“La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

Conférence tenue le 12 janvier 2018 lors de la présentation de l’ultime numéro de la revue Le Banian. De nos jours, la presse indonésienne est libre et jouit de bien plus de liberté que son homologue des Philippines, où les journalistes risquent leur vie dans l’exercice de leur travail. Cependant, on a tendance à oublier que cette situation dure depuis moins de vingt-cinq ans. Auparavant, surtout pendant le régime autoritaire de Suharto, la presse indonésienne était considérée comme l’une des plus censurées et des plus corrompues d’Asie du Sud-Est, voire du monde. Ma génération a accédé à la conscience politique … Lanjutkan membaca “La presse indonésienne: est-elle réellement critique et impartiale?” par Joss Wibisono

“Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD, silahken ngeklik ini. Kamis sore 16 Oktober itu Auditorium INALCO (singkatan bahasa Prantjis untuk Institut Nasional Bahasa dan Kebudajaan Timur) di Paris tenggara, tampak mulai ramai. Seperti air menetes, pengundjung berdatangan menghadiri seminar bertadjuk “Paris vu de Djakarta” alias “Paris dipandang dari Djakarta”. Atjara utama seminar bienale (dua tahunan) ini adalah peluntjuran Retour, terdjemahan bahasa Prantjis novel Pulang karja penulis Indonesia Leila S. Chudori. Dari sela2 pengundjung jang mulai memadati ruangan menudju auditorium, sesekali menjembul seorang perempuan jang begitu sibuk mengurusi ini itu. Sore itu Johanna Lederer bergaun tjoklat kemerahan dengan selendang songket biru berdjuntai … Lanjutkan membaca “Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

“Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

Artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” dalam suplemen chusus 40 tahun Tempo,  mendjelaskan bagaimana madjalah mingguan ini bersusah pajah merawat bahasa Indonesia. Isinja bukan tjuma proses menemukan kata2 baru, tapi djuga bagaimana menghindari kata2 jang dianggap salah dan mengapa kata2 itu salah. Walau begitu ada satu hal penting jang luput. Mungkin karena medium tjetak, Tempo tidak terlalu berurusan dengannja. Itulah masalah lafal. Sebelum itu perlu ditegaskan artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” djuga berkisar tentang perlawanan. Perlawanan karena, misalnja, Tempo menolak menggunakan bahasa birokrat atau penguasa. Tidak diuraikan lebih landjut bahasa seperti apa itu. Tapi kita mafhum: di mana2 bahasa birokrat selalu … Lanjutkan membaca “Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono