“50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain tindjauan pers ini telah nongol di madjalah Historia No 25, halaman 17-19. Lima puluh tahun G30S ternjata djuga mendjadi pemberitaan media massa Belanda, negeri bekas pendjadjah. Bukan tjuma koran, mingguan atau media tjetak lain jang memberitakannja, tapi djuga radio dan televisi serta tak ketinggalan situs web. Menariknja, ketika mingsih adaaa sadja media massa Indonesia jang gak bosen2nja meng-ulang2 sudut pemberitaan seperti 50 tahun silam (keminggrisnja gak bisa move on) jaitu G30S terus2an dipandang sebagai bentrokan ideologis antara PKI dan mungsuh2nja (seperti maunja orde bau), maka media massa Londo si bekas pendjadjah sudah sama sekali meninggalkan sudut pandang kuno … Lanjutkan membaca “50 tahun G30S dalam sorotan pers Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah. Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran. DI BUMI KELAHIRANNJA, Indonesia, nama Hella Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, … Lanjutkan membaca “Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

“Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem edjaan orde bau nongolnja di Bali Post edisi 20 desember 2015, di sekudjur halaman 4. BULAN NOVEMBER 2015, het Muziektheater jaitu gedung opera Amsterdam, ibukota Belanda, mementaskan dua opera karja komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Opera pertama berdjudul Dialogues des Carmélites (Tjeloteh biarawati Karmelites) sedangkan opera kedua, lebih pendek dan surealistis, berdjudul Les mamelles de Tirésias artinja pajudara Tirésias. Sepintas bagi kita orang Indonesia tak ada jang istimewa pada kedua pertundjukan. Apa sich istimewanja sebuah pertundjukan opera di ibukota negeri bekas pendjadjah? Bukankah itu kegiatan rutin belaka? Keistimewaan baru terdengar kalau kita mengamati kedua opera … Lanjutkan membaca “Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

“Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera'” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD (jang enggak didemenin sama Oom Ben) silahken ngeklik ini. Aku kenal pribadi Ben Anderson, dikenalkan oleh Sidney Jones, wektu melawat ke Freeville tahun 1991. Dengannja aku biasa ngobrol tentang banjak hal: bahasa, politik, tentara, masak memasak (dia ternjata suka sajur kale bahasa Inggris atau boerenkool bahasa Belanda masak teri dan lombok, buwatanku) dan terutama musik klasik. Ben Anderson paling suka salah satu karja terachir Richard Strauss berdjudul Vier Letzte Lieder (empat lagu terachir) dibawakan oleh mendiang soprano Suisse Lisa della Casa, tapi paling bentji Beethoven. Berikut kenanganku tentang sobat jang satu ini. Benedict Richard O’Gorman … Lanjutkan membaca “Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera’” oleh Joss Wibisono

“Enaknja jang mana: pilkada atau pemilukada?” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem EYD alias edjaan orde bau bisa dibatja klow mengklik ini Dulu —tatkala DPR meloloskan UU pemilihan kepala daerah tak langsung— orang sudah memperbintjangkannja. Sekarang —mendjelang serempak berlangsungnja pemilihan kepala daerah— lagi2 perbintjangan itu kembali terdengar. Dulu itu orang tidak hanja membahas apakah pemilihan kepala daerah sebaiknja dilakukan langsung oleh warga daerah atau pemilihan tidak langsung jang, atas nama rakjat daerah, didjalankan oleh dewan perwakilan rakjat daerah tertentu. Sekarang orang tidak hanja membitjarakan pelbagai politisi jang mentjalonkan diri pada pemilihan kepala daerah jang akan digelar serempak pada beberapa daerah. Bersamaan dengan itu baik sekarang maupun dulu … Lanjutkan membaca “Enaknja jang mana: pilkada atau pemilukada?” oleh Joss Wibisono

“Budaja takut kembali mentjekam Indonesia” oleh koresponden Michel Maas

Ini terdjemahan wasweswos laporan Michel Maas jang pada hari senin 26 oktober 2015, terbit di harian de Volkskrant, halaman 15. Pembunuhan massal orang2 komunis di Indonesia terdjadi 50 tahun silam. Tapi berbitjara dju2r tentang ‘1965’ te2p tidak mungkin. Lebih2 lagi: sensor sekarang kembali beroperasi sepenuhnja. Mendadak sontak sensor kembali sepenuhnja hadir di Indonesia. Hanja menjebut tahun 1965 sadja orang sudah bakal kena masalah. “Sepertinja sensor kembali mendjadi mode dari hari ini ke besoknja,” keluh seorang direktur sebuah festival sastra jang begitu kaget lantaran kundjungan polisi. Pada sebagian atjaranja, festival jang dibuka rebo mendateng ini sedianja djuga akan membahas pembunuhan massal … Lanjutkan membaca “Budaja takut kembali mentjekam Indonesia” oleh koresponden Michel Maas

“Memahamin foto2 exekusi jang ditemuken di Gouda” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit laen dan dalem EYD bisa dibatja dengen mengklik ini. Berita dan foto di harian de Volkskrant edisi Djumat 16 Oktober 2015 tentang eksekusi di Indonesia pada zaman perang kemerdekaan dulu, diteruskan oleh televisi dan radio Belanda jang lebih landjut mengupas foto2 itu. Memang hanja foto dan slides jang ditemukan di Verzetsmuseum (Museum Perlawanan) Gouda, pendjelasannja tidak ada. Kepada NPO-Radio 1, radio publik Londo, sedjarawan Louis Zweers, spesialis foto2 dekolonisasi Indonesia, menjatakan bahwa penemuan terachir ini tidak menjertakan konteksnja. Itu berarti, demikian Zweers, tidak ada informasi mengenai di mana, kapan, siapa dan apa jang sebenarnja terdjadi. Padahal informasi … Lanjutkan membaca “Memahamin foto2 exekusi jang ditemuken di Gouda” oleh Joss Wibisono

“Pahlawankanlah Munir” oleh Joss Wibisono

Ini mingsih rantjangan, klow ada wektu akan tak garap lebih landjut Pada tanggal 30 November 2004, de Tweede Kamer jaitu parlemen Belanda mengadakan debat tetang kematian aktivis hak2 asasi manusia Indonesia Munir. Dua bulan sebelumnja, pada 7 September 2004 (hari ini tepat 11 tahun lalu), Munir ditemukan tewas dalam pesawat Garuda jang menerbangkannja dari Djakarta. Dalam debat parlemen itu dibahas pelbagai hal, misalnja laporan NFI (Institut Forensik Nederland) jang menegaskan bahwa Munir tentang telah kena ratjun arsenikum (warangan bahasa Djawanja); tentang mengapa laporan NFI itu tidak ditundjukken kepada Suciwati; tentang perlunja perlindungan untuk Suciwati dan pegiat hak2 asasi manusia Indonesia … Lanjutkan membaca “Pahlawankanlah Munir” oleh Joss Wibisono

“Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Kalow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Tudjuh puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda si bekas pendjadjah masih sadja dihantui oleh masa lampau kolonial itu. Lalu apa jang harus dilakukan Indonesia? Diam dan mengamati sadja setiap ada ribut2 di bekas negeri induk? Jakinkah orang Indonesia bahwa dia tidak membebek Belanda: melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an di negeri lain? Beberapa hari mendjelang peringatan 70 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, persisnja pada hari Djumat 14 Agustus lalu, NRC Handelsblad —harian sore Belanda terbitan Amsterdam— datang dengan berita kedjutan. Gebrakan ini berdampak ribut2 dalam pers Belanda dan terus terbawa … Lanjutkan membaca “Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono