“Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

Versi edjaan orde bau bisa dibatja dengan mengklik tautan ini. Pada 12 djuli 1938, M.H. Thamrin, atas nama fraksi nasonalis dalam de Volksraad, parlemen Hindia Belanda jang anggotanja ditundjuk (bukan dipilih) membuat kedjutan. Mulai hari itu, demikian tandasnja, dalam setiap sidang Volksraad (djadi bukan dalam sidang pandangan umum belaka) fraksinja hanja akan menggunakan bahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia. Thamrin berniat menindaklandjuti keputusan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo, pada djuni 1938, jang bertekad memperluas penggunaan bahasa Melajoe di pelbagai kesempatan umum. Bahasa Melajoe, menurut Thamrin, harus sebanjak mungkin digunakan, supaja ditingkatkan mutunja dan terangkat dari keterpurukan. Dengan menggunakan bahasa … Lanjutkan membaca “Antjaman perang bahasa” oleh Joss Wibisono

”Nasionalisme bahasa: dari Soempah Pemoeda sampai keminggris” wawantjara dengen Joss Wibisono

Dalam rangka Soempah Pemoeda, situs Terakota.id mewawantjaraiku. Semula mereka kira dan begitu djuga aku kira, wawantjara itu pendek sadja. Tapi berhubung aku sedang mikir2 tentang bahasa Indonesia, dan punja gagasan jang lebih chusus lagi tentang nasionalisme bahasa, maka djawabanku tidak pendek, bahkan super pandjang. Ada beberapa sjarat jang aku adjuken kepada pengelola situs, sebelum mendjawab pertanjaan mereka. Misalnja harap djawabanku tidak dipotong, tapi dimuat setjara berseri. Kemudian edjaan Suwandi jang aku gunaken harap tidak diganti dengan edjaan Van Ophuysen atau edjaan jang sekarang berlaku, apapun nama itu edjaan. Baru setelah mereka setudju pada sjarat2 jang kukemukakan, djawaban mulai kutulis. Pandjangnja … Lanjutkan membaca ”Nasionalisme bahasa: dari Soempah Pemoeda sampai keminggris” wawantjara dengen Joss Wibisono

“Bahasa Indonesia: pernahkah didjadjah?” oleh Joss Wibisono

Dalam rangka bulan bahasa oktober ini diturunken wawantjara tertulis jang dilakuken oleh Zach Szumer terhadep diriku. Zach adalah orang Australia jang sekarang kajaknja lagi ngendon di Djakarta. Djika dibandingkan dengan banjak negara pasca-kolonial lainnja (misalnja Filipina, Malaysia, Singapura, India) Indonesia djauh lebih sukses dalam menerapkan bahasa nasional jang menjatukan berbagai suku/ras jang memiliki bahasa masing2. Namun demikian, banjak artikel tentang perkembangan bahasa Indonesia jang saja batja berargumen bahwa bahasa Indonesia, dan terutama bahasa Indonesia jang baik dan benar, berada di situasi jang vulnerable/precarious (maaf saja tidak bisa ketemu padanan bahasa Indonesia jang tepat untuk ‘precarious’, menurut temanku repas/rentan tidak tjukup … Lanjutkan membaca “Bahasa Indonesia: pernahkah didjadjah?” oleh Joss Wibisono