“Menunda perdjuwangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87.

Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).

 

Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran perempuan ini merupakan titik awal bahkan pengantar jang tepat untuk membahas begitu kompleks dan rumitnja sedjarah perlawanan orang Indonesia terhadap fasisme di Eropa. Apalagi karena selama ini sedjarah perlawanan terhadap populisme kanan di Eropa selalu ditulis dari sudut kaum pria.

 

Sebagian besar chalajak ramai Belanda tidak mengetahuinja, tetapi dalam perlawanan di Belanda terhadap pendudukan nazi Djerman selama Perang Dunia Kedua, banjak orang Indonesia ikut berperan. Sekitar 800 orang Indonesia jang semasa perang menetap di Belanda sangat menaruh simpati pada rentetan peristiwa jang terdjadi selama pendudukan Djerman. Bukan hanja karena mereka, dengan berada di Belanda, langsung terkena dampak pendudukan nazi, tapi djuga karena kesadaran bahwa perkembangan jang tengah berlangsung ini bisa berkaitan dengan masa depan Indonesia.

Beberapa orang Indonesia melantjarkan perlawanan spektakuler seperti likwidasi dan sabotase. Jang lainnja sibuk menjembunjikan dan mengurusi sesama orang Indonesia, orang Belanda maupun orang Belanda keturunan Jahudi jang bersembunji, serta menjebarkan barang tjetakan ilegal. Dalam aktivitas terachir ini kaum perempuan berperan setjara prominen.

Koran »De Waarheid« edisi 19 april 1985 memuat artikel tentang peran aktif orang Indonesia dalam perlawanan
Koran »De Waarheid« edisi 19 april 1985 memuat artikel tentang peran aktif orang Indonesia dalam perlawanan

 

Mendjelang petjahnja Perang Dunia Kedua, orang2 Indonesia di Belanda terutama terdiri dari mahasiswa, pembantu rumah tangga dan pelaut. Para mahasiswa jang kebanjakan termasuk kalangan elit datang ke Belanda untuk melandjutkan pendidikan. Pembantu rumah tangga dan pembantu lain selalu datang bersama tuan2 Belanda mereka. Para pelaut dikontrak oleh perusahaan pelajaran untuk kemudian bekerdja sebagai buruh di pelabuhan2 Rotterdam dan Amsterdam; lebih dari itu sedjumlah pelaut Indonesia tidak bisa ke mana2 lagi di beberapa pelabuhan menjusul pendudukan Djerman atas Belanda pada bulan mei 1940. Hampir tidak ada kontak sosial di antara beberapa kelompok Indonesia itu. Pengutjilan jang muntjul akibat perang dan pendudukan mendekatkan mereka; hubungan dengan tanah air putus dan djuga tidak mungkin lagi meninggalkan Belanda.

Berdasarkan pendirian mereka terhadap perlawanan, orang2 Indonesia jang menetap di Belanda selama Perang Dunia Kedua bisa digolongkan ke dalam empat kategori. Per-tama2 adalah kelompok orang muda Indonesia jang aktif dalam Perhimpoenan Indonesia (PI), ikatan mahasiswa progresif kiri jang di sebagian besar universitas mendjalin hubungan dengan organisasi mahasiswa Belanda. Sebagian besar anggota PI terlibat aktif dalam perlawanan terhadap Djerman, walaupun bisa sadja dengan latar belakang jang ber-beda2. Di antaranja ada jang menganggap perlawanan jang mereka lantjarkan sebagai bagian perlawanan internasional terhadap fasisme, sedangkan jang lainnja melihat perlawanan mereka sebagai kelandjutan perang melawan kekuatan kolonial jang imperialistis.

Kelompok kedua terutama terdiri dari mahasiswa2 jang menetap di Rotterdam dan Leiden, jang sebagai orang Indonesia tidak merasa perlu melibatkan diri dalam permusuhan Belanda Djerman, mereka lebih mementingkan perkembangan di Asia. Pendudukan Djepang atas Indonesia mereka pandang dengan simpati karena merupakan awal dan langkah pembuka bagi kemerdekaan Indonesia dari pendjadjahan Belanda. Kelompok orang Indonesia ketiga tidak melakukan kegiatan politik atau kegiatan ilegal apapun, karena takut kegiatan seperti itu akan membahajakan keluarga, tapi mungkin djuga karena mereka sendiri tidak begitu berminat. Beberapa orang, sebagai kelompok terachir, djustru malah bekerdjasama dengan nazi Djerman.

Prinsip2 demokratis

Chususnja mereka jang bergabung dalam PI berperan begitu berarti dalam perlawanan terhadap fasisme; beberapa di antara mereka bahkan sampai mengorbankan njawa. Keikutsertaan mereka dalam perlawanan bawah tanah Belanda merupakan dampak proses kesadaran mereka atas antjaman fasisme dan nasional sosialisme — kesadaran jang sudah bangkit sedjak awal tahun 1930an di kalangan anggota dan mereka jang bersimpati pada PI. Sedjak sebelum perang petjah, PI sudah memperingatkan dalam Indonesia, berkala terbitannja, terhadap bahaja bangkitnja fasisme dan nasional sosialisme di Eropa, dan mendesak supaja prinsip2 demokratis dipertahankan. Pelbagai kelompok perlawanan Belanda berdjuang untuk memulihkan demokrasi; alasan bagi PI untuk tidak berpangku tangan selama perang dan bekerdjasama dalam merebut kembali kebebasan di Belanda. Seperti sudah disebut, beberapa orang bahkan berpendapat bahwa perlawanan terhadap semua bentuk kolonialisme, imperialisme dan kediktatoran akan mendekatkan kemerdekaan Indonesia dari Belanda.

Tak lama setelah Belanda bertekuk lutut menjusul serbuan Djerman pada tanggal 10 mei 1940, PI langsung melibatkan diri dalam verzet alias perlawanan. Pada musim semi 1940 para mahasiswa anggota PI ikut serta dalam perlawanan pihak universitas terhadap pemetjatan dosen dan guru besar keturunan Jahudi, perlawanan ini pada achir november 1940 berkembang mendjadi pemogokan massal para mahasiswa. Ketika sesudah itu pelbagai organisasi politik Belanda dilarang oleh nazi Djerman, PI sendiri djuga terkena larangan ini. Mereka harus bergerak di bawah tanah, dan dengan tjepat menerbitkan berkala ilegal dalam bahasa Indonesia, bertadjuk Madjallah, jang pada achir 1941 diganti dengan berkala stensilan dengan tiras jang lebih ketjil [Lydia E. Winkel, 1989: 83-84].

Para mahasiswa djuga hampir setjara langsung ambil bagian setjara aktif dalam gerakan perlawanan Belanda. Kelompok perlawanan PI ada di kota2 Amsterdam, Leiden dan Den Haag. Berlangsung kontak dengan kelompok mahasiswa Indonesia jang lebih ketjil di Rotterdam, Delft, Utrecht dan Wageningen. Kalangan perlawanan PI Amsterdam dibagi dalam kelompok2 jang beranggotakan enam orang, anggota kelompok satu tidak tahu menahu tentang kelompok lainnja. Para anggota ini bisa dikerahkan dalam komando dan mengikuti perintah masing2 pimpinan kelompok [Harry Poeze, 1986: 305].

PI jang begitu sadar politik, anti fasis dan beraliran kiri memperoleh perhatian kritis pihak nazi Djerman. Pada djuni 1941 djatuh korban pertama tatkala berlangsung penggrebekan di dua kota mahasiswa: Leiden dan Amsterdam. Pengurus PI, jaitu Parlindoengan Loebis dan Sidartawan ditangkap oleh polisi Djerman, mereka diangkut ke kamp konsentrasi. Pada bulan november 1942 Sidartawan tewas, akibat sakit dan siksaan, di kamp konsentrasi Dachau [Indonesia, 21 djuli 1945]. Anggota pengurus PI lain jaitu Setiadjit jang didjuluki ‘pimpernel merah’ bersembunji di Amsterdam barat, dari tempat persembunjian itu dia memimpin perlawanan dan tidak pernah ditangkap. Dia berhubungan erat dengan gerakan perlawanan Belanda. Misalnja berteman dengan Henk van Randwijk en G. J. van Heuven Goedhart anggota kelompok Parool, dia djuga berhubungan dengan kelompok Vrij Nederland dan kelompok Waarheid.

Dengan begitu PI sudah berdjuang melantjarkan perlawanan sebelum Indonesia, pada bulan maret 1942, diduduki Djepang, tjaranja adalah melakukan pelbagai aktivitas ilegal melawan fasisme. Untuk sementara, perlawanan terhadap kolonialisme Belanda bagi kemerdekaan Indonesia digeser ke belakang dulu; per-tama2 Belanda harus direbut dulu dari Djerman jang fasis.

Seragam perawat untuk menjamar

Banjak aktivitas ilegal PI, antara lain mengedarkan terbitan ilegal dan bantuan kepada mereka jang bersembunji, dilakukan oleh perempuan Indonesia, sebagai perempuan mereka tidak begitu ditjurigai oleh penguasa pendudukan. Salah satu pengedar berkala terlarang itu adalah Evy Poetiray. Tatkala perang petjah dia berada di Belanda untuk memulai pendidikan analis kimia. Pada musim panas 1942 setjara rahasia orang menghubunginja untuk mengadjaknja mendjadi anggota PI. Ia memulai aktivitas perlawanan dengan membatjai terbitan2 ilegal dan mendiskusikannja dengan mahasiswa2 Indonesia maupun Belanda. Sesudah itu dia memperoleh tugas menulis artikel untuk dimuat pada pelbagai berkala ilegal seperti Vrij Nederland (harafiah Belanda bebas), De Vrije Katheder (harafiah chotbah bebas), De Waarheid (kebenaran, koran komunis) dan Het Parool, maka keberaniannja diudji tatkala harus mengambil paket berisi tumpukan berkala ilegal itu untuk kemudian mengedarkan kepada para pembatja.

Evy Poetiray tatkala berpidato di Amsterdam
Evy Poetiray tatkala berpidato di Amsterdam

Sebagai pengurus Indonesische Christen Jongeren (ICJ, Pemuda Kristen Indonesia), Evy Poetiray memainkan peran penting dalam kegiatan perlawanan PI. Aktivitas rohaniah ICJ ditolerir oleh kalangan nazi. Atas kehendak gerakan perlawanan, Poetiray pada 1942 dan 1943 menjelenggarakan konperensi ICJ, pada saat itu djuga berlangsung pertemuan kalangan perlawanan Indonesia. Di balik kedok pertemuan agama, mereka djuga mengadakan perundingan politik tanpa ada gangguan apa2. Mereka memanfaatkan pertemuan agama jang tidak berdosa itu untuk mengadakan perundingan dalam skala lebih besar lagi, termasuk menghadirkan mahasiswa2 Belanda jang aktif melakukan perlawanan. Perundingan verzet jang djuga melibatkan kelompok Parool ini berlangsung di luar pengetahuan pengurus ICJ lain.

Sebagai akibat penangkapan dan interogasi salah seorang tokoh PI, pada musim panas 1943, Evy Poetiray tiba2 mendapat perintah untuk menghentikan semua kegiatannja dan menghilang dari peredaran selama beberapa waktu. Dia dibantu memperoleh tempat bersembunji di Amsterdam barat, di rumah itu dia bisa menempati ruangan loteng jang terletak langsung di bawah atap. Ketika bahaja baginja sudah tjukup terelakkan, Poetiray memperoleh isjarat bisa kembali keluar. Walau begitu ia harus tetap berada di latar belakang. Achirnja rumah Poetiray kembali mendjadi tempat mangkal mahasiswa Indonesia, mereka membawa ransum batu bara masing2 untuk setjara bersama memperoleh kehangatan pada musim dingin. Lemari2 di rumahnja diubah mendjadi tempat bersembunji, kalau2 terdjadi penggrebekan. Pada bulan november 1943 di Doorn (dekat Utrecht, Belanda tengah) PI mengadakan pertemuan rahasia bagi mahasiswa Indonesia dan beberapa orang tokoh politik Belanda. Evy Poetiray ikut serta, dia duduk di samping politikus Belanda Willem Drees jang kelak, pada 1950an, mendjabat perdana menteri. Topik perundingan: hubungan masa depan Belanda Indonesia sesudah perang[1]).

Perempuan Indonesia lain jang terlibat dalam perlawanan terhadap pendudukan nazi di Belanda adalah Djoedjoe Soetanandika, jang sudah menetap di Belanda sedjak 1938 untuk mengikuti pendidikan perawat. Rumah sakit tempatnja bekerdja jaitu Homeopatisch Ziekenhuis di Utrecht ternjata merupakan tjara luar biasa untuk mengelabuhi nazi Djerman sehingga bisa melakukan kegiatan bagi pelbagai organisasi ilegal. Djoedjoe diminta mengurus kalangan perlawanan PI Utrecht. Setjara tak terduga kamarnja di pemondokan perawat merupakan tempat bersembunji orang2 perlawanan, tapi hanja siang hari. Pada malam hari mereka pindah ke tempat lain. Walaupun tahu, pimpinan pemondokan membiarkan sadja hal ini terdjadi. Djoedjoe djuga mengurus makanan mereka jang bersembunji itu. Menurutnja seragam perawat sangat bermanfaat untuk menjamar, karena seorang perawat tidak mentjurigakan dan nazi djuga tidak tjepat2 menangkap seorang perawat[2]).

Pada 1944 Djoedjoe Soetanandika pindah ke Amsterdam, persisnja ke rumah sakit Wilhelminagasthuis. Tidak djauh dari rumah sakit itu tinggal suami istri Setiadjit, salah satu pengurus PI Amsterdam jang tengah bersembunji. Kepada Djoedjoe jang bekerdja di bagian isolasi rumah sakit, Setiadjit berkabar bahwa ada seorang tahanan jang dirawat di bagian itu karena menderita skarlatina (roodvonk, sematjam demam berdarah), tahanan itu djuga akan dihukum mati. Dan memang Djoedjoe berhasil bertemu dengannja. Kamar2 di bagian isolasi itu terbagi dalam blok dengan pintu depan dan pintu belakang jang memiliki teras. Bagian isolasi berada pada tingkat kedua. Pada pintu depan kamar tahanan ini berdiri dua orang resersir, polisi tak berseragam. Djoedjoe menangani semua pasien jang dirawat di bagian ini, djumlahnja 16 orang, termasuk tahanan itu. Begitu mudah dia mendjalin hubungan dengan pasien jang divonis hukuman mati ini. Ketika membaik, kepadanja Djoedjoe menjebut nama Setiadjit. Satu nama itu sadja sudah tjukup untuk membuka djati diri bahwa Djoedjoe djuga terlibat perlawanan. Saling pertjaja di antara keduanja djuga semakin besar.

Evy Poetiray [1918-2016]
Evy Poetiray [1918-2016]
Pada suatu hari tahanan itu meminta Djoedjoe untuk mengambilkan pakaiannja di salah satu rumah di Leidsekade, tidak djauh dari rumah sakit Wilhelminagasthuis, selain itu si perawat djuga diminta untuk menghantar surat. Djoedjoe berhasil menjelundupkan badju jang diambilnja ke dalam kamar dan si pasien menjembunjikan badju itu di bawah selimutnja. Tidak hanja itu. Djoedjoe djuga berhasil memperoleh kuntji pintu belakang kamar si pasien jang selalu terkuntji rapat dan menjerahkan itu kepadanja. Dua hari setelah menerima badju, pada sekitar djam sembilan malam, dia berganti pakaian di bawah selimut. Kebetulan malam itu Djoedjoe sedang bertugas dan kepada dua orang resersir jang mendjaga tahanan, dia bertanja apakah mereka ingin minum teh, sambil menjerahkan dua tjangkir teh jang sudah ditjampuri obat tidur. Ternjata berhasil, segera keduanja tertidur lelap. Djoedjoe masih perlu mejakinkan diri sendiri bahwa kedua polisi tak berseragam itu memang sudah benar2 pulas, dan ketika sudah jakin dia segera memberi isjarat kepada si pasien. Sebelum itu, kepada pasien jang divonis hukuman mati ini, Djoedjoe Soetanandika djuga sudah mendjelaskan situasi rumah sakit dan bahwa di bawah bagian isolasi itu, terdapat kantor orang2 nazi Djerman. Kepada Djoedjoe tahanan jang sudah mulai pulih itu berkata bahwa di luar teman2nja jang mengendarai mobil sedang menantinja. Djoedjoe sementara itu sibuk mentjutji dan membersihkan tjangkir, menghilangkan bekas2 obat tidur. Sesudah itu dia menemui pasien2 lain jang ada bagian isolasi, menangani dan merawat mereka.

Kira2 sedjam kemudian kedua resersir bangun (sekitar pukul sebelas malam) dan betapa terkedjut mereka mendapati bahwa si pasien sudah tidak ada lagi di tempat tidurnja. Banjak orang bingung dan tjemas. Djoedjoe berlagak tidak tahu apa2 dan pura2 terkedjut ketika ditanjai soal ini. Dia menjatakan tidak tahu menahu tentang pasien itu, dia djuga tidak masuk kamarnja dan sepandjang malam sibuk menangani pasien lain. Kedua resersir ternjata tidak tjuriga bahwa mereka tertidur karena minum teh jang ditjampuri obat tidur. Menuturkan pengalaman ini sesudah Belanda bebas dari pendudukan nazi, Djoedjoe Soetanandika masih ingat sekali betapa dia sendiri sempat ketakutan dan tegang menghadapi kedjadian ini. “Ini adalah pengalaman jang membuat sadja selalu menahan nafas”. Djoedjoe menjatakan tidak tahu bagaimana tahanan itu keluar dan apakah dia selamat sampai di tempat tudjuan. Dia kemungkinan adalah seorang anggota Raad van Verzet alias Dewan Perlawanan Belanda.

Chususnja pada tahun2 terachir perang, tugas mengantar hal2 jang berat dan berbahaja dilakukan oleh kaum perempuan, termasuk di antara mereka adalah tiga orang mahasiswi Indonesia jaitu Toeti Soejanawinata, Soetiasmi Soejono dan Lilah Soesilo.

Pers ilegal

Di luar PI, mahasiswa Indonesia lain djuga aktif melakukan perlawanan. Rawindra Noto Soeroto, mahasiswa fakultas hukum universitas Leiden misalnja meneruskan informasi penting kepada pemantjar radio ilegal. Dia anggota kelompok mahasiswa Leiden-Den Haag jang ditangkap pada bulan djuni 1941. Setelah ditangkap Rawindra dikirim ke Djerman [Weber, 1947: 164]. Tetapi perlawanan tidak melulu dilantjarkan oleh kalangan mahasiswa. Mereka djuga memperoleh bantuan dari orang2 Indonesia lain jang menetap dan bekerdja di Belanda. Buruh atau pembantu rumah tangga Indonesia ini turun tangan dalam menjediakan penampungan dan makanan. Selain itu, kalangan militer Indonesia jang berada di Belanda djuga langsung melantjarkan perlawanan. Di antara mereka adalah seorang kapten KNIL lulusan KMA, akademi militer Breda, Eduard Latuperisa. Pada musim panas 1939 Latuperisa bersama istri dan dua anaknja datang ke Belanda karena dia akan menduduki djabatan pada satuan infanteri Belanda. Eduard Latuperisa bergabung dalam organisasi bawah tanah Ordedienst (OD) jang didominasi oleh kalangan militer. Latuperisa bertugas mengorganisir para kadet KMA dan melakukan transaksi sendjata. Akibat pengchianatan anggota OD ditangkapi nazi, termasuk Latuperisa jang ditahan di Het Oranjehotel, djulukan sinis bagi pendjara Scheveningen, dekat Den Haag. Pada bulan djuli 1943 dia dieksekusi di Leusderheide [Tong Tong, 16 mei 1960].

»de bevrijding« edisi mei 1945
»de bevrijding« edisi mei 1945

Selain membantu dan menjediakan makanan bagi mereka jang bersembunji, kerdja semakin penting kalangan perlawanan adalah pers ilegal. Untuk bisa melaksanakan penerbitan dibutuhkan tenaga: pengetik, pentjetak, penjebar atau pengantar ke pelanggan. Pada bulan mei 1943, tak lama setelah Djerman mewadjibkan supaja semua pesawat radio diserahkan, di Den Haag terbit madjalah baru jang bertadjuk Feiten, bahasa Belanda untuk kenjataan. Madjalah ini dipimpin oleh tudjuh orang Indonesia. Pada tanggal 3 april, Sicherheitpolizei jaitu polisi pendudukan Djerman, melakukan razzia di kalangan orang2 Indonesia di Den Haag, untuk melatjak mereka jang menerbitkan berkala ilegal ini. Dan memang mereka jang bekerdja untuk Feiten tertangkap serta ditahan, akibatnja kegiatan penerbitan ini terpaksa dihentikan selama dua bulan. Achirnja diputuskan untuk kembali melakukan penerbitan, kali ini di Leiden, dan berkala itu memperoleh tadjuk baru: De Bevrijding (pembebasan). Di Den Haag dan Rotterdam, PI djuga menerbitkan berkala perlawanan dengan tadjuk jang sama. Mulai oktober 1944 karena kesulitan kertas dan padamnja aliran listrik, berkala ini terbit setjara bergilir dengan Kroniek van de Week (kronik mingguan). Isi De Bevrijding adalah dorongan baik bagi orang Belanda maupun orang Indonesia supaja melantjarkan perlawanan terhadap pendudukan Djerman [Lydia Winkel, 1989: 84].

Djumlah orang Indonesia jang aktif melakukan perlawanan mentjapai 100 orang. Untungnja peran mahasiswa Indonesia dalam perlawanan di Belanda bukannja tidak diketahui. Ini terbukti ketika 15 orang, pada usia landjut dan atas rekomendasi Jajasan 1940-1945, memperoleh pensiun luar biasa dari pemerintah Belanda. Lebih dari itu beberapa nama mereka djuga terpilih mendjadi nama djalan. [Alih bahasa Joss Wibisono]

 

Referensi

1. Bob de Graaff & Lidwien Marcus (1980), Kinderwagens en korsetten. Een onderzoek naar de sociale achtergrond en de rol van vrouwen in het verzet, 1940-1945, Amsterdam: Bert Bakker. ISBN 9060197011

2. Ernst Jansz (1985), De overkant, Haarlem: In de Knipscheer. ISBN 90-6245-204-2

3. Harry Poeze (1986), In het land van de overheerser, Indonesiërs in Nederland 1600-1950 Dordrecht: Floris Publications. ISBN 9067652016

4. Marjan Schwegman (1980), Het stille verzet, vrouwen in illegale organisasties, Nederland 1940-1945, Amsterdam: Socialistische Uitgeverij. ISBN 90 6222 059 2

5. E. P. Weber (1947), Gedenkboek van het Oranjehotel; Celmuren spreken; Gevangenen getuigen; Onze gevallen verzethelden, Amsterdam: Aspekt. Uitgeverij ISBN 9789461536129

6. Lydia E. Winkel (1989), De ondergrondse pers 1940-1945, Amsterdam: NIOD. ISBN 90 218 3746 3

Sebelum pensiun, Emile Schwidder (Surabaja, 1948) bertanggung djawab bagi koleksi Indonesia jang dihimpun oleh Internationaal Instituut vor Sociale Geschiedenis (Institut Internasional Sedjarah Sosial) di Amsterdam, Belanda. Pada tahun 1996 terbit karjanja Guide to the Asian collection at the International Institute of Social History.

[1] Laporan Evie Poetiray tentang ini disimpan oleh Harry Poeze, KITLV.

[2] Laporan Djoedjoe Soetanandika tentang ini disimpan di KITLV

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.