“Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

Zaman sekarang tjabé sudah tidak terpisahkan lagi dari menu se-hari2 kita. Begitu besar perannja sampai sangat sulit membajangkan ada djamuan makan Nusantara jang sepenuhnja bebas dari lombok. Tidaklah mengherankan klow terdengar keluhan begitu harga tjabé melondjak. Tapi tahukah anda bahwa sebenernja hidangan makanan Nusantara tidak selalu mengandung lombok? Nusantara pernah mengenal zaman tak bertjabé. Bahkan sajuran sumber rasa pedes ini sebenernja djuga bukan asli Nusantara. Djamuan makan pada zaman Hajam Wuruk, radja Madjapahit misalnja, tidak mengandung tjabé, walowpun tidak berarti absennja rasa pedes. Pedes tanpa lombok? Bagaimana mungkin? Tentang situasi kuliner Djawa djadoel itu berikut bintjang2 dengan Hedi Hinzler, pakar … Lanjutkan membaca “Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

“Mengangkut babi” oleh Hedi Hinzler

Versi EYD nongolnja di Bali Post edisi 21 Desember 2014, halaman 19 kiri atas. Sjahdan, pada suatu ketika ada sematjam sangkar pandjang tanpa alas atau tutup, dibuat dari anjaman bambu kasar sadja dan dipergunakan untuk mengangkut babi hidup-hidup, ke pasar atau tempat pemotongan. Dulu itu djuga dibutuhkan tongkat jang dimasukkan ke dalam sangkar supaja dua pria bisa memikulnja dari tempat pembiakan ke rumah si pemesan binatang. Kadang2 sampai butuh waktu sedjam untuk menggotong babi ke tempat tudjuan, begitu tjerita orang padaku. Ketika sampai di depan rumah pembeli, babi itu lalu disembelih, dengan kelihaian seorang djagal: potongan dilakukan persis pada urat … Lanjutkan membaca “Mengangkut babi” oleh Hedi Hinzler

“Mitos kekuatan rakjat” oleh Joss Wibisono

Aslinja tulisan ini adalah tugas achir mata kuliah Sosiologi Pembangunan, dosennja Arief Budiman.  Tapi, berhubung masalah kekuwatan rakjat jang itu wektu terkenal dalem istilah Inggrisnja People’s Power kembali aktual dengen kembalinja Benazir Bhutto dari pengasingan, maka tugas achir itu aku tulis lagi djadi sebuwah opini jang nongol di harian Wawasan (Semarang) edisi 17 Mei 1986, halaman II. Tamtu azha penulisan kembali itu djuga didesek lantaran aku, sebagai mahasiswa tanpa penghasilan, butuh honornja supaja bisa makan.   KETIKA BENAZIR BHUTTO pulang dari pengasingan soal kekuatan rakjat (people’s power) kembali diperbintjangkan orang. Terilhami oleh tindakan Cory Aquino di Filipina, Benazir Bhutto ingin … Lanjutkan membaca “Mitos kekuatan rakjat” oleh Joss Wibisono

“Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD, silahken ngeklik ini. Kamis sore 16 Oktober itu Auditorium INALCO (singkatan bahasa Prantjis untuk Institut Nasional Bahasa dan Kebudajaan Timur) di Paris tenggara, tampak mulai ramai. Seperti air menetes, pengundjung berdatangan menghadiri seminar bertadjuk “Paris vu de Djakarta” alias “Paris dipandang dari Djakarta”. Atjara utama seminar bienale (dua tahunan) ini adalah peluntjuran Retour, terdjemahan bahasa Prantjis novel Pulang karja penulis Indonesia Leila S. Chudori. Dari sela2 pengundjung jang mulai memadati ruangan menudju auditorium, sesekali menjembul seorang perempuan jang begitu sibuk mengurusi ini itu. Sore itu Johanna Lederer bergaun tjoklat kemerahan dengan selendang songket biru berdjuntai … Lanjutkan membaca “Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

“Menelusur Djedjak Adinda” Oleh Henk Mak van Dijk

Ini esai aku jang bikin terdjemahannja. Klow gak betah batja tulisan dalem edjaan Soewandi, silahken klik di sini untuk versi edjaan orde baunja, alias EYD. Eduard Douwes Dekker baru berusia 18 tahun tatkala dia, pada tahun 1839, tiba di Batavia bersama ajah dan kakaknja. Berkat djaminan sang ajah, dia bisa bekerdja sebagai amtenar tak bergadji tetap pada Algemeene Rekenkamer, lembaga keuangan penguasa kolonial jang antara lain menghitung batig slot, jaitu keuntungan kolonial jang dibawa “pulang” ke Belanda. Prestasi kerdjanja baik, sehingga ia tjepat naik pangkat. Tetapi dalam posisi tweede commies, dengan tugas melakukan penghitungan itu, Eduard sering bosan jang sebenarnja … Lanjutkan membaca “Menelusur Djedjak Adinda” Oleh Henk Mak van Dijk

“La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 16, Décembre 2013, pp. 187-191 Les Espagnols l’ont fait aux Philippines, les Portugais au Timor oriental, les Français en Indochine et, dans une certaine mesure, les Britanniques en Birmanie : les (ex)-colonisateurs ont forcé les (ex)-colonisés à parler leur langue. Mais les Néerlandais ne l’ont pas imposé aux Indes orientales. La population a continué à parler malais (bahasa Melajoe), het Maleis en néerlandais, la langue à la source de l’indonésien. Il est cependant intéressant de noter que les autres colonies néerlandaises comme le Surinam ou les Antilles néerlandaises ont, elles, été forcées de parler … Lanjutkan membaca “La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

“Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1” oleh Joss Wibisono

Hari2 tenang ini enaknja digunaken untuk tjari2 berita pers asing tentang pilpres jang bakalan digelar Rebo 9 Djuli mendateng di seantero tanah air. Setelah lihat2 di internet, betapa kagetnja diriku begitu mendapatin bahwa ternjata bener2 engga ada berita positif tentang tjapres nomer 1. Lebih dari itu pers Eropa djuga selalu nulis tentang masa lamponja. Padahal para pendukungnja (dan tamtunja jang bersangkutan sendiri) kan mau melupaken azha masa lampo itu. Pigimanah nech? Masak timses tjapres nomer 1 tida bisa berkampanje supaja pers asing djuga bikin berita positif tentang tjalon mereka? Berikut tjontoh tiga media Eropa jang bikin berita tentang tjapres satu. … Lanjutkan membaca “Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1” oleh Joss Wibisono

“Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

Hari ini 5 Djuli 2014, saat berlangsung tjoblosan di KBRI Den Haag, diriku tiba2 merasa perkasa, perkasa sekali. Perkasa karena ternjata diriku diminta untuk menentukan nasib empat orang jang ber-tjita2 memimpin negeriku. Untuk tjita2 itu betapa mereka sekarang begitu tergantung pada suaraku. Memang bukan suaraku semata, tapi paling sedikit suaraku ikut menentukan berhasil tidaknja mereka mentjapai tjita2 itu. Kesadaran inilah jang membuwatku merasa perkasa. Tak pernah aku punja perasaan seperti ini. Dan harus kuakui bahwa setelah orde bau bubaran baru pertama kali ini aku dengan sadar menentukan pilihanku. Selama orang kuwatnja berkuwasa tak pernah aku sudi ikut pemilu. Seingatku hanja … Lanjutkan membaca “Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

“Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 15 juin 2013, pp. 41-52 On a souvent ignoré le rôle du colonialisme dans le rapprochement de styles musicaux. Pourtant, dans le cas du gamelan (musique traditionnelle de Java et Bali), il existe des convergences avec la musique occidentale qui méritent l’attention. Son influence sur la composition de musiciens eurasiens provient de rencontres inattendues qui ont eu lieu pendant la période coloniale. Des compositeurs célèbres comme le Français Claude Debussy (1862-1918) ont pu voir et écouter à Paris du gamelan et c’est ce type d’influence qu’on retrouve dans certaines parties de son répertoire. On … Lanjutkan membaca “Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

“‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

Inilah resensi pertama sebuwah novel jang pernah kutulis. Tentu sadja ini djuga novel pertama penulisnja. Versi lain resensi ini nongol di koran Suara Merdeka (dulu De Locomotief), edisi 30 Maret 2014, halaman 24 bawah. Klow mingsih ada azha kalangan jang gak betah batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, dia bisa ngeklik ini untuk batja versi EYD-nja. Membatja Surga Sungsang, novel perdana Triyanto Triwikromo, laksana mendengar sebuah karja musik serius dan besar — dipentaskan bersama oleh orkestra Barat, seperangkat gamelan (sléndro maupun pélog) dan, tak ketinggalan, sekelompok paduan suara besar. Dua hal begitu menondjol dalam Surga Sungsang sehingga kita terdorong mengkaitkannja dengan … Lanjutkan membaca “‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono