“Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

Catatan awal: versi EYD tulisan ini sudah diumumkan pada situs Radio Nederland. Jadi kalau lebih terbiasa dengan ejaan orde baru itu, ya silahkan mengklik situs tersebut. Terus kalau ogah baca, juga silahkan mengklik situs Radio Nederland untuk mendengarkan versi audio resensi ini. Opera Java digelar di Amsterdam awal September 2010 untuk memperingati 100 tahun Tropenmuseum. Maka penonton disuguhi pertundjukan teater Djawa jang terus memperbaharui diri dan tanpa segan2 menampilkan hal2 jang bisa dinilai saru. Sepintas, terbesit kesan puritanisme telah kokoh mentjokoli masjarakat kita. Tengok sadja ketjaman massal terhadap video pornonja artis2 terkenal atau berlakunja UU Pornografi. Belum lagi ormas2 jang … Lanjutkan membaca “Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

“Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

In tegenstelling tot de literatuur spreekt men in de muziek, zeker de klassieke muziek, niet van plagiaat. Maar dat wil niet zeggen dat er niet over en weer wordt gepikt. Bijvoorbeeld de dans van de Rijndochters uit Das Rheingold van Wagner is gewoon een copy-paste van het eerste deel, het vivace, van Beethovens zevende symfonie. Om toch credit te geven aan de componist van het oorspronkelijke werk spreekt men van variaties op een thema. Beethoven zelf schreef 33 variaties op een wals van Diabelli en Rachmaninoff componeerde een Rhapsody op een thema van Paganini. Maar ja, als je blijft pikken, … Lanjutkan membaca “Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

“Fidelio: Beethoven soal Tapol, Bèntjong, Lesbi dan Gay” oleh Joss Wibisono

Tapol jang sampèk ini detik djuga misih ada di Maluku dan Papua (di sana misih zaman djahilijah orde baru, kajaknja jach), sebenernja sudah diangkat djadi thema opera oleh, siapa lagi kalow bukan, Ludwig van Beethoven [1770-1827]. Ini djelas pilihan logis satu komponist njang punja nama Beethoven kerna dia dikenal muak, sebel dan bentji terhadap tiran! Tiran bagi dia adalah penghambat kebebasan paling gedhé dan kerna itu harus terus diwaspadai, antara laen dèngen didjadiken opera itu! Siapa lagi kalow bukan Beethoven njang ada bikin robek2 halaman depan partitur dia punja simfoni ketiga, kerna di situ tertera nama Napoléon Bonaparte. Dia memang … Lanjutkan membaca “Fidelio: Beethoven soal Tapol, Bèntjong, Lesbi dan Gay” oleh Joss Wibisono

“Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

Larangan mendengarkan djenis musik tertentu ternjata bukan tjuma pengalaman kita di zaman Demokrasi Terpimpin dulu. Sekitar tiga dekade sebelumnja, di zaman Nazi, orang Djerman djuga sudah pernah mengalami larangan serupa (tentunja termasuk berbagai pembatasan lain). Persamaannja dengan pengalaman kita, menariknja lagi, ternjata tidak berhenti di sini sadja: pada masing2 zaman itu musik jang dilarang selalu diberi nama, djulukan jang djelas bersifat edjekan belaka. Seperti kita tahu, pada zaman Demokrasi Terpimpin musik jang dilarang disebut musik ngak-ngik-ngok, dan terwudjud pada kelompok Koes Bersaudara (kemudian terkenal sebagai Koes Plus) jang didjebloskan dalam pendjara karena berada di garis depan para pemusik à la … Lanjutkan membaca “Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

“Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini esei jang ditulis dalem EYD diumumken sama Majalah Historia Online. Kalow gak dojan batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, ja silahken klik MHO. Tjuman di situ gak lengkap dan tjonto2 karja musiknja djuga gak banjak. Perupa Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kedjutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinja. Tampang asli? Ija, kerna ketika misih muda, usia awal 20an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu misih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indischnja. Wilders, seperti kita tahu, memang punja nenek mojang jang berasal dari Hindia Belanda, tjikal bakal … Lanjutkan membaca “Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

“Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

Mohon perhatian: Siapa sadja boleh merudjuk tulisanku ini. Tapi tolong ditulis bahwa Anda merudjuknja. Kalangan mahasiswa/akademis sudah berbuwat demikian, menjebut eseiku ini pada referensi atow rudjukannja. Tapi tidaklah demikian dengan kalangan wartawan atau dunia pers, karena memang tidak umum bagi sebuwah laporan jurnalistik untuk djuga mentjantumken referensi. Walau begitu, supaja tak ditjap melakuken pendjiplakan atow plagiat, saja mendesak tulisan ini tetap disebut sebagai rudjukan djika Anda memang mengutipnja. Trims. Catatan awal: versi lain tulisan ini diumumkan oleh harian Kompas pada edisi Ahad 13 Maret 2011, di halaman 20, yang kemudian diambil alih oleh beberapa blog, antara lain blog ini. Untuk … Lanjutkan membaca “Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

“Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: Versi sedikit lain tulisan ini diumumkan oleh MBM Tempo yang kemudian juga disalin oleh Ivan Lanin dalam blognya Rubrik Bahasa. Kolom ini ditulis antara lain untuk menjawab kalangan yang menghimbau supaya saya menulis soal sex, film, dst. Dalam blog ini digunakan ejaan yang belum disempurnakan oleh orde barunya engkong harto. Selamat membaca dan silahkan berkomentar. Kalow bisa lebih dari unjuk jempol jach. Trims banget, sebelumnya. Ada baiknja tulisan ini diawali dengan dua larik sjair lagu Djoewita Malam, karja Ismail Marzuki [1914-1958]. “Djoewita malam siapakah gerangan toean Djoewita malam dari boelankah toean”. Kemudian dua larik lagi, masih karja komponis … Lanjutkan membaca “Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono