“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah. Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran. DI BUMI KELAHIRANNJA, Indonesia, nama Hella Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, … Lanjutkan membaca “Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

“Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera'” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD (jang enggak didemenin sama Oom Ben) silahken ngeklik ini. Aku kenal pribadi Ben Anderson, dikenalkan oleh Sidney Jones, wektu melawat ke Freeville tahun 1991. Dengannja aku biasa ngobrol tentang banjak hal: bahasa, politik, tentara, masak memasak (dia ternjata suka sajur kale bahasa Inggris atau boerenkool bahasa Belanda masak teri dan lombok, buwatanku) dan terutama musik klasik. Ben Anderson paling suka salah satu karja terachir Richard Strauss berdjudul Vier Letzte Lieder (empat lagu terachir) dibawakan oleh mendiang soprano Suisse Lisa della Casa, tapi paling bentji Beethoven. Berikut kenanganku tentang sobat jang satu ini. Benedict Richard O’Gorman … Lanjutkan membaca “Mengapa Benedict Richard O’Gorman Anderson berterima kasih padaku dalam ‘Tiga bendera’” oleh Joss Wibisono

“Enaknja jang mana: pilkada atau pemilukada?” oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem EYD alias edjaan orde bau bisa dibatja klow mengklik ini Dulu —tatkala DPR meloloskan UU pemilihan kepala daerah tak langsung— orang sudah memperbintjangkannja. Sekarang —mendjelang serempak berlangsungnja pemilihan kepala daerah— lagi2 perbintjangan itu kembali terdengar. Dulu itu orang tidak hanja membahas apakah pemilihan kepala daerah sebaiknja dilakukan langsung oleh warga daerah atau pemilihan tidak langsung jang, atas nama rakjat daerah, didjalankan oleh dewan perwakilan rakjat daerah tertentu. Sekarang orang tidak hanja membitjarakan pelbagai politisi jang mentjalonkan diri pada pemilihan kepala daerah jang akan digelar serempak pada beberapa daerah. Bersamaan dengan itu baik sekarang maupun dulu … Lanjutkan membaca “Enaknja jang mana: pilkada atau pemilukada?” oleh Joss Wibisono

“Victim’s Plight, Perpetrator’s Absence” by Joss Wibisono

Other version of this review has appeared on Social Transformation Vol 3, No. 1 (pp 86-8) Fifteen years after the fall of Soeharto, the age of Reformasi, as it is popularly known, has finally reached the Indonesian literary scene. Not only is a novel published with its complete original content (which was omitted during Soeharto’s New Order regime), but Indonesian readers also have a choice in which literature they read. Many of these “new” novels deal with the tragedy in 1965 when up to one million people were slaughtered, marking Soeharto’s ascent to power. Indeed, literature is now finally taking … Lanjutkan membaca “Victim’s Plight, Perpetrator’s Absence” by Joss Wibisono

“Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

Untuk tahun 2013 (tatkala artikel ini ditulis) hadiah Nobel Kesusastraan diraih oleh tjerpenis Kanada Alice Munro. Lagi2 bukan penulis Asia Tenggara, seperti telah tak tulis di Tempo edisi 7-13 Oktober 2013 (halaman 74). Ini hlo versi usil kolomku itu. Sebagai pembuka, berikut dua dalil. Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnja djuga erat berkaitan dengan bahasa, djadi bukan melulu sastra, seperti dugaan orang selama ini. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karja sastra, keindahannja tak akan pernah bisa terungkap lewat medium lain ketjuali bahasa. Kedua, zaman sekarang djuga mustahil menjebut satu bahasa lebih indah ketimbang bahasa lain. Karena itu hadiah Nobel Kesusastraan … Lanjutkan membaca “Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

“Djilbab handuk saat makan malem di Kyoto” oleh Joss Wibisono

Di Djepun ternjata orang bisa makan beberapa gangen (hidangan) pada beberapa restoran. Djadi voorafje (hidangan pembuka) di restoran A, hoofdgerecht (hidangan utama) restoran B, dan toetje (hidangan penutup) di restoran C. Kajaknja di Belanda enggak ada deh jang berbuwat gitu. Paling banter mungkin tjuman mendjeladjah bar jang artinja minum dari satu bar ke bar jang laen, ambil mitsal di Leidseplein, Ngamsterdam. Dalem soal makanan orang Belanda kajaknja enggak seavonturir orang Djepun jang dojan djadjan dari satu restoran ke restoran laen dalem satu malemnja. Bekitjot Kemis malem di awal bulan Djuni 2011 itu ikke diundang sama Okamoto-sensei, counterpartnja ikke, untuk makan … Lanjutkan membaca “Djilbab handuk saat makan malem di Kyoto” oleh Joss Wibisono

“Retour: sebuah novel djawaban” oleh Joss Wibisono

Versi EYD terbitnja di Suara Merdeka edisi 11 Djanuari halaman 23 Pulang karja Leila Chudori diterdjemahkan ke dalam bahasa Prantjis. Maka inilah djawaban seorang novelis Indonesia kepada seorang penulis Prantjis jang pernah menulis novel tentang Djawa. PADA TAHUN 1832 terbit sebuah novel berdjudul Voyage de Paris à Java (Perdjalanan dari Paris ke Djawa) karja penulis Prantjis Honoré de Balzac. Walaupun dikenal sebagai penulis realis, Balzac sebenarnja belum pernah melawat ke Djawa. Novel itu se-mata2 fantasinja belaka tentang sebuah wilajah eksotis di belahan bumi lain. Balzac misalnja mentjatat bahwa di Djawa tumbuh pohon beratjun upa jang bisa menewaskan siapa sadja jang … Lanjutkan membaca “Retour: sebuah novel djawaban” oleh Joss Wibisono

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini. Berikut ini kutipannya: Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 22.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 8 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya. Klik di sini untuk melihat laporan lengkap. Lanjutkan membaca 2014 in review

“Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD, silahken ngeklik ini. Kamis sore 16 Oktober itu Auditorium INALCO (singkatan bahasa Prantjis untuk Institut Nasional Bahasa dan Kebudajaan Timur) di Paris tenggara, tampak mulai ramai. Seperti air menetes, pengundjung berdatangan menghadiri seminar bertadjuk “Paris vu de Djakarta” alias “Paris dipandang dari Djakarta”. Atjara utama seminar bienale (dua tahunan) ini adalah peluntjuran Retour, terdjemahan bahasa Prantjis novel Pulang karja penulis Indonesia Leila S. Chudori. Dari sela2 pengundjung jang mulai memadati ruangan menudju auditorium, sesekali menjembul seorang perempuan jang begitu sibuk mengurusi ini itu. Sore itu Johanna Lederer bergaun tjoklat kemerahan dengan selendang songket biru berdjuntai … Lanjutkan membaca “Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono