“Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama. Hasil reportase pertamaku ke luwar negeri. Dalam hal ini ke Leipzig di Djerman Timur, dua minggu setelah Tembok Berlin bobol, November 1989. Diumumkan oleh Madjalah Editor, No. 13/Thn. III/2 Desember 1989, halaman 89-90 Leipzig, kota industri, pusat perlawanan kaum pembangkang, tak pernah sepi dari demonstrasi. Leipzig, Djerman Timur, 21 November 1989. Pedagang kristal Walter Dreyers tampak ter-buru2 melajani pengundjung tokonja. Di seberang toko itu, lontjeng Geredja Thomas –tempat komponis Johann Sebastian Bach 200 tahun silam mementaskan karja2nja–  berdentang empat kali. Mengapa ter-buru2 tutup? Pak tua itu mendjawab singkat, “Demo!” Leipzig, tak pelak lagi, merupakan pusat perlawanan rakjat … Lanjutkan membaca “Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

“Festival, istana, kuil dan hotel tjinta di Kyoto” oleh Joss Wibisono

Versi lain tjatatan perdjalanan ini diumumkan oleh Majalah Historia No. 2 Tahun 1, 2012 pada rubrik Time Traveler jang nongolnja pada halaman2 14 sampé 19. Kalau Chairil Anwar hanja bisa menjatakan mau hidup 1000 tahun lagi, Kyoto sudah pernah selama itu mendjadi kota nomer satu Djepang. Bisalah dimaklumi belaka kalau pada tahun 1869, ketika Kaisar Meiji jang masih ABG (16 tahun) memindahkan ibukota ke Edo (sekarang Tokyo), ratusan ribu warga Kyoto meratap. Dengan sesenggukan bertjutjuran air mata mereka melambaikan tangan pada iring2an kaisar jang bergerak ke arah timur. Para warga berduka: kota tertjinta kehilangan status sebagai ibukota. Dan seolah klaju … Lanjutkan membaca “Festival, istana, kuil dan hotel tjinta di Kyoto” oleh Joss Wibisono

“Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono

Harep ini link diklik doeloe dan videonja dilihat en didenger. Kalow tida soeka sama jang namanja opera, tjoekoeplah bebrapa minit sadja lihatnja. Sak soedanja itoe baroe batja ini toelisan lebih landjoet. Freudian Itu tadi aria Allein! Weh, ganz allein! dari opera Elektra tertjipta oleh Richard Strauß [1864-1949] jang libretto (sjairnja) terkarang oleh Hugo von Hofmannsthal atas satoe dramanja Sophokles, poedjangga Joenani poerbakala. Dalem ini aria Elektra menjataken dia ada rindoe loewar biasah sama dia poenja bapak. Ma’loem Elektra ada poenja rasa birahi sama bapaknja dia. Inilah kebalikan Oedipus, soalnja Oedipus ada rasa sjoer sama dia poenja iboe. Maka kalow ada … Lanjutkan membaca “Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono

“Bersih2 di Rosse Buurt Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Versi lain ini tulisan nongol di U-Mag edisi Februari 2011, halaman 84-93. Djudulnja “Suatu sore di Rosse Buurt”. Dimuwat di sini, soalnja ada kabar sedih: U-Mag berachir. TJERITA TENTANG pelaut jang langsung tjari pelampisan begitu kapal mereka membuang sauh mungkin berasal dari Amsterdam. Dari bilangan Rosse Buurt, di djalan jang bernama Zeedijk, persisnja. Maklum, bagian tertua Amsterdam inilah salah satu tempat mendjadjakan sex jang paling tua dan, bisa djadi, paling terkenal di belahan bumi bagian Barat. Dulu sekali, sekitar abad ke 15, Zeedijk memang masih merupakan pinggiran laut. Di situlah para kelasi mendjedjakkan kaki tatkala kapal mereka merapat. Makna harafiah … Lanjutkan membaca “Bersih2 di Rosse Buurt Amsterdam” oleh Joss Wibisono

“Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Salah satu daja tarik Amsterdam jang menjebabkan saja pada achir 1987 berkeputusan mendjadi penduduknja adalah amburadulnja situasi ibukota Belanda ini. Berlainan dengan Hilversum misalnja, kota tempat Radio Nederland bermarkas (waktu itu saja kerdja untuk seksi Indonesia), di Amsterdam lampu merah tidak berarti orang benar2 dilarang menjeberang djalan. Kalau memang sudah tidak ada hambatan, katakan sadja sudah tidak ada lagi mobil jang lalu lalang, maka walau pun lampu masih merah, warga Amsterdam pasti akan njelonong menjeberang djalan. Selain itu, di Amsterdam djuga terdapat banjak sekali tjoretan dinding jang disebut grafitti. Banjak matjam tjoretan dinding di Amsterdam, tetapi jang saja sukai adalah … Lanjutkan membaca “Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono