji DNA. Tentu keturunan korban ini tidak rela melihat para pembunuh jang terus enak2an nongkrong di dalem geredja alias kuburan terhormat, sementara nenek mojang mereka bergeletakan di kuburan massal, tidak dalam makam jang djelas dan djuga tidak teridentifikasi.

Salah satu kontroverse itu menjangkut makam djin(deral) Gonzalo Queipo de Llano (lafal: keipo de yano), karena sedjak koit tahun 1951 dia mingsih enak2an bergeletakan di dalem katedral La Macarena di Sevilla (lafal: seviya). Wektu berkuwasa djin Queipo de Llano mendapat gelar virrey de Andalucía alias radja muda Andalucía, dia bertanggung djawab bagi kematian 45 ribu orang, mereka dianggep komunis, anarkis, sosialis maupun simpatisan kiri lain. Queipo de Llano djuga memerintahkan exekusi penjair Federico García Lorca jang penjuka sedjenis.

Queipo de Llano memang sangat anti LGBT. Dia pernah bilang bahwa mereka jang ke-bantji2an atau pendiam dan menghina gerakan akan dibunuh seperti seekor andjing. Nah, dia bukan ngomong azha soal ini, tapi ini bener2 dilakukannja. Sedjarawan Irlandia Ian Gibson menulis bahwa adalah Quiepo de Llano sendiri jang melalui pembitjaraan telpon telah memerintahken pembunuhan penjair Federico García Lorca. Pernah denger penjair terkenal Spanjol ini? Dia penjuka sedjenis dan sampai sekarang orang gak tahu di mana kuburnja. Dan memang sebagai penguasa militer wilajah Andalucía, Spanjol selatan, hobi Queipo de Llano adalah memerintahkan pembunuhan lawan politiknja.

Sudah sedjak tahun 2016 junta (sematjem pemerintah) regio Andalucía memerintahken pembongkaran kuburan djin Queipo de Llano dari katedral La Macarena. Waktu itu dilakukan pembongkaran terhadap dua makam djin lain, jaitu Emilio Mola dan José Sanjurjo di Pamplona, Spanjol utara. Tapi geredja katolik, dalam hal ini apa jang menamaken diri La Hermandad de la Macarena sematjem pengurus basilika La Macarena, selalu menolak pemindahan djenazah Queipo de Llano. Maklum berkat djin ini maka basilika itu bisa dibangun pada tahun 1940an. Ingat waktu itu dia mingsih mendjabat radja muda Andalucía. Dan ketika dia koit setahun sesudah itu, pastilah djin ini dikubur di situ.

Salah satu arena pembantaian terletak dekat sekali dengan La Macarena. Begitu keluar dari geredja katedral ini, di sebelah kanan (sisi kesukaan Queipo de Llano dan kalangan fasis lain) orang akan melihat tembok lama kota Sevilla. Di bagian luar tembok sekarang terdapat tugu peringatan korban2 jang dibunuh semasa perang saudara di Spanjol antara 1936-1939. Pada monumen itu tertera “En memoria de los fusilados en estas murallas por defender la legalidad republicana, la libertad y la justicia” kira2 berarti “Untuk mengenang mereka jang ditembak mati pada tembok2 ini demi mempertahankan legalitas republik, kebebasan dan keadilan”. Dan memang 80 tahun setelah peristiwanja, pada tembok2 kota Sevilla itu masih terlihat lubang2 bekas tembakan peluru. Setelah ditembak mati di situ, korban kemudian diangkut ke kuburan San Fernando, sekitar dua kilometer di sebelah utara katedral La Macarena.

Tembok kota Sevilla dan plakat mengenang korban pembunuhan
Tembok kota Sevilla dan plakat mengenang korban pembunuhanTembok kota Sevilla dan plakat mengenang korban pembunuhan

Di San Fernando terdapat paling sedikit tiga areal kuburan massal. Areal terbesar berbentuk lapangan terletak di sebelah kanan (ingat sisi kesukaan kalangan fasis) bundaran kedua (bernama Rotonda de la Caridad), sekitar 500 meter dari pintu masuk. Kuburan massal kedua terletak di sebelah kiri bundaran kedua, berbentuk dua segitiga. Kuburan massal ketiga terletak di sebelah barat dua segitiga ini, berbentuk segi empat. Berlainan dengan dua kuburan massal terdahulu, terlihat pelbagai tanda di situ jang menjebabkan orang tahu bahwa itu adalah kuburan massal.

Ada tanda2 resmi dan ada pula tanda2 tak resmi. Tanda2 resmi adalah plakat dan salib berwarna hitam. Salib itu dipasang oleh seorang pandai besi jang kehilangan saudaranja, hebatnja dia memasang salib itu tatkala diktator militer Franco berkuasa. Ternjata tidak satupun kaki tangan Franco marah atau mentjabut salib hitam itu. Tanda2 tidak resmi terlihat sebagai foto2 para korban jang ditempel pada pohon. Ada foto jang djelas memperlihatkan wadjah korban, ada pula foto jang tanpa wadjah korban. Pada tahun 1930an fotografi memang belum berkembang. Terlihat sekuntum bunga mawar putih jang masih seger tertempel melintasi beberapa foto.

Di kuburan massal terachir ini konon terbaring orang2 penting kota Sevilla, mulai dari walikota, para pemimpin partai politik, pemimpin serikat buruh dan pedjabat kota lain. Djumlah mereka jang terbaring pada kuburan massal terachir ini diperkirakan mentjapai tiga ribu orang. Keluarga para korban terus berupaja sekuat tenaga supaja anggota keluarga ini memperoleh pemakaman bermartabat dan tidak terus terhimpun di kuburan massal itu. Diharapkan pada awal tahun depan akan dimulai pembongkaran dan identifikasi korban.

Di lain pihak, keluarga para korban djuga terus berupaja sekuat tenaga supaja kuburan djin Queipo de Llano jang memerintahkan semua pembunuhan dibongkar. Setiap sabtu terachir dalam bulan mereka berdemonstrasi di depan katedral La Macarena memperkuat tuntutan supaja tulang belulang tokoh genosida ini dibongkar. Setelah kuburan Franco dibongkar achir oktober 2019, mereka sangat berharap kuburan Queipo de Llano djuga memperoleh perlakuan serupa. Mereka tidak mau melihat seorang pembunuh terus dimakamken begitu terhormat di dalem geredja katedral.

Ada dua faktor jang menjebabkan mengapa makam djin Queipo de Llano tidak djuga di-bongkar2. Pertama pengadilan Sevilla jang tidak bersedia diganggu gugat tempo kerdjanja. Mereka menolak untuk setjara chusus menangani kasus Queipo de Llano jang sudah masuk. Kedua, pemindahan ini djuga melibatkan La Hermandad de la Macarena sematjem pengurus basilika La Macarena. Setelah pemindahan djenazah Franco achir oktober 2019, La Hermandad sudah tidak bisa lagi bersikap keras kepala menolak pemindahan tulang belulang Queipo de Llano. Sekarang mereka sudah menjetudjui tempat jang akan merupakan makam si djin.

Piramida kuburan massal San Rafael
Piramida kuburan massal San Rafael

Suasana makam San Rafael di Málaga, sekitar 200 kilometer sebelah tenggara Sevilla, sudah lebih lumajan. Dari kedjauhan, orang segera melihat piramida, itulah monumen untuk mengenang genosida akibat perang saudara jang diresmikan pada 2014. Dan tatkala mendekat, orang akan segera melihat bahwa pada piramida itu tertera nama2 orang. Nama keluarga ditulis terlebih dahulu, baru nama baptis. Terbatja: Perez, Pineda, Portillo, Reyes, Priero dan seterusnja. Mereka djuga merupakan korban2 djin Queipo de Llano jang waktu itu memang menguasai seluruh wilajah Andalucía, djadi bukan hanja Sevilla melainkan djuga Málaga dan kota2 Spanjol selatan lain seperti Córdoba, Granada, Ronda, Cádiz dan Almeria.

Málaga memang termasuk awal dalam menangani masalah kuburan massal kota itu. Pada 2006 sudah dilakukan penggalian, tiga tahun kemudian, tepat pada tanggal dan bulan jang sama jaitu 16 oktober 2009 berachirlah penggalian itu. Ditemukan sembilan kuburan massal, dari 4471 orang jang dibunuh, sekarang sudah berhasil diidentifikasi 2840 korban. Dokter ahli forensik jang memimpin penggalian dan identifikasi bertutur korban termasuk dua orang perempuan hamil. Memang masih dibutuhkan waktu lagi sebelum semua korban di makam San Rafael akan diidentifikasi. Tapi djelas Málaga lebih duluan ketimbang Sevilla jang berharap penggalian di makam San Fernando akan dimulai pada musim semi 2020. Sebelum itu, keluarga korban sangat berharap makan djin Queipo de Llano sudah dibongkar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.