“Rawagede: Menguak Tjara Den Haag Berhitung” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini tulisan terbit di Koran Tempo, edisi 13 Desember 2011. Silahken ngeklik itu kalow tidak suka batja tulisan dalem edjaan Suwandi. Setelah permintaan maaf dan santunan ganti rugi kasus Rawagede, tibalah saatnja kita bertanja, mengapa Belanda baru melakukannja sekarang, 64 tahun setelah kedjadian? Mengapa tidak dulu2? Di sini utjapan Liesbesth Zegveld, pengatjara sembilan orang jang menggugat negara Belanda, bermakna penting karena menjiratkan djawabannja. Kepada pers Belanda, Zegveld dengan djitu menguraikan hitung2an politis dan ekonomis Den Haag. Per-tama2 dia menganggap pemerintah Belanda sebenarnja senang dengan keputusan pengadilan jang memenangkan para penggugat. Djumlah mereka sembilan, tetapi dua meninggal sebelum vonis … Lanjutkan membaca “Rawagede: Menguak Tjara Den Haag Berhitung” Oleh Joss Wibisono

“Malacañang lengang” oleh Joss Wibisono

Sekedar penghantar: ini tulisan dari zaman baheula, pernah diumumkan oleh Koran Kampus Satya Wacana, Salatiga, tahun 1986. Waktu itu kedjatuhan Marcos begitu mempesona. Siapa sadja terpana, termasuk aku. Lebih gawat lagi waktu itu aku begitu berambisi menulis dalem gaja sastra, gaja fiksilah. Itu djelas gagal, kerna djadinja tjuman gado2 matjam begini. Pembitjaraan djarak djauh itu terhenti. Kemudian menjusul djeda jang amat lama. Tentu sadja si lawan bitjara djadi bingung. Ia lalu bertanja, “Mister President, anda masih ada pada pesawat?” Djawaban jang didengar Senator Paul Laxalt amat lirih. “Ja, Senator. Tapi … saja amat, amat ketjewa”. Itulah pertjakapan Ferdinand Marcos pada … Lanjutkan membaca “Malacañang lengang” oleh Joss Wibisono

“Thanksgiving Day” oleh Joss Wibisono

Catatan awal: ini tulisan dari zaman baheula, diumumkan oleh majalah Dian Ekonomi, Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga edisi 2/1987, halaman 16-17. Seperti biasa untuk blog diganti dalem ejaan yang belon disempurnaken oleh orde barunya engkong harto. Suasana murung tampaknja meliputi peringatan thansgiving day di tengah2 the Reagans, di ranch mereka di Santa Barbara, California. Bajangkan: achirnja politik luar negeri Amerika berantakan, tanpa djuntrungan djelas. Setelah pengunduran diri John Poindexter dan Oliver North, orang2 masih menuntut supaja George Shultz dan Donald Regan djuga turun dari djabatan mereka. Bagaimana bisa melambungkan utjapan sjukur di tengah keruwetan ini? Bagaimana harus mensjukuri … Lanjutkan membaca “Thanksgiving Day” oleh Joss Wibisono

“Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

Pertama kali diumumkan oleh Gita Kampus XIII/1985, Koran Kampus Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Ketemu Onghokham dan bitjara soal thujul, asjik bukan? “Thujul memang asli Djawa,” Ong memulai. Maksudnja djelas, hanja orang Djawa jang punja thujul. Sajang, ketika tulisan ini diturunkan ke percetakan, Willi Toisuta masih di Djakarta, sehingga nggak sempat ditanjakan apakah di Ambon dan Kupang djuga ada thujul. “Tapi”, Ong berlandjut sambil geleng kepala, “Orang Djawa djangan keburu tepuk dada. Di Barat, di dunia bulé, djuga ada thujul!” Lho? Bener nih Pak Botak? Doktor sedjarah ini mulai memperoleh gugatan. “Ija!” Tegas Ong dalam djawatimuran jang medhok (dia kan … Lanjutkan membaca “Ketika Marx ketemu thujul” oleh Joss Wibisono

“Anomali Sedjarah” oleh Joss Wibisono

Versi awal tulisan ini diumumken oleh harian Sinar Harapan pada edisi 2 Oktober 2004. Sajang link-nja sudah mati, alias enggak bisa ditemuken lagi di situsnja koran itu. ADAKAH orde baunja Djindral Besuar Purnawirawan Hadji Mohamad Soeharto jang resminja sampai 32 tahun begitu mutlak menguasai pentas politik Indonesia punja akar sedjarahnja sendiri di bumi Nusantara? Sebagai kekuatan kanan misalnja? Bukankah orde bau tampil setelah berhasil sampai ke akar2nja mengganjang PKI beserta antèk2nja, jaitu pelbagai gerakan kiri jang lain? Dalam berupaja mendjawab pertanjaan di atas seorang peminat sedjarah Indonesia bisa dipastikan akan menumbuk anomali sedjarah atau sebutan mentèrèngnja: anomali historiografi Indonesia. Betapa … Lanjutkan membaca “Anomali Sedjarah” oleh Joss Wibisono

“Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu yang dalam EYD bisa dilihat di sini. Kebebasan, terutama kebebasan berpendapat jang didjundjung tinggi di Belanda, sekarang dalam antjaman. Masalahnja sedjarawan dan kolumnis Thomas von der Dunk dibungkam. Dia dilarang bertjeramah soal persamaan antara Nazi di Djerman zaman dulu dengan PVV, partai kebebasan pimpinan Geert Wilders di Belanda zaman sekarang. Tentu sadja, PVV jang anti Islam itu termasuk salah satu pihak jang melarangnja. Untuk kita di Indonesia pidato Thomas von der Dunk ini relevan, terutama karena dia djuga menulis tentang upaja kemerdekaan kita jang dihalang-halangi oleh Belanda. Dihukum mati Arondéuslezing adalah tjeramah tahunan jang diselenggarakan oleh Provinsi Noord … Lanjutkan membaca “Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

“Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

Larangan mendengarkan djenis musik tertentu ternjata bukan tjuma pengalaman kita di zaman Demokrasi Terpimpin dulu. Sekitar tiga dekade sebelumnja, di zaman Nazi, orang Djerman djuga sudah pernah mengalami larangan serupa (tentunja termasuk berbagai pembatasan lain). Persamaannja dengan pengalaman kita, menariknja lagi, ternjata tidak berhenti di sini sadja: pada masing2 zaman itu musik jang dilarang selalu diberi nama, djulukan jang djelas bersifat edjekan belaka. Seperti kita tahu, pada zaman Demokrasi Terpimpin musik jang dilarang disebut musik ngak-ngik-ngok, dan terwudjud pada kelompok Koes Bersaudara (kemudian terkenal sebagai Koes Plus) jang didjebloskan dalam pendjara karena berada di garis depan para pemusik à la … Lanjutkan membaca “Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono