“Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu jang lebih pendekan telah nongol di Tirto.id Selain nama pulau2, gunung2 dan sungai2 Nusantara, djalan2 di kota2 Belanda si bekas pendjadjah djuga ada jang menggunakan nama pahlawan2 kita. Djadi, selain Javastraat atau Sumatrastraat, djuga ada Brantasgracht dan Semerustraat, tapi jang terpenting ada pula R.A. Kartinistraat, Sutan Sjahrirstraat atau Mohamed Hattastraat. Harap diingat: straat (djalan), gracht (kanal), singel (parit) atau plein (alun2/plaza) selalu harus digabung dengan nama orang, atau pulau, atau sungai jang merupaken namanja. Pantang dipisah. Begitulah tata bahasa Belanda jang pasti berbeda dengen tata bahasa Inggris jang memang memisahkan nama dari djalan. Di sini harap menulis setjara … Lanjutkan membaca “Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

“NKRI + Uni Eropa = terantjem bubar?” oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: versi awal tulisan ini pernah diumumken oleh harian Sinar Harapan pada tanggal 1 november 2001 dengan judul “Kita dan Balkan”. Versi berikut ditulis pada tahun 2006 untuk seorang rekan yang mau pensiun. Tapi tidak jadi, maka dari itu diumumkan di sini saja, barang tentu tidak dalem EYD. I PADA AWAL eseinja jang berisi pudjian kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Philip Bowring, kolumnis masalah Asia Timur dan Asia Tenggara untuk harian The International Herald Tribune, menulis sebagai berikut, Back in the last days of Suharto, the time of the Asian crisis and the East Timor mess, there were widespread … Lanjutkan membaca “NKRI + Uni Eropa = terantjem bubar?” oleh Joss Wibisono

“Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Salah satu daja tarik Amsterdam jang menjebabkan saja pada achir 1987 berkeputusan mendjadi penduduknja adalah amburadulnja situasi ibukota Belanda ini. Berlainan dengan Hilversum misalnja, kota tempat Radio Nederland bermarkas (waktu itu saja kerdja untuk seksi Indonesia), di Amsterdam lampu merah tidak berarti orang benar2 dilarang menjeberang djalan. Kalau memang sudah tidak ada hambatan, katakan sadja sudah tidak ada lagi mobil jang lalu lalang, maka walau pun lampu masih merah, warga Amsterdam pasti akan njelonong menjeberang djalan. Selain itu, di Amsterdam djuga terdapat banjak sekali tjoretan dinding jang disebut grafitti. Banjak matjam tjoretan dinding di Amsterdam, tetapi jang saja sukai adalah … Lanjutkan membaca “Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono