“Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan tapi tetep dalam edjaan Suwandi telah nongol di Tirto.id Ada satu perkembangan dalam bahasa Indonesia jang belakangan begitu meluas sehingga merisaukan dan membuat saja risi. Perkembangan itu adalah semakin galaknja pentjampuradukan bahasa nasional dengan bahasa Inggris. Harus diakui ini bukan hal baru, sudah sedjak sekitar tahun 1980an orang suka sekali melakukannja. Waktu itu djumlah mereka masih sedikit dan setiap kali menggunakan kata2 atau istilah2 bahasa Inggris jang bersangkutan masih merasa perlu untuk menerdjemahkannja ke dalam bahasa Indonesia. Belakangan kalangan jang selalu saja edjek sebagai keminggris (bahasa Djawa artinja ke-inggris2an) ini, sudah semakin banjak dan berbeda dengan pendahulu mereka … Lanjutkan membaca “Keminggris dan nasionalisme jang tjompang tjamping” oleh Joss Wibisono

“Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja EYD, silahken ngeklik ini, tapi versi itu gak terlalu djudes Tatkala sekarang Britania ber-siap2 meninggalkan Uni Eropa, beberapa orang politisi Prantjis mentjium kesempatan emas untuk mengkikis habis dominasi bahasa Inggris. Demikian diberitaken oleh harian pagi Amsterdam de Volkskrant pada edisi rebo 29 djuni 2016, halaman lima bawah. “Bahasa Ingris tidak bisa lagi merupakan tiga bahasa kerdja parlemen Eropa,” demikian kitjauan Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai kiri Parti de Gauche, dalam twitternja. Tiga bahasa kerdja parlemen Eropa itu adalah bahasa2 Djerman, Prantjis dan Inggris. Molière versus Shakespeare Politikus lain, jaitu Robert Ménard, walikota Béziers, kota ketjil di wilajah … Lanjutkan membaca “Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono