“Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu yang dalam EYD bisa dilihat di sini. Kebebasan, terutama kebebasan berpendapat jang didjundjung tinggi di Belanda, sekarang dalam antjaman. Masalahnja sedjarawan dan kolumnis Thomas von der Dunk dibungkam. Dia dilarang bertjeramah soal persamaan antara Nazi di Djerman zaman dulu dengan PVV, partai kebebasan pimpinan Geert Wilders di Belanda zaman sekarang. Tentu sadja, PVV jang anti Islam itu termasuk salah satu pihak jang melarangnja. Untuk kita di Indonesia pidato Thomas von der Dunk ini relevan, terutama karena dia djuga menulis tentang upaja kemerdekaan kita jang dihalang-halangi oleh Belanda. Dihukum mati Arond├ęuslezing adalah tjeramah tahunan jang diselenggarakan oleh Provinsi Noord … Lanjutkan membaca “Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

“Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Salah satu daja tarik Amsterdam jang menjebabkan saja pada achir 1987 berkeputusan mendjadi penduduknja adalah amburadulnja situasi ibukota Belanda ini. Berlainan dengan Hilversum misalnja, kota tempat Radio Nederland bermarkas (waktu itu saja kerdja untuk seksi Indonesia), di Amsterdam lampu merah tidak berarti orang benar2 dilarang menjeberang djalan. Kalau memang sudah tidak ada hambatan, katakan sadja sudah tidak ada lagi mobil jang lalu lalang, maka walau pun lampu masih merah, warga Amsterdam pasti akan njelonong menjeberang djalan. Selain itu, di Amsterdam djuga terdapat banjak sekali tjoretan dinding jang disebut grafitti. Banjak matjam tjoretan dinding di Amsterdam, tetapi jang saja sukai adalah … Lanjutkan membaca “Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono