“Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow lebih demen batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Sopir, toilet, trotoir dan bangkrut: apa persamaan empat kata itu? Harap djangan kaget: keempatnja sekedar tjontoh kata2 Prantjis jang kita serap masuk ke dalam bahasa Indonesia. Dua jang di tengah masih mirip aslinja, orang Prantjis mengedja keduanja sebagai toilettes dan trottoir dan melafalkan oi sebagai oa. Dua jang lain sudah kita ubah dalam edjaan sendiri, karena sopir dalam bahasa Prantjis adalah chauffeur dan mereka mengedja bangkrut sebagai banqueroute. Bagaimana mungkin kita bisa menjerap bahasa ini? Bukankah —lain dari Indochine (sekarang Vietnam, Laos atau Kambodja)— kita tidak pernah didjadjah Prantjis? … Lanjutkan membaca “Berdialektika immaterialis dengan Prantjis” oleh Joss Wibisono

“Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 15 juin 2013, pp. 41-52 On a souvent ignoré le rôle du colonialisme dans le rapprochement de styles musicaux. Pourtant, dans le cas du gamelan (musique traditionnelle de Java et Bali), il existe des convergences avec la musique occidentale qui méritent l’attention. Son influence sur la composition de musiciens eurasiens provient de rencontres inattendues qui ont eu lieu pendant la période coloniale. Des compositeurs célèbres comme le Français Claude Debussy (1862-1918) ont pu voir et écouter à Paris du gamelan et c’est ce type d’influence qu’on retrouve dans certaines parties de son répertoire. On … Lanjutkan membaca “Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

“Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja daripada versi EYDnja (kerna sudah kemakan orde bau), dipersilahken mengeklik di sini Zaman sekarang sulit dibajangken ada sebuwah album rekaman jang berisi lagu2 dalem bahasa2 Sunda, Indonesia, Belanda, Djerman dan Prantjis. Dua bahasa Timur dan tiga bahasa Barat dalam satu album rekaman. Bagaimana itu mungkin? Itulah hasil rekaman Bernadeta Astari, soprano Indonesia jang tahun lalu meraih gelar master pada Konservatorium Utrecht, Belanda tengah.   2012 memang tahun istimewa bagi Deta, panggilan akrab soprano jang lahir dan dibesarkan di Djakarta ini. Selain lulus dengan pudjian, dia djuga berhasil menggondol edisi pertama piala Dutch Classical Talent Award. Lebih … Lanjutkan membaca “Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

“Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

An earlier version of this essay has appeard on CSEAS Newsletter Number 65, Spring 2012, pp 21-4 The role of colonialism has often been overlooked when examining the merging of musical genres. Yet in the case of gamelan (traditional music of Java and Bali) there are some interesting conjunctions with western classical music. Influences in the compositions of Eurasian composers were also born out of unexpected unions that developed through colonial encounters. Renowned composers such as the French composer Claude Debussy [1862-1918] watched and listened to Sari Oneng, an ensemble of Sundanese gamelan from West Java in Paris, and it … Lanjutkan membaca “Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono