“Geert Wilders dan balas dendam kalangan Indo di Belanda” oleh Lizzy van Leeuwen

Klow bisanja tjuman batja dalem EYD silahken ngeklik ini: Sempat diramalkan bakal menang pemilu Belanda 15 maret 2017, Geert Wilders tjuma mereduksi kompleksnja politik mendjadi hanja masalah pendjagaan perbatasan, sensus dan migrasi. Untung ramalan ini meleset, tapi djelas retorika politik Wilders selalu meng-ulang2 soal displacedness atau pemindahan jang tak dikehendaki — bukan kebetulan karena itu djuga merupakan sedjarah tersembunji keluarganja jang berdarah tjampur alias Indo. KEMBALI DIA BERHASIL: pelbagai kepala berita koran2 Eropa pada djuni 2009 memuat rentjana Geert Wilders untuk mengusir ‘djutaan, puluhan djuta’ Muslim Eropa kalau mereka matjam2 dan menjebabkan masalah. Utjapan ini dilontarkan sang pemimpin PVV (singkatan … Lanjutkan membaca “Geert Wilders dan balas dendam kalangan Indo di Belanda” oleh Lizzy van Leeuwen

“Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu yang dalam EYD bisa dilihat di sini. Kebebasan, terutama kebebasan berpendapat jang didjundjung tinggi di Belanda, sekarang dalam antjaman. Masalahnja sedjarawan dan kolumnis Thomas von der Dunk dibungkam. Dia dilarang bertjeramah soal persamaan antara Nazi di Djerman zaman dulu dengan PVV, partai kebebasan pimpinan Geert Wilders di Belanda zaman sekarang. Tentu sadja, PVV jang anti Islam itu termasuk salah satu pihak jang melarangnja. Untuk kita di Indonesia pidato Thomas von der Dunk ini relevan, terutama karena dia djuga menulis tentang upaja kemerdekaan kita jang dihalang-halangi oleh Belanda. Dihukum mati Arondéuslezing adalah tjeramah tahunan jang diselenggarakan oleh Provinsi Noord … Lanjutkan membaca “Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

“Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini esei jang ditulis dalem EYD diumumken sama Majalah Historia Online. Kalow gak dojan batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, ja silahken klik MHO. Tjuman di situ gak lengkap dan tjonto2 karja musiknja djuga gak banjak. Perupa Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kedjutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinja. Tampang asli? Ija, kerna ketika misih muda, usia awal 20an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu misih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indischnja. Wilders, seperti kita tahu, memang punja nenek mojang jang berasal dari Hindia Belanda, tjikal bakal … Lanjutkan membaca “Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono