“Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

Dèngen ini tulisan aku solider sama Eko Endarmoko jang didzolimi Pusat Bahasa karena karjanja Tesaurus Bahasa Indonesia didjiplak oleh lembaga taik kutjing itu. Versi jang agak berbeda diterbitkan oleh Tempo dalam rubrik bahasa, kemudian djuga diumumkan oleh blog rubrik bahasa milik Ivan Lanin. Seperti biasa, untuk blog, ini tulisan ditampilken dalam edjaan jang belon disempurnaken sama orde baunja engkong harto. Kalow ada jang lebih suka atow lebih terbiasa sama edjaannja si engkong, dipersilahken batja versi jang diumumkan Tempo. Pusat Bahasa, satu2nja otoritas bahasa kita, terdjerembab dalam kontroverse karena dituduh mendjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karja Eko Endarmoko. Tulisan ini mengadjak pembatja … Lanjutkan membaca “Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

“Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

Mohon perhatian: Siapa sadja boleh merudjuk tulisanku ini. Tapi tolong ditulis bahwa Anda merudjuknja. Kalangan mahasiswa/akademis sudah berbuwat demikian, menjebut eseiku ini pada referensi atow rudjukannja. Tapi tidaklah demikian dengan kalangan wartawan atau dunia pers, karena memang tidak umum bagi sebuwah laporan jurnalistik untuk djuga mentjantumken referensi. Walau begitu, supaja tak ditjap melakuken pendjiplakan atow plagiat, saja mendesak tulisan ini tetap disebut sebagai rudjukan djika Anda memang mengutipnja. Trims. Catatan awal: versi lain tulisan ini diumumkan oleh harian Kompas pada edisi Ahad 13 Maret 2011, di halaman 20, yang kemudian diambil alih oleh beberapa blog, antara lain blog ini. Untuk … Lanjutkan membaca “Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

“Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: Versi sedikit lain tulisan ini diumumkan oleh MBM Tempo yang kemudian juga disalin oleh Ivan Lanin dalam blognya Rubrik Bahasa. Kolom ini ditulis antara lain untuk menjawab kalangan yang menghimbau supaya saya menulis soal sex, film, dst. Dalam blog ini digunakan ejaan yang belum disempurnakan oleh orde barunya engkong harto. Selamat membaca dan silahkan berkomentar. Kalow bisa lebih dari unjuk jempol jach. Trims banget, sebelumnya. Ada baiknja tulisan ini diawali dengan dua larik sjair lagu Djoewita Malam, karja Ismail Marzuki [1914-1958]. “Djoewita malam siapakah gerangan toean Djoewita malam dari boelankah toean”. Kemudian dua larik lagi, masih karja komponis … Lanjutkan membaca “Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

“Sang djenderal, sang teknokrat” oleh Joss Wibisono

Djenderal jang berpasangan dengan teknokrat sebenarnja bukan barang baru di Indonesia. Berniatkah orang menerobos tradisi ini untuk meningkatkan mutu berbangsa dan bernegara? I Sudah sedjak orde bau tampil berkuasa pada paruh kedua 1960an, Indonesia mengenal djenderal jang berpolitik (walaupun bibitnja sudah ditanam achir 1950an ketika terdjadi tentaraisasi perusahaan2 Belanda). Tapi mereka tidak pernah sendirian, karena dalam berpolitik djenderal selalu didampingi teknokrat. Keduanja senantiasa berkuasa bersama, djenderal sibuk berpolitik dan teknokrat mengurusi ekonomi. Dan itu bukan tanpa masalah, karena walaupun ekonomi tampak membaik, tapi itu tjuma semu belaka, maklum politiknja tetap se-wenang2. Pada achir kekuwasaan tangan besi orde bau, ketika politik … Lanjutkan membaca “Sang djenderal, sang teknokrat” oleh Joss Wibisono

“Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat: paralel dua saudara sepupu” Oleh Joss Wibisono

Historiografi Indonesia jang timpang kembali djelas terlihat pada kasus dua saudara sepupu Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat. Soewardi jang kemudian ganti nama mendjadi Ki Hadjar Dewantara dikenal luas sebagai pahlawan dan bapak pendidikan nasional Indonesia. Saudara sepupunja, Noto Soeroto, tjuma segelintir jang tahu. Padahal keduanja muntjul serempak dalam sedjarah Belanda. Betapa sedjarah bekas penguasa kolonial itu lebih lengkap dan anehnja orang Indonesia djuga tidak merasa risi. Pernah dengar nama Noto Soeroto? Tidak apa2 kalau tidak pernah, karena memang sekarang sosok ini sudah tidak dikenal orang lagi. Dulu, pada zaman pra-kemerdekaan, mungkin masih ada jang pernah dengar namanja. Itupun bisa djadi … Lanjutkan membaca “Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat: paralel dua saudara sepupu” Oleh Joss Wibisono

“Bisanja Tjumak Njebut 350 Tahun” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja veri edjaan orde bau EYD, ja silahken ngeklik ini azha: Dalam hal kolonialisme Belanda, kita selalu menundjuk aspek durasinja jang menurut ingatan chalajak umum Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Aspek lain jang lebih honggiam atawa gawat tidak pernah atau djarang kita tuding. Mengapa hanja menekankan lamanja pendjadjahan? Itupun jang salah lagi! Masalahnja tak ada sedjengkalpun wilajah Nusantara jang pernah didjadjah Belanda sampai tiga setengah abad. Sebenarnja lebih tepat untuk menuding aspek lain. Aspek jang mana itu? Sebagai orang jang njaris, auzubillah, seperempat abad menetap di Belanda, negeri bekas pendjadjah, aku sering ditanja tentang masa lampau Belanda … Lanjutkan membaca “Bisanja Tjumak Njebut 350 Tahun” oleh Joss Wibisono