“Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

Sebagian besar, kalau tidak semua tokoh dalam tjerpen2 jang terhimpun pada kumpulan berdjudul Teh dan pengchianat ini adalah orang2 Belanda. Tentu sadja Belanda berpendirian madju dan progresif jang bersimpati dengan nasib inlanders terdjadjah. Inilah keistimewaan Iksaka Banu, penulisnja. Keistimewaan ini penting bagi kita jang selalu mengira bahwa dulu itu semua orang Belanda adalah pendjadjah jang berperangai buruk. Bukan itu sadja. Dengan tokoh2 seperti Hendriek Cornelis Adam, Jan van de Vlek atau Simon Vastgebonden, Banu djuga tampil istimewa di hadapan penulis2 Belanda zaman sekarang. Walaupun Multatuli sudah mentjiptakan Saïdjah dan Adinda dalam novel »Max Havelaar« (1860), sajangnja para penerus tokoh penting … Lanjutkan membaca “Menghidupkan Belanda” oleh Joss Wibisono

“Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu jang lebih pendekan telah nongol di Tirto.id Selain nama pulau2, gunung2 dan sungai2 Nusantara, djalan2 di kota2 Belanda si bekas pendjadjah djuga ada jang menggunakan nama pahlawan2 kita. Djadi, selain Javastraat atau Sumatrastraat, djuga ada Brantasgracht dan Semerustraat, tapi jang terpenting ada pula R.A. Kartinistraat, Sutan Sjahrirstraat atau Mohamed Hattastraat. Harap diingat: straat (djalan), gracht (kanal), singel (parit) atau plein (alun2/plaza) selalu harus digabung dengan nama orang, atau pulau, atau sungai jang merupaken namanja. Pantang dipisah. Begitulah tata bahasa Belanda jang pasti berbeda dengen tata bahasa Inggris jang memang memisahkan nama dari djalan. Di sini harap menulis setjara … Lanjutkan membaca “Nama djalan2 Belanda: kenapa tak ada Soekarnostraat?” oleh Joss Wibisono

“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah. Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran. DI BUMI KELAHIRANNJA, Indonesia, nama Hella Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, … Lanjutkan membaca “Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

“Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

Ini resensi fiksi keduwa jang pernah kubikin, sekaligus ini adalah versi keduwa resensi keduwa ini. Versi pertama nongolnja di Tempo. Lantaran buku Iksaka Banu ini begitu menarik dan mingsih ada azha gagasan jang bernongolan, maka aku nulis versi kedua jang nongolnja di Majalah Loka. Berikut ini versi jang sedikit lain, lantaran tida dalem EYD. SEDJARAH INDONESIA SEBAGAI FIKSI: selain Pramoedya Ananta Toer, tidak banjak jang bernjali melakukannja. Salah satu penulis jang sedikit itu adalah Iksaka Banu. Dalam buku pertamanja, kumpulan tjerita pendek berdjudul Semua untuk Hindia Banu menggubah fiksi jang berisi kisah2 mulai dari kedatangan Cornelis de Houtman di kepulauan … Lanjutkan membaca “Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi” oleh Joss Wibisono

Kalow misih kesulitan batja tulisan tidak dalem EYD, silahken lihat versi EYDnja azha dan klik di sini. Apa sjaratnja supaja seseorang bisa diangkat sebagai bapak bangsa, dan mungkinkah kaum perempuan djuga memperoleh sebutan terhormat ini? Kita punja sederetan nama jang kita sebut bapak bangsa. Mereka memang bapak2 jang berdjasa bukan hanja dalam memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi sebelum itu djuga menggagasnja, berpikir untuk mendirikan bangsa jang merdeka dari belenggu pendjadjahan. Tentu sadja pantas ditanja mengapa hanja ada istilah “bapak bangsa”? Di manapun djuga tidak kurang kaum perempuan jang berperan bagi bangsanja. Mengapa tidak ada istilah ibu bangsa? Dan itu bukan tjuma … Lanjutkan membaca “Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi” oleh Joss Wibisono

“Saling serap Indonesia Belanda” oleh Joss Wibisono

Catatan awal: pelbagai tulisan yang menguraikan serapan kata-kata Belanda ke dalam bahasa Indonesia selalu bersikap sepihak: tidak menguraikan bahwa bahasa Indonesia (mereka sebut het Maleis, bahasa Melajoe) sebenarnya juga diserap oleh bahasa Belanda. Inilah yang dicoba diuraikan dalam esei berikut. Serapan itu biasanya memang selalu dua pihak. Versi sedikit lain tulisan ini pernah terbit di Tempo. Partai politik pertama di Nusantara adalah Indische Partij jang pada tahun 1911, di Bandung, didirikan oleh Ernest Douwes-Dekker (Setiabudi Danudirdja), Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Suryaningrat. Kata bahasa Belanda partij selandjutnja kita serap ke dalam bahasa Indonesia mendjadi partai. Karena itu sekarang ada Partai Keadilan … Lanjutkan membaca “Saling serap Indonesia Belanda” oleh Joss Wibisono