“Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian sore NRC Handelsblad pada edisi 15 djuli 2016, halaman C6 [Sebelum ini Schoonheid is een vloek (terdjemahan bahasa Belanda Tjantik itu luka), karja Eka Kurniawan sudah diresensi oleh harian pagi de Volkskrant dan harian pagi Trouw.] Apa jang harus diperbuat kalau anda punja tiga putri molek djelita dan jang keempat segera lahir? Berdoa supaja jang lahir itu djelek, demikian bisa dibatja dalam Schoonheid is een vloek — sebuah roman karja Eka Kurniawan jang terbit tahun 2002 dan sekarang diterdjemahkan ke dalam bahasa Belanda. Kalau kalimat pembuka sebuah roman berbunji: “Suatu sore di achir … Lanjutkan membaca “Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger

“Mikul dhuwur mendhem djero à la Londo” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja edjaan harto ode bau silahken ngeklik ini. Piet de Jong telah tutup usia hari rebo 27 djuli 2016, demikian diumumkan oleh CDA, senin siang 1 agustus 2016 pada situs web partai kristen demokrat Belanda ini. Kelahiran 3 april 1915, De Jong mentjapai usia 101 tahun. Dia adalah perdana menteri Belanda dari 1967 sampai 1971, djabatan penuh pertama selama empat tahun jang dipegang oleh seorang perdana menteri Belanda setelah berachirnja Perang Dunia Kedua. De Jong dikenal sebagai seorang politikus jang tidak begitu suka berpolitik. Dia memang menempuh karier sebagai militer pada angkatan laut Belanda. Pada 1959 dia … Lanjutkan membaca “Mikul dhuwur mendhem djero à la Londo” oleh Joss Wibisono

“Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” oleh Emilia Menkveld

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian Trouw (rubrik zomertijd) pada edisi sabtu 9 djuli 2016 halaman 32 dan 33. Babi berubah djadi orang, djanin hilang dari rahim, dan hantu gentajangan di setiap rumah SEBARIS KALIMAT PEMBUKA jang kena tidaklah gampang, tetapi penulis Indonesia Eka Kurniawan (1974) berhasil menorehkannja: ‘Sore hari di achir pekan bulan maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang botjah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kambodja, kentjing di tjelana pendeknja sebelum melolong’. Siapa bisa mengawali novel pertamanja dengan kalimat seperti itu pasti dia seorang penutur ulung. ‘Tjantik … Lanjutkan membaca “Eka Kurniawan mengikuti djedjak Rushdie dan Márquez” oleh Emilia Menkveld

“Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono

Klow bisanja tjuman batja EYD, silahken ngeklik ini, tapi versi itu gak terlalu djudes Tatkala sekarang Britania ber-siap2 meninggalkan Uni Eropa, beberapa orang politisi Prantjis mentjium kesempatan emas untuk mengkikis habis dominasi bahasa Inggris. Demikian diberitaken oleh harian pagi Amsterdam de Volkskrant pada edisi rebo 29 djuni 2016, halaman lima bawah. “Bahasa Ingris tidak bisa lagi merupakan tiga bahasa kerdja parlemen Eropa,” demikian kitjauan Jean-Luc Mélenchon, pemimpin partai kiri Parti de Gauche, dalam twitternja. Tiga bahasa kerdja parlemen Eropa itu adalah bahasa2 Djerman, Prantjis dan Inggris. Molière versus Shakespeare Politikus lain, jaitu Robert Ménard, walikota Béziers, kota ketjil di wilajah … Lanjutkan membaca “Pasca brexit: Inggris gojah, ‘keminggris’ kokoh?” oleh Joss Wibisono

“Tjantik itu luka mengandung ramuan chusus”, oleh Wim Bossema

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian pagi Amsterdam de Volkskrant pada edisi sabtu 2 djuli 2016, novel ini memperoleh empat dari lima bintang jang ada. Manakala seorang penulis sedang dipersilakan masuk ke dalam kelompok pilihan jang hanja beranggotakan nama2 besar, maka dia akan tertimpa hujan perbandingan jang turun dengan lebatnja. Tidaklah mengherankan kalau penulis muda Indonesia Eka Kurniawan (1974) disandingkan dengan penulis senegerinja Pramoedya Ananta Toer, dengan Gabriel Garcia Márquez dan dengan Murakami Haruki. Tapi djustru gaja pribadi Eka Kurniawanlah jang membuat roman2nja (dia sudah menulis empat) merupakan petualangan. Dalam upajanja mendjangkau pembatja sekarang Belanda memperoleh giliran dengan terbitnja … Lanjutkan membaca “Tjantik itu luka mengandung ramuan chusus”, oleh Wim Bossema

“Sindrom Stendhal dan para penulis kita” oleh Joss Wibisono

Penulis Prantjis Stendhal bukan hanja terkenal berkat karja2 sastranja, tetapi terutama lantaran apa jang disebut sindrom Stendhal. Sindrom aneh inilah jang menjebabkan nama Stendhal melesat ke luar negeri, tidak melulu di Prantjis belaka. Bahkan di luwar Prantjis orang lebih mengenal nama Stendhal djikalau dikaitkan dengan gangguan kesehatan itu, katimbang dengan karja2 sastranja. Lebih dari itu, gara2 nom de plûme alias nama pena Stendhal orang djuga tidak terlalu tahu nama asli penulis ini, itulah Marie-Henri Beyle jang hidup antara 1783 sampai 1842. Alkisah pada suatu waktu monsieur Marie-Henri Beyle, si Stendhal itu, melangsungkan perlawatan ke Italia. Ia mengundjungi tiga kota masing2 … Lanjutkan membaca “Sindrom Stendhal dan para penulis kita” oleh Joss Wibisono

“Amsterdam: tjatetan musim semi 1941” tjerpen Joss Wibisono

kepada Martin Aleida: pemeluk teguh     SEMULA TJATETAN INI KUPERSIAPKAN UNTUK I DAN W, SEBAGAI sematjem pegangan setiap kali, kepada mereka, aku melapor apa sadja jang telah kulakukan. Pada zaman sulit dan gelap itu mereka berdua telah berperan sebagai penundjuk djalan, bukan sadja bagi diriku pribadi, tetapi djuga bagi banjak orang di sekitar kami. Itu mereka lakukan walaupun kebebasan semua orang begitu dibatasi, apalagi kebebasan mereka berdua. Kini, walaupun I dan W sudah tiada, tjatatan ini tetap kulandjutkan sebagai penghormatanku kepada mereka berdua. Mungkin djuga tanda kasihku. Jang djelas aku selalu ingin mengenang djasa2 mereka. Hanja inilah jang bisa … Lanjutkan membaca “Amsterdam: tjatetan musim semi 1941” tjerpen Joss Wibisono

“Keprihatinan bahasa Benedict Anderson” oleh Joss Wibisono

Versi awal tulisan ini terbit sebagai kolom pada mingguan Tempo edisi 27 desember 2015 (halaman 131), versi berikutnja nongol sebagai lampiran dalam atjara mengenang Ben Anderson jang diselenggarakan di TIM, Djakarta, tanggal 22 djanuari 2016. Keduanja dalam djudul jang ber-beda2. Karena masih ada sadja gagasan lain, sementara dua kesempatan di atas membatasi pandjangnja tulisan, maka inilah versi ketiga. Paling sedikit beginilah aku memahami bagaimana  Oom Ben memprihatini bahasa Indonesia. Salah satu tjiri chas mendiang Benedict Anderson jang mungkin mendjadikannja terkenal di kalangan generasi muda adalah penolakannja setjara konsisten untuk menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan, EYD. Mingguan Tempo edisi achir tahun 2001 … Lanjutkan membaca “Keprihatinan bahasa Benedict Anderson” oleh Joss Wibisono

“Kura2 sungai Kamo” fiksi oleh Joss Wibisono

Kalow pingin batja versi EYD silahken klik ini. Tapi di situ ada satu salah tjetak fatal jang membuwat isi tjerita gak djelas. Dan, di situ ikke ada paké nama pena. Pernahkah terselip keinginan pada diri kita, betapapun ketjilnja, untuk kembali ke masa lampau, menghidupinja lagi seperti masa kini? Tanpa kita sadari itulah jang sebenarnja terdjadi ketika kita melangkah masuk dunia maya. Itulah salah satu esensi Facebook jang sekarang njaris dimiliki siapa sadja asal dia tidak buta internet. Bukankah djedjaring sosial ini mempertemukan kembali para pelaku masa lampau? Selain teman masa kini dan teman jang belum pernah ditemui, seorang pemilik profil … Lanjutkan membaca “Kura2 sungai Kamo” fiksi oleh Joss Wibisono

“Jokowi tabur bunga di Serodja: sepadan dengen siapa?” oleh Joss Wibisono

Berikut sekedar gagasan awal tentang mengapa Indonesia bisanja tjuman mendjiplak Belanda, bekas pendjadjahnja. Berkenaan dengen kundjungan Jokowi ke Timor Leste jang merdeka dari pendudukan ABRI (sekarang TNI), di facebook sempat beredar beberapa foto jang membandingkennja dengen kundjungan Kanselir Djerman Barat Willy Brandt ke ghetto Jahudi di Warsawa pada desember 1970. Pada saat itu, setelah meletakkan karangan bunga, Willy Brandt tiba2 berlutut di depan tugu peringatan pemberontakan ghetto di Warsawa. Apa jang disebut »Warschauer Kniefall« (berlutut di Warsawa) ini tjukup menggemparkan. Bukan hanja lantaran di luwar protokol, tapi terutama djuga lantaran maknanja, jaitu kerendahan hati dan permintaan maaf. Tentu sadja Jokowi … Lanjutkan membaca “Jokowi tabur bunga di Serodja: sepadan dengen siapa?” oleh Joss Wibisono