“Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

Sekedar pengantar: pembebasan belum kemerdekaan Indonesia Penulis artikel ini, Mimi Soetiasmi Soejono, adalah kakak Irawan Soejono, mahasiswa Indonesia jang pada 13 djanuari 1945 ditembak mati oleh Wehrmacht, tentara pendudukan Djerman jang pada hari sial itu melakukan razia di Leiden. Irawan jang pada saat berlangsung razia sedang mengangkut mesin stensil dengan sepeda, sudah berupaja menghindar (sebelumnja sudah dua kali dia lolos dari razia), tetapi pasukan Werhmacht jang awas langsung melihatnja dan segera pula menembaknja. Seperti Irawan, Mimi djuga aktif terlibat dalam verzet, perlawanan bawah tanah terhadap nazi Djerman jang waktu itu menduduki Belanda. Dia berperan sebagai kurir, dengan tugas menjebarkan selebaran … Lanjutkan membaca “Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

“Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

Achir pekan jang baru lewat (awal mei 2019), Belanda si bekas pendjadjah memperingati 74 tahun pembebasannja dari pendudukan nazi Djerman selama Perang Dunia Kedua. Setiap 4 mei dikenang mereka jang gugur semasa pendudukan dan setiap 5 mei diperingati kapitulasi nazi jang berarti pembebasan negeri kintjir angin dari pendudukan fasisme. Salah satu atjara jang menarik dan sering aku hadiri adalah pembukaan untuk umum rumah2 orang Jahudi atau rumah2 tempat berlangsungnja perlawanan terhadap pendudukan kalangan fasis itu. Atjara itu dinamai “Open Joodse Huizen van Verzet” alias buka rumah Jahudi, rumah perlawanan. Rumah Jahudi adalah rumah2 jang dulu ditempati oleh orang2 Jahudi, salah … Lanjutkan membaca “Rumah perlawanan” oleh Joss Wibisono

“Menunda perdjuangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

Versi lain artikel ini jang ditulis dalem EYD telah terbit pada jurnal Prisma edisi Vol. 36, No. 3. 2017, halaman 82-87. Artikel ini merupakan salah satu bab dalam buku Vertrouwd en vreemd: ontmoetingen tussen Nederland, Indië en Indonesië, (Hilversum: Verloren, 2000) Esther Captain, Marieke Hellevoort dan Marian van der Klein (redaksi).   Ketika populisme kanan berkuasa di Eropa pada masa Perang Dunia Kedua, tidak sedikit orang Indonesia melibatkan diri dalam perlawanan terhadapnja. Membagi orang2 Indonesia jang pada waktu itu berada di Belanda (jang diduduki nazi) dalam empat kelompok, Emile Schwidder dalam artikel ini lebih menjoroti peran kaum perempuan. Maklum, peran … Lanjutkan membaca “Menunda perdjuangan Indonesia merdeka: orang Indonesia melawan fasisme di Belanda (1940-1945)” oleh Emile Schwidder

“Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

• Versi EYD alias edjaannja orde bau bisa dibatja dengen mengklik ini: • Djangan lupa untuk djuga membatja artikel terdahulu jang merupakan bagian pertama. Pingin batja? Silahken ngeklik ini. Di pemakaman bersaldju jang lengang berdiri sekelompok orang mengelilingi salah satu liang lahatnja. Sebagian besar perempuan dan pria di atas 40 tahun, hanja beberapa orang jang belum mentjapai usia itu berani menantang amarah nazi. Sebenarnja masih banjak sahabat almarhum jang ingin memberi penghormatan terachir, tapi mereka harus tinggal di rumah menahan duka. Hari jang sedih, pemakaman jang sedih. Begitulah alinea pertama berita duka berdjudul “Irawan Soejono” buah pena R. M. Soeripno … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono: roh pembebasan” oleh Joss Wibisono

“Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain, dalem EYD alias edjaannja orde bau, bisa dibatja dengen mengklik ini. Djedjak2 Belanda di Indonesia sudah banjak diketahui orang, jang sedikit diketahui adalah djedjak2 orang Indonesia di Belanda. Lebih dari 70 tahun silam, semasa Perang Dunia Kedua, para pemuda Indonesia ikut berperan dalam verzet, perlawanan terhadap nazi jang saat itu menduduki negeri pendjadjah. Peran jang tidak ketjil, tapi tak banjak diketahui orang. Salah seorang mahasiswa Indonesia itu adalah Irawan Soejono. Dengan heroik, dia melawan pendudukan nazi lewat tulisan dan gerilja bawah tanah, hingga kematian menghentikan langkahnja. Pada tanggal 4 mei lalu, atas kegigihan perdjuangan dan pengorbanannja, Leiden setjara … Lanjutkan membaca “Irawan Soejono dan pengakuan setelah 71 tahun” oleh Joss Wibisono