“Pembebasan Indonesia” oleh Mimi Soetiasmi Soejono

Sekedar pengantar: pembebasan belum kemerdekaan Indonesia

Penulis artikel ini, Mimi Soetiasmi Soejono, adalah kakak Irawan Soejono, mahasiswa Indonesia jang pada 13 djanuari 1945 ditembak mati oleh Wehrmacht, tentara pendudukan Djerman jang pada hari sial itu melakukan razia di Leiden. Irawan jang pada saat berlangsung razia sedang mengangkut mesin stensil dengan sepeda, sudah berupaja menghindar (sebelumnja sudah dua kali dia lolos dari razia), tetapi pasukan Werhmacht jang awas langsung melihatnja dan segera pula menembaknja. Seperti Irawan, Mimi djuga aktif terlibat dalam verzet, perlawanan bawah tanah terhadap nazi Djerman jang waktu itu menduduki Belanda. Dia berperan sebagai kurir, dengan tugas menjebarkan selebaran gelap jang berisi berita2 tentang perang dan bagaimana nazi Djerman mulai kalah. Ini bukan tugas ringan, karena kalau tertangkap, seperti adiknja, Mimi djuga bisa ditembak mati. Di bawah pendudukan nazi tentu sadja tidak ada pers bebas di Belanda. Selain soal perang, ada pula selebaran gelap jang dibuat oleh orang2 Indonesia, di dalamnja tentu termuat artikel2 tentang masa depan Indonesia setelah berachirnja Perang Dunia II.

Esai Mimi Soetiasmi Soejono dimuat dalam dwimingguan »Jeugdland« nomer 20, 1 djuni 1945
Esai Mimi Soetiasmi Soejono dimuat dalam dwimingguan »Jeugdland« nomer 20, 1 djuni 1945

Dalam pergerakan bawah tanah melawan pendudukan nazi, Irawan lebih dikenal sebagai seksi sibuk jang bekerdja keras supaja selebaran bisa ditjetak. Oleh karena itu dia mengurusi mesin stensil jang kadang2 harus direparasi. Banjak hal lain diurusnja, tapi satu hal jang pasti, Irawan tidak menulis. Ini berbeda dengan kakaknja, Mimi, karena ternjata ada satu artikel tulisan Mimi Soetiasmi jang terbit pada bulan djuni 1945, sebulan setelah Belanda bebas dari pendudukan nazi. Sulit dibajangkan hanja ini satu2nja artikel jang pernah ditulis Mimi, melihat gajanja menulis jang agak sastrawi bisa dibajangkan masih ada artikel2 lain Mimi jang djuga terbit. Kemungkinan besar semasa pendudukan nazi, Mimi djuga sudah menulis, tapi pada waktu itu dia pasti menggunakan nama samaran. Maka harus diketahui dulu apa nama samaran Mimi sewaktu perang, dari situ bisa dilatjak artikel2nja jang lain.

Raden Ario Adipati Soejono, ketika diangkat sebagai anggota Raad van Indië

Selain adiknja Irawan, Mimi djuga masih memiliki kakak bernama Loes Soepanti Soejono dan adik bungsu jang bernama Hidajat Soejono. Ajah empat bersaudara ini bernama R. A. A. Soejono jang semula adalah bupati Pasuruan, kemudian naik pangkat dalam birokrasi kolonial mendjadi anggota de Volksraad (parlemen Hindia Belanda jang bukan dipilih melainkan ditundjuk), terus mendjadi anggota Raad van Indië, sematjam Dewan Pertimbangan Agung. Tatkala Belanda diduduki Djerman dan pemerintah Belanda bersama ratu Wilhelmina menjingkir ke Inggris, didirikan pemerintah Belanda dalam pengasingan di London. Soejono jang sementara itu sudah meninggalkan Hindia (lewat Australia) karena pendudukan Djepang, achirnja diangkat mendjadi menteri dalam pemerintahan Belanda di pengasingan. Dialah satu2nja inlander (bumiputera) Hindia jang sampai pada djabatan menteri. Sajang Soejono jang sempat mendesak agar Belanda mengakui hak Indonesia untuk menentukan nasib sendiri tidak mendapat dukungan dalam kabinet pengasingan. Mungkin karena itu ia kena serangan djantung dan tutup usia di London pada 5 djanuari 1943, mentjapai umur 56 tahun.

Dalam tulisan berikut Mimi Soetiasmi jang waktu menulis berusia 27 tahun, meminta perhatian kawula muda Belanda bagi pembebasan Hindia. Walaupun pada bulan djuni 1945, Belanda sudah sebulan bebas dari pendudukan nazi Djerman, itu tidaklah berarti perdjuangan sudah berachir. Demikian peringatan Mimi, jang segera menundjuk bahwa djanganlah melupakan Indonesia jang masih dalam tjengkeraman Dai-Nippon, Djepang fasis semasa Perang Dunia Kedua. Itulah jang ingin diingatkan Mimi, jang tampak geram melihat kaum muda Belanda begitu bersuka ria, se-olah2 perang sudah benar2 selesai. Perang belum selesai, karena itu orang harus memikirkan pembebasan Indonesia.

Jang penting dalam artikel ini Mimi tidak menulis tentang kemerdekaan Indonesia, melainkan tentang pembaruan hubungan Belanda Indonesia. Menurutnja seusai perang, hubungan keduanja harus diperbarui, bukan lagi hubungan kolonial melainkan hubungan jang “tidak boleh lagi hanja ditentukan oleh satu pihak, tetapi harus diterima setjara suka rela oleh kedua pihak”. Belanda dan Indonesia, menurutnja harus berdiri dalam persamaan demokratis. Djelas di sini Indonesia jang sepenuhnja merdeka dari Belanda belum masuk pertimbangan, karena kedua pihak tampaknja masih memikirkan bagaimana hubungan itu harus diperharui. Mimi djuga mengingatkan pembatja madjalah dwimingguan Jeugdland, jang adalah kaum muda Belanda, bahwa pada pidato 7 desember 1942 dari pengasingan di London, ratu Wilhelmina sudah berniat memperbaharui hubungan Belanda Indonesia, hubungan jang sepenuhnja harus didasarkan pada kebersamaan.

Paling sedikit bagi kawula muda Indonesia di Belanda memang pada bulan djuni 1945 itu pikiran tentang kemerdekaan belum masuk pertimbangan. Mereka masih berpendapat ada masa depan bagi hubungan Indonesia Belanda, kedua negara tidak akan benar2 lepas sepenuhnja. Karena itu Mimi djuga menggunakan istilah “bevrijding” jang berarti pembebasan, persis seperti Belanda jang bebas dari pendudukan Djerman. Kalaupun muntjul kata2 atau istilah2 seperti “zelfstandigheid” (kemandirian) atau “recht op zelfbeschikking” (hak menentukan nasib sendiri) jang tampaknja diperoleh Mimi dari ajahnja, maka itu tidak otomatis berarti kemerdekaan penuh. Sekali lagi, jang diinginkan oleh para mahasiswa Indonesia di Belanda pada waktu itu adalah dihapusnja hubungan kolonial dan itu tidak serta merta berarti kemerdekaan Indonesia.

Perang dan pendudukan memang telah mengakibatkan tiadanja komunikasi antara Belanda dan Hindia. Akibatnja orang Indonesia di Belanda tidak tahu apa jang terdjadi di tanah air, selain pendudukan Djepang itu. Demikian pula orang2 di tanah air tidak tahu apa jang persisnja terdjadi di negeri pendjadjah, selain, mungkin, bahwa nazi Djerman mendudukinja. Teknologi jang belum begitu berkembang djelas djuga berperan penting bagi saling ketidaktahuan ini.

Djelas terlihat Mimi Soetiasmi tidak tahu bahwa di tanah air telah diresmikan BPOPK (Badan Penjelidik Oesaha2 Persiapan Kemerdekaan) oleh balatentara pendudukan Djepang pada tanggal 29 april 1945. Ini berarti sudah benar2 diambil langkah persiapan menudju kemerdekaan. Istilah jang digunakan sudah kemerdekaan, bukan lagi kemandirian apalagi tuntutan hak menentukan nasib sendiri bagi Indonesia.

Pemberitahuan koran jang dipasang Mimi Soetiasmi tentang kematian adiknja
Pemberitahuan koran jang dipasang Mimi Soetiasmi tentang kematian adiknja

Di lain pihak bisa dipastikan chalajak Indonesia djuga tidak tahu bahwa Irawan Soejono sudah ditembak mati oleh nazi Djerman pada bulan djanuari 1945. Djangankan penembakan Irawan, aktivitasnja, termasuk aktivitas para anggota PI lain jang bergabung dalam verzet (perlawanan bawah tanah) tampaknja djuga tidak diketahui orang2 di tanah air. Tidaklah mengherankan kalau pada sidang BPOPK tanggal 31 mei, Soepomo berpidato mem-bela2 fasisme nazi dan menegaskan bahwa ideologi kanan itu “tjotjok dengan alam pikiran ketimuran”. Soepomo mungkin memang tidak tahu Irawan telah ditembak nazi di Leiden, tapi dia pasti tahu bahwa di Belanda nazi sudah menjerah pada tanggal 5 mei 1945. Pidatonja jang begitu pro nazi sementara nazi sudah menjerah kalah bisa berarti dia takut terhadap Djepang, sekutu nazi; bisa pula berarti dia memang seorang fasis, paling sedikit pada saat berpidato itu.

Pada tulisan berikut Mimi terutama mengingatkan bahwa mahasiswa Indonesia jang telah ambil bagian dalam perlawanan terhadap Djerman, kini melandjutkan perdjuangan bagi pembebasan Indonesia. Dan memang keikutsertaan mahasiswa Indonesia dalam perdjuangan bawah tanah Belanda semasa pendudukan Djerman tidak tanggung2, mereka djuga menjerahkan njawa. Di sini djelas Mimi berbitjara tentang pengorbanannja sendiri, karena dia telah kehilangan adiknja, Irawan jang tewas ditembak Wehrmacht. Siapa lagi jang lajak bertutur tentang kehilangan saudara jang tewas semasa pendudukan nazi, kalau bukan Mimi jang mengurus sendiri administrasi makam adiknja di sebuah pemakaman Leiden? Dalam artikelnja Mimi se-olah2 minta pengertian kawula muda Belanda pembatja artikelnja bahwa dengan adik jang sudah ditembak mati, maka dia tidak bisa tidak harus melandjutkan perdjuangan sampai Indonesia bebas dari pendudukan Djepang. Semasa pendudukan nazi, para mahasiswa Indonesia di Belanda memang berkeputusan untuk menunda dulu perdjuangan mengachiri kolonialisme Belanda, karena ada masalah jang lebih mendesak lagi jaitu membebaskan diri dari tjengkeraman fasisme.

Dalam artikel ini djuga djelas bahwa perdjuangan pembebasan Indonesia bukan hanja ditempuh melalui perlawanan bersendjata. Perdjuangan itu djuga berlangsung dalam bentuk tulisan jang berisi pertimbangan strategi politik bagi masa depan Indonesia. Perdjuangan itu djuga tidak hanja berlangsung demi mempertahankan proklamasi kemerdekaan, antara 1945—1949, tetapi sebelum itu, perdjuangan ini djuga berbentuk himbauan kepada pemerintah dan pemuda Belanda supaja djuga membebaskan Indonesia dari tjengkeraman Djepang. Pelakunja tidak harus pria, tetapi seperti terbukti pada tulisan Mimi Soetiasmi berikut, itu djuga dilakukan oleh kaum wanita. (*JossW*)

Mimi Soetiasmi, Amsterdam, musim dingin 1946
Mimi Soetiasmi, Amsterdam, musim dingin 1946

Kini achirnja Belanda kembali bernafas bebas setelah lima tahun pendudukan Djerman, tahun2 jang menuntut pengorbanan terberat rakjat Belanda, dan tahun2 jang djuga meminta hampir semuanja dari kawula muda Belanda. Sekarang, tatkala di seantero Eropa musuh sudah dipukul mundur, maka kini tidak bisa tidak perhatian banjak orang harus diarahkan pada bagian dunia lain; bagian jang rakjatnja, oleh sekutu Djerman jaitu Djepang, masih ditjengkeram erat2. Djangan sampai lupa, ketika orang begitu bersuka tjita karena berhasil merebut kembali perdamaian dan kebebasan; musuh masih tetap belum ditaklukkan; di Timur Djauh, rakjat masih terlumat dalam penindasan Djepang.

Memang benar, di Eropa fasisme sudah dihantjurkan, hukum dan kemanusiaan berhasil menang melawan teror dan kekerasan brutal. Tetapi perdjuangan melawan ketidakadilan jang paling kasar, melawan tindakan tak manusiawi itu masih belum selesai. Untuk mengalahkan fasisme Djerman, djutaan orang telah mempertaruhkan njawa. Pasukan sekutu, pedjuang bawah tanah, semuanja telah mengorbankan harta dan mentjurahkan darah bagi pembebasan Eropa. Dan tatkala di Eropa musuh sudah dimusnahkan dan kebebasan berhasil direbut kembali, maka sekarang pasukan sekutu ber-siap2 untuk djuga menghempaskan pukulan achir jang mematikan terhadap musuh di Timur. Timur Djauh tentu sadja djuga termasuk Indonesia. Rakjat Indonesia djuga, sekarang sudah lebih dari tiga tahun, menderita di bawah penindasan Djepang. Itu berarti bahwa, kita di Belanda sini sudah mengalami sendiri dengan Djerman jang, seperti Djepang, melantjarkan perang demi ekspansi teritorial. Demi mewudjudkan ambisi ini, Djerman berbuat tidak banjak berbeda dengan sekutu Asianja sehingga menjebabkan malapetaka dalam kehidupan ekonomi dan penderitaan rakjat jang menjeluruh. Bisa dipastikan penderitaan ini lebih gawat lagi di Indonesia, karena sudah sebelum perang, kemakmuran rakjatnja tidak seperti di Belanda.

Belanda bersama sekutunja nanti djuga harus melandjutkan perang melawan musuh sampai musuh itu benar2 kalah. Bagi Belanda jang berkaitan dengan Indonesia, perang ini setjara kongkrit berarti: mengusiran Djepang dari Indonesia, perang bagi pembebasan Indonesia. Pembebasan Indonesia! Mungkin bagi kawula muda Belanda kata2 ini membangkitan perasaan bertjampur baur, merekalah jang per-tama2 akan terlibat dalam masalah ini. Pembebasan Indonesia memang mentjakup beberapa aspek, jang lajak untuk ditindjau lebih landjut, karena dalam masa mendatang kembali ini akan menuntut pengorbanan berat, chususnja dari kalangan kaum muda.

Sementara itu, masih pada masa pendudukan Djerman, madjalah Jeugdland ini sudah memuat beberapa artikel mengenai Indonesia, tentang dasar baru jang akan harus mengatur hubungan Belanda Indonesia, dan tentang pembebasan berikutnja. Mengenai ini, menurut saja telah berlangsung diskusi jang hidup. Sajang saja tidak bisa mengikuti baik artikel maupun diskusi itu setjara menjeluruh, tetapi dengan senang hati di sini ingin saja kemukakan pendapat gerakan nasional Indonesia tentang pembebasan tanah air kami. Dan di sini chususnja saja berbitjara atas nama gerakan jang di Belanda ini merupakan penerdjemah bagi keinginan dan dambaan rakjat Indonesia dan tergabung dalam Perhimpunan Indonesia, PI. Pasti banjak orang muda Belanda jang dalam pikiran mereka menjingkirkan masalah pembebasan Indonesia sedjauh mungkin, karena mereka tidak tahu bagaimana tjaranja. Sebaliknja, bagi jang lain jang djuga tidak sedikit, ini sudah bukan masalah lagi. Bagi mereka sudah pasti bahwa nanti mereka akan datang ke Indonesia “untuk menendang Djepang keluar”. Di sana mereka punja teman atau sanak saudara jang hidup megap2 dalam kamp konsentrasi atau menderita di tempat lain. Sangat masuk akal kalau mereka ingin membebaskan saudara setanah air ini dari tjengkeraman Djepang dan kepada mereka mengembalikan Hindia jang lama, Hindia tempat mereka hidup dan bekerdja sebelum pendudukan Djepang, dan sesudah pendudukan Djepang berachir, mereka djuga akan hidup dan bekerdja.

Tentu bisa dipastikan bahwa per-tama2 kalangan jang penuh dorongan untuk melaporkan diri bagi Indonesia adalah mereka jang punja teman atau anggota keluarga untuk segera dibebaskan. Walau begitu kita harus ber-hati2, bahwa bagi kalangan tertentu ada motif lain jang lebih menentukan bahkan berperan sangat penting. Di sini saja ingin menundjuk mereka jang dengan hasrat meng-gebu2 ingin mengusir Djepang tapi achirnja hanja untuk memulihkan situasi lama sebelum 1941. Singkatnja mereka hanja ingin merebut kembali Hindia dari Djepang. “Kita harus mengirim pasukan sekuat mungkin ke Hindia,” begitu pikiran orang, “Untuk mengembalikan hak kita atas Hindia, dan berdiri sekokoh mungkin dalam rangka menghadapi kemungkinan tuntutan internasional”.

Sebagai orang Indonesia kami harus menampik pendapat seperti ini. Dan chususnja, dalam menghadapi pendapat seperti itu, menurut kami djustru penting untuk memusatkan perhatian kawula muda Belanda pada masalah ini. Para pemuda Belanda jang nanti akan berbaris untuk berperang di Timur harus benar2 berpikir mengapa mereka ikut bertempur. Mereka harus benar2 mempertimbangkan apakah perlawanan ini bertudjuan bagi pembebasan rakjat dan bagi martabat kemanusiaan, perdjuangan jang di Eropa telah menjebabkan djutaan pemuda kehilangan njawa, apakah itu di medan laga, akibat perlawanan bawah tanah, di pelbagai kamp konsentrasi atau karena kurungan pendjara.

Pembebasan Indonesia. Untuk apa itu bagi kami orang Indonesia, apa makna kata2 itu bagi kami, dan apa jang kami pikirkan tentang pertempuran jang nanti akan dilantjarkan sekutu bagi pembebasan negeri kami, dan andil Belanda dalam perlawanan ini?

Tentu sadja kami akan sangat bersorak sorai kalau kelak pasukan sekutu jang perkasa berhasil membebaskan negeri kami. Kami ingin setjepat mungkin melihat Djepang enjah, lebih baik hari ini daripada besok! Tapi bukan hanja pengusiran Djepang jang diinginkan oleh rakjat kami. Apa jang didambakan oleh gerakan nasional Indonesia bagi rakjat Indonesia adalah benar2 pembebasan sehingga segenap rakjat bisa berkembang dan madju sepenuhnja supaja dapat mengambil tempat bermartabat pada deretan bangsa2 lain.

Dari kiri ke kanan: Toeti Soedjanadiwirja, Mimi Soetiasmi Soejono dan Evie Poetiray (foto dari buku »In het land van de overheerser«, halaman 321)

Gerakan nasional selalu berdjuang bagi hak2 demokratis rakjat; lama sebelum pendudukan Djepang sudah kami lihat antjaman jang datang dari Djerman dan Djepang, jang meng-indjak2 hak2 asasi manusia. Chususnja dalam hal ini gerakan nasional selalu terus2an berseru, baik kepada pemerintah maupun rakjat Belanda, supaja dilakukan penindjauan kembali terhadap hubungan kenegaraan antara Indonesia dan Belanda dalam arti demokratis. Gerakan nasional semakin sadar bahwa hubungan jang telah mengikat kedua negara selama ber-abad2, tidak bisa diputus begitu sadja tanpa mengorbankan kedua rakjat. Hubungan kolonial harus diachiri; harus diupajakan supaja kedua negara bisa berdampingan berdasarkan persamaan demokratis. Ikatan jang menghubungkan kedua negara tidak boleh lagi hanja ditentukan oleh satu pihak, tetapi harus diterima setjara suka rela oleh kedua pihak. Inilah titik awal seluruh aktivitas gerakan nasional pada bidang politik. Dan bagi PI (Perhimpunan Indonesia) jang telah mengambil alih serta mengembangkan pemikiran ini, dan selama tahun2 pendudukan Djerman chususnja telah pula memperdalam dan memperluasnja, maka ini akan tetap merupakan titik pidjak dan kompas politiknja, djuga dalam hal pembebasan Indonesia.

Perdjuangan pembebasan Indonesia bagi kami tidak bisa dipikirkan secara terpisah dari hubungan kenegaraan jang akan menentukan pendirian Indonesia di hadapan Belanda setelah pembebasan ini. Dan ini, menurut kami, djuga merupakan kewadjiban setiap pemuda Belanda jang nanti dalam perdjuangan ini akan mempertaruhkan njawa, untuk berpikir tentang hal ini pula, karena perdjuangan dengan pengorbanan tertinggi akan menuntut njawa, hanja akan bermakna tatkala orang setjara tegas dan djelas melihat apa tudjuan perlawanan mereka. Belanda sudah tahu apa tudjuan perdjuangannja, tatkala para buruh mogok pada bulan februari 1941, begitu pula tatkala mahasiswa menolak menandatangani pernjataan setia kepada pendudukan Djerman, tatkala ribuan kawula muda lebih memilih kehidupan tak menentu penuh kesulitan ketimbang harus bekerdja untuk musuh. Sekarang rakjat Belanda djuga harus tahu untuk apa mereka berperang, kalau nanti datang panggilan untuk bertempur sampai titik achir perdjuangan melawan ketidakadilan dan kekerasan.

Pada bulan desember 1942, sri baginda ratu Wilhelmina berpidato tentang Indonesia, jang kami harap akan menentukan arah rakjat Belanda dalam berpendapat dan bersikap tentang pembebasan Indonesia dan masa depan hubungan negara kami dengan Belanda. Dalam pidato itu sri baginda ratu dengan berani menggunakan istilah kebersamaan sepenuhnja antara kedua bangsa, jang berarti hubungan kolonial lama harus diachiri, karena tidak mengenal persamaan sepenuhnja, melainkan satu pihak memutuskan untuk pihak lain, tanpa keikutsertaan pihak lain itu. Lebih landjut sri baginda djuga bersabda, “Saja tahu tidak akan ada kesatuan politik atau kebersamaan nasional bisa terus ada kalau tidak didukung oleh kehendak suka rela dan kepertjajaan majoritas warga”. Kata2 ini sepenuhnja pas dengan prinsip2 gerakan nasional Indonesia. Kami djuga berpendirian bahwa hanja hubungan jang setjara suka rela diterima oleh kedua pihak bisa bertahan lama. Lebih dari itu kata2 ini mengakui hak demokratis dalam menentukan nasib sendiri. Pidato ratu menghembuskan nafas jang benar2 baru dan dengan suka tjita dapat kami pastikan bahwa pidato itu sepenuhnja berkaitan dengan kehendak kami bagi pembaruan demokratis dan kemandirian negara kami. Djuga tertjapainja status mandiri ini, sehingga rakjat kami bisa berkembang sepenuhnja dan bisa mendjadi diri sendiri, baik gerakan nasional di Indonesia maupun PI di Belanda telah menjerahkan kekuatan terbaiknja. Dengan tudjuan ini maka kami ingin bahu membahu berdjuang bersama teman seperdjuangan, pihak perlawanan Belanda, dalam perlawanan bawah tanah dengan mempertaruhkan njawa, melawan penghambat setiap kemadjuan dan perkembangan ke arah demokrasi. Dan ketika nanti para pemuda Belanda melaporkan diri untuk mendjadi sukarelawan bagi pembebasan negeri kami, maka kami berharap mereka akan melakukan hal itu dengan kesadaran mendalam untuk benar2 membebaskan rakjat kami. Kata2 ratu jang diutjapkannja pada pidato di atas, merupakan dasar perdjuangan jang akan dilakukan kawula muda Belanda melawan agresor Djepang.

Ada aspek lagi lagi dalam perdjuangan pembebasan Indonesia, kalau kita djuga mempertimbangkan kemandirian Indonesia dan hak orang2 Indonesia untuk menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini merupakan sesuatu jang nistjaja bahwa perdjuangan ini per-tama2 akan dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Pembebasan Indonesia per-tama2 adalah urusan Indonesia sendiri. Belanda djuga sudah berupaja memperoleh sebanjak mungkin andil dalam membebaskan negerinja sendiri, demikian pula dengan perdjuangan orang Prantjis bagi negerinja, orang Jugoslavia dan orang Tjekoslowakia bagi negeri2 mereka. Karena pembebasan jang tidak diperdjuangkan sendiri, melainkan dihadiahkan oleh orang lain akan kehilangan banjak makna.

Semua harus dikerahkan supaja orang Indonesia mempunjai andil sebesar mungkin bagi pembebasan negeri mereka. Gerakan perlawanan ilegal di Indonesia, kalau memang itu ada, harus dirangsang dan diakui bahkan dikerahkan dalam perdjuangan pembebasan. Dengan demikian kami akan memperoleh kesempatan untuk benar2 memiliki andil dalam perdjuangan besar dunia melawan penindasan dan fasisme, bagi kebebasan dan demokrasi. Bahu membahu Indonesia dan Belanda akan berdiri tegar untuk membawa perdamaian dan pembebasan bagi rakjat Indonesia. ***(alih bahasa Joss Wibisono).

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.