“Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja daripada versi EYDnja (kerna sudah kemakan orde bau), dipersilahken mengeklik di sini Zaman sekarang sulit dibajangken ada sebuwah album rekaman jang berisi lagu2 dalem bahasa2 Sunda, Indonesia, Belanda, Djerman dan Prantjis. Dua bahasa Timur dan tiga bahasa Barat dalam satu album rekaman. Bagaimana itu mungkin? Itulah hasil rekaman Bernadeta Astari, soprano Indonesia jang tahun lalu meraih gelar master pada Konservatorium Utrecht, Belanda tengah.   2012 memang tahun istimewa bagi Deta, panggilan akrab soprano jang lahir dan dibesarkan di Djakarta ini. Selain lulus dengan pudjian, dia djuga berhasil menggondol edisi pertama piala Dutch Classical Talent Award. Lebih … Lanjutkan membaca “Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

“Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

An earlier version of this essay has appeard on CSEAS Newsletter Number 65, Spring 2012, pp 21-4 The role of colonialism has often been overlooked when examining the merging of musical genres. Yet in the case of gamelan (traditional music of Java and Bali) there are some interesting conjunctions with western classical music. Influences in the compositions of Eurasian composers were also born out of unexpected unions that developed through colonial encounters. Renowned composers such as the French composer Claude Debussy [1862-1918] watched and listened to Sari Oneng, an ensemble of Sundanese gamelan from West Java in Paris, and it … Lanjutkan membaca “Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

“Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono

Harep ini link diklik doeloe dan videonja dilihat en didenger. Kalow tida soeka sama jang namanja opera, tjoekoeplah bebrapa minit sadja lihatnja. Sak soedanja itoe baroe batja ini toelisan lebih landjoet. Freudian Itu tadi aria Allein! Weh, ganz allein! dari opera Elektra tertjipta oleh Richard Strauß [1864-1949] jang libretto (sjairnja) terkarang oleh Hugo von Hofmannsthal atas satoe dramanja Sophokles, poedjangga Joenani poerbakala. Dalem ini aria Elektra menjataken dia ada rindoe loewar biasah sama dia poenja bapak. Ma’loem Elektra ada poenja rasa birahi sama bapaknja dia. Inilah kebalikan Oedipus, soalnja Oedipus ada rasa sjoer sama dia poenja iboe. Maka kalow ada … Lanjutkan membaca “Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono

“Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

Catatan awal: versi EYD tulisan ini sudah diumumkan pada situs Radio Nederland. Jadi kalau lebih terbiasa dengan ejaan orde baru itu, ya silahkan mengklik situs tersebut. Terus kalau ogah baca, juga silahkan mengklik situs Radio Nederland untuk mendengarkan versi audio resensi ini. Opera Java digelar di Amsterdam awal September 2010 untuk memperingati 100 tahun Tropenmuseum. Maka penonton disuguhi pertundjukan teater Djawa jang terus memperbaharui diri dan tanpa segan2 menampilkan hal2 jang bisa dinilai saru. Sepintas, terbesit kesan puritanisme telah kokoh mentjokoli masjarakat kita. Tengok sadja ketjaman massal terhadap video pornonja artis2 terkenal atau berlakunja UU Pornografi. Belum lagi ormas2 jang … Lanjutkan membaca “Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

“Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

In tegenstelling tot de literatuur spreekt men in de muziek, zeker de klassieke muziek, niet van plagiaat. Maar dat wil niet zeggen dat er niet over en weer wordt gepikt. Bijvoorbeeld de dans van de Rijndochters uit Das Rheingold van Wagner is gewoon een copy-paste van het eerste deel, het vivace, van Beethovens zevende symfonie. Om toch credit te geven aan de componist van het oorspronkelijke werk spreekt men van variaties op een thema. Beethoven zelf schreef 33 variaties op een wals van Diabelli en Rachmaninoff componeerde een Rhapsody op een thema van Paganini. Maar ja, als je blijft pikken, … Lanjutkan membaca “Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

“Fidelio: Beethoven soal Tapol, Bèntjong, Lesbi dan Gay” oleh Joss Wibisono

Tapol jang sampèk ini detik djuga misih ada di Maluku dan Papua (di sana misih zaman djahilijah orde baru, kajaknja jach), sebenernja sudah diangkat djadi thema opera oleh, siapa lagi kalow bukan, Ludwig van Beethoven [1770-1827]. Ini djelas pilihan logis satu komponist njang punja nama Beethoven kerna dia dikenal muak, sebel dan bentji terhadap tiran! Tiran bagi dia adalah penghambat kebebasan paling gedhé dan kerna itu harus terus diwaspadai, antara laen dèngen didjadiken opera itu! Siapa lagi kalow bukan Beethoven njang ada bikin robek2 halaman depan partitur dia punja simfoni ketiga, kerna di situ tertera nama Napoléon Bonaparte. Dia memang … Lanjutkan membaca “Fidelio: Beethoven soal Tapol, Bèntjong, Lesbi dan Gay” oleh Joss Wibisono

“Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

Larangan mendengarkan djenis musik tertentu ternjata bukan tjuma pengalaman kita di zaman Demokrasi Terpimpin dulu. Sekitar tiga dekade sebelumnja, di zaman Nazi, orang Djerman djuga sudah pernah mengalami larangan serupa (tentunja termasuk berbagai pembatasan lain). Persamaannja dengan pengalaman kita, menariknja lagi, ternjata tidak berhenti di sini sadja: pada masing2 zaman itu musik jang dilarang selalu diberi nama, djulukan jang djelas bersifat edjekan belaka. Seperti kita tahu, pada zaman Demokrasi Terpimpin musik jang dilarang disebut musik ngak-ngik-ngok, dan terwudjud pada kelompok Koes Bersaudara (kemudian terkenal sebagai Koes Plus) jang didjebloskan dalam pendjara karena berada di garis depan para pemusik à la … Lanjutkan membaca “Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono