“La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 16, Décembre 2013, pp. 187-191 Les Espagnols l’ont fait aux Philippines, les Portugais au Timor oriental, les Français en Indochine et, dans une certaine mesure, les Britanniques en Birmanie : les (ex)-colonisateurs ont forcé les (ex)-colonisés à parler leur langue. Mais les Néerlandais ne l’ont pas imposé aux Indes orientales. La population a continué à parler malais (bahasa Melajoe), het Maleis en néerlandais, la langue à la source de l’indonésien. Il est cependant intéressant de noter que les autres colonies néerlandaises comme le Surinam ou les Antilles néerlandaises ont, elles, été forcées de parler … Lanjutkan membaca “La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

“Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1” oleh Joss Wibisono

Hari2 tenang ini enaknja digunaken untuk tjari2 berita pers asing tentang pilpres jang bakalan digelar Rebo 9 Djuli mendateng di seantero tanah air. Setelah lihat2 di internet, betapa kagetnja diriku begitu mendapatin bahwa ternjata bener2 engga ada berita positif tentang tjapres nomer 1. Lebih dari itu pers Eropa djuga selalu nulis tentang masa lamponja. Padahal para pendukungnja (dan tamtunja jang bersangkutan sendiri) kan mau melupaken azha masa lampo itu. Pigimanah nech? Masak timses tjapres nomer 1 tida bisa berkampanje supaja pers asing djuga bikin berita positif tentang tjalon mereka? Berikut tjontoh tiga media Eropa jang bikin berita tentang tjapres satu. … Lanjutkan membaca “Pers Eropa: tiada berita positip buwat tjapres nomer 1” oleh Joss Wibisono

“Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

Hari ini 5 Djuli 2014, saat berlangsung tjoblosan di KBRI Den Haag, diriku tiba2 merasa perkasa, perkasa sekali. Perkasa karena ternjata diriku diminta untuk menentukan nasib empat orang jang ber-tjita2 memimpin negeriku. Untuk tjita2 itu betapa mereka sekarang begitu tergantung pada suaraku. Memang bukan suaraku semata, tapi paling sedikit suaraku ikut menentukan berhasil tidaknja mereka mentjapai tjita2 itu. Kesadaran inilah jang membuwatku merasa perkasa. Tak pernah aku punja perasaan seperti ini. Dan harus kuakui bahwa setelah orde bau bubaran baru pertama kali ini aku dengan sadar menentukan pilihanku. Selama orang kuwatnja berkuwasa tak pernah aku sudi ikut pemilu. Seingatku hanja … Lanjutkan membaca “Merasa Perkasa” oleh Joss Wibisono

“Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

Karena diwawantjarai Indonesiënu.nl aku tulis azha deh resensi ini. Di atas pentas, keberhasilan seorang soprano lebih tergantung pada kerdjasamanja dengan pianis pengiring ketimbang hanja pada kualitas vokalnja sendiri. Ini dibuktikan oleh dua orang pemusik Asia jang menuntut ilmu di Belanda dan kini djuga mentjoba membangun karier di negeri kintjir angin. Pada penampilan di Tong Tong Fair, Den Haag, Sabtu malam 7 Djuni 2014 itu, soprano Indonesia Bernadeta Astari dan pianis Djepang Inoue Kanako membutikan diri berhasil meningkatkan mutu kebersamaan seni mereka. Keduanja tampil harmonis; tidak sadja dalam irama, tapi dalam gojangan dan lebih penting lagi dalam pendjiwaan. Semuanja laras dan … Lanjutkan membaca “Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

“Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 15 juin 2013, pp. 41-52 On a souvent ignoré le rôle du colonialisme dans le rapprochement de styles musicaux. Pourtant, dans le cas du gamelan (musique traditionnelle de Java et Bali), il existe des convergences avec la musique occidentale qui méritent l’attention. Son influence sur la composition de musiciens eurasiens provient de rencontres inattendues qui ont eu lieu pendant la période coloniale. Des compositeurs célèbres comme le Français Claude Debussy (1862-1918) ont pu voir et écouter à Paris du gamelan et c’est ce type d’influence qu’on retrouve dans certaines parties de son répertoire. On … Lanjutkan membaca “Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

“‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

Inilah resensi pertama sebuwah novel jang pernah kutulis. Tentu sadja ini djuga novel pertama penulisnja. Versi lain resensi ini nongol di koran Suara Merdeka (dulu De Locomotief), edisi 30 Maret 2014, halaman 24 bawah. Klow mingsih ada azha kalangan jang gak betah batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, dia bisa ngeklik ini untuk batja versi EYD-nja. Membatja Surga Sungsang, novel perdana Triyanto Triwikromo, laksana mendengar sebuah karja musik serius dan besar — dipentaskan bersama oleh orkestra Barat, seperangkat gamelan (sléndro maupun pélog) dan, tak ketinggalan, sekelompok paduan suara besar. Dua hal begitu menondjol dalam Surga Sungsang sehingga kita terdorong mengkaitkannja dengan … Lanjutkan membaca “‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

“Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

Ini kata pengantarku untuk buku Nada Tjerita karja Manunggal Kusuma Wardaya. Aku pasang di sini untuk sedikit mengiklanken buku menarik ini. Membatja esai2 Manunggal Kusuma Wardaya serasa seperti mendengar seseorang mendongeng dalam tutur bahasa jang sederhana, baik, djelas, runtut dan kadang2 djuga berisi sentilan jang mengedjutken. Hanja karena itu sadja, saja sudah terpikat untuk membatja dan terus membatjanja. Menulis dengan baik, dengan kalimat2 sederhana jang tidak rumit dan djelas, apalagi masih disertai dengan tata penulisan jang tepat, sedjatinja merupakan ketrampilan chusus jang hanja dimiliki oleh kalangan tertentu. Padahal dengan bertambah populernja djedjaring sosial seperti twitter atau facebook, mengutarakan pendapat dalam … Lanjutkan membaca “Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

“Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

Artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” dalam suplemen chusus 40 tahun Tempo,  mendjelaskan bagaimana madjalah mingguan ini bersusah pajah merawat bahasa Indonesia. Isinja bukan tjuma proses menemukan kata2 baru, tapi djuga bagaimana menghindari kata2 jang dianggap salah dan mengapa kata2 itu salah. Walau begitu ada satu hal penting jang luput. Mungkin karena medium tjetak, Tempo tidak terlalu berurusan dengannja. Itulah masalah lafal. Sebelum itu perlu ditegaskan artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” djuga berkisar tentang perlawanan. Perlawanan karena, misalnja, Tempo menolak menggunakan bahasa birokrat atau penguasa. Tidak diuraikan lebih landjut bahasa seperti apa itu. Tapi kita mafhum: di mana2 bahasa birokrat selalu … Lanjutkan membaca “Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

“Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini (dan dalem EYD) bisa dibatja di LKIP. Perubahan zaman pasti akan tertjermin pada bahasanja. Begitu zaman berganti, kosakata jang digunakan masjarakat djuga ikut berubah. Tidak pernah terdjadi pada zaman baru orang tetap menggunakan istilah atau kata2 warisan zaman lama. Walaupun misalnja zaman lama begitu ngebet ingin menghibahkan bahasanja kepada zaman baru, sangat patut diragukan zaman baru sudi menerima warisan itu. Tidaklah berlebihan kalau ditegaskan bahwa zaman lama akan selalu gagal mewariskan bahasanja kepada zaman baru. Dan karena dalam 15 tahun terachir Indonesia terutama mengalami perubahan politik, maka jang mentjolok adalah perubahan bahasa politik. Tergusur sudah istilah2 … Lanjutkan membaca “Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

“Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

Pada setiap peringatan Hari Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober, orang Indonesia selalu diingatkan betapa herois dan nasionalistis para pemoeda dulu tatkala mereka bersumpah untuk—selain bertanah air dan berbangsa satu— terutama djuga berbahasa nasional satu: bahasa Indonesia. Heroisme matjem ini, membuwat kita buta pada politik bahasa penguasa kolonial Belanda. Londo dulu sebenarnja memang tidak pernah berminat untuk membuat segenap warga Hindia fasih berbahasa mereka. Londo kolonial itu membiarkan sadja kita berbahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia sekarang. Politik bahasa kolonial inilah jang harus djuga kita pahami, sebelum terus2an membanggakan bahasa nasional kita. Klow berminat, silahken menjimak tulisan jang versi bahasa Prantjisnja … Lanjutkan membaca “Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono