“Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

Versi pendekan dan dalem EYDnja orde bau telah nongol di harian Suara Merdeka, edisi 10 djanuari 2016, halaman 18 bawah. Novel Sang Djuragan Teh karja Hella Haasse hanja menampilkan bumiputra Hindia Belanda sebagai figuran. DI BUMI KELAHIRANNJA, Indonesia, nama Hella Haasse hanja dikenal oleh kalangan terbatas, misalnja mereka jang beladjar dan mendalami sastra Belanda, seperti mahasiswa dan staf pengadjar AKABA 17 Semarang. Dan memang Ibu Dr. Inge Widjajanti Dharmowijono, salah seorang pengadjar AKABA 17, adalah penerdjemah Sleuteloog (mendjadi Mata Kuntji), novel terachir Hella Haasse dengan latar belakang Hindia Belanda, Indonesia pada zaman kolonial. Tapi di Belanda, negeri bekas pendjadjah itu, … Lanjutkan membaca “Bukan keturunan djuragan” oleh Joss Wibisono

“Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

Versi sedikit lain dan dalem edjaan orde bau nongolnja di Bali Post edisi 20 desember 2015, di sekudjur halaman 4. BULAN NOVEMBER 2015, het Muziektheater jaitu gedung opera Amsterdam, ibukota Belanda, mementaskan dua opera karja komponis Prantjis Francis Poulenc (1899-1963). Opera pertama berdjudul Dialogues des Carmélites (Tjeloteh biarawati Karmelites) sedangkan opera kedua, lebih pendek dan surealistis, berdjudul Les mamelles de Tirésias artinja pajudara Tirésias. Sepintas bagi kita orang Indonesia tak ada jang istimewa pada kedua pertundjukan. Apa sich istimewanja sebuah pertundjukan opera di ibukota negeri bekas pendjadjah? Bukankah itu kegiatan rutin belaka? Keistimewaan baru terdengar kalau kita mengamati kedua opera … Lanjutkan membaca “Lamat2 gamelan Bali dalam musik klasik barat” Oleh Joss Wibisono

“Budaja takut kembali mentjekam Indonesia” oleh koresponden Michel Maas

Ini terdjemahan wasweswos laporan Michel Maas jang pada hari senin 26 oktober 2015, terbit di harian de Volkskrant, halaman 15. Pembunuhan massal orang2 komunis di Indonesia terdjadi 50 tahun silam. Tapi berbitjara dju2r tentang ‘1965’ te2p tidak mungkin. Lebih2 lagi: sensor sekarang kembali beroperasi sepenuhnja. Mendadak sontak sensor kembali sepenuhnja hadir di Indonesia. Hanja menjebut tahun 1965 sadja orang sudah bakal kena masalah. “Sepertinja sensor kembali mendjadi mode dari hari ini ke besoknja,” keluh seorang direktur sebuah festival sastra jang begitu kaget lantaran kundjungan polisi. Pada sebagian atjaranja, festival jang dibuka rebo mendateng ini sedianja djuga akan membahas pembunuhan massal … Lanjutkan membaca “Budaja takut kembali mentjekam Indonesia” oleh koresponden Michel Maas

“Memahamin foto2 exekusi jang ditemuken di Gouda” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit laen dan dalem EYD bisa dibatja dengen mengklik ini. Berita dan foto di harian de Volkskrant edisi Djumat 16 Oktober 2015 tentang eksekusi di Indonesia pada zaman perang kemerdekaan dulu, diteruskan oleh televisi dan radio Belanda jang lebih landjut mengupas foto2 itu. Memang hanja foto dan slides jang ditemukan di Verzetsmuseum (Museum Perlawanan) Gouda, pendjelasannja tidak ada. Kepada NPO-Radio 1, radio publik Londo, sedjarawan Louis Zweers, spesialis foto2 dekolonisasi Indonesia, menjatakan bahwa penemuan terachir ini tidak menjertakan konteksnja. Itu berarti, demikian Zweers, tidak ada informasi mengenai di mana, kapan, siapa dan apa jang sebenarnja terdjadi. Padahal informasi … Lanjutkan membaca “Memahamin foto2 exekusi jang ditemuken di Gouda” oleh Joss Wibisono

“Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

Kalow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Tudjuh puluh tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda si bekas pendjadjah masih sadja dihantui oleh masa lampau kolonial itu. Lalu apa jang harus dilakukan Indonesia? Diam dan mengamati sadja setiap ada ribut2 di bekas negeri induk? Jakinkah orang Indonesia bahwa dia tidak membebek Belanda: melakukan pelanggaran hak2 asasi manusia besar2an di negeri lain? Beberapa hari mendjelang peringatan 70 tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, persisnja pada hari Djumat 14 Agustus lalu, NRC Handelsblad —harian sore Belanda terbitan Amsterdam— datang dengan berita kedjutan. Gebrakan ini berdampak ribut2 dalam pers Belanda dan terus terbawa … Lanjutkan membaca “Belanda dan masa lampau kolonialnja, kita?” oleh Joss Wibisono

“Perbudakan di Hindia dan surat terbuka Reggie Baay”

Klow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Pengantar: Setiap tanggal 1 Djuli setjara nasional Belanda mengenang penghapusan perbudakan di wilajah koloninja. Sedjak 2002 peringatan itu berlangsung di Oosterpark Amsterdam, persisnja di Nationaal monument slavernijverleden (Monumen nasional masa lampau perbudakan). Walau begitu, menurut Reggie Baay pada surat terbukanja berikut, pada tanggal itu sebenarnja hanja sebagian penghapusan perbudakan jang diperingati. Maret 2015 sedjarawan dan novelis Belanda Reggie Baay menerbitkan buku tentang perbudakan di Hindia Belanda berdjudul Daar werd wat gruwelijks verricht, slavernij in Nederlands-Indië (Di sana dilakukan sesuatu jang mengerikan: perbudakan di Hindia Belanda). Dalam buku terbarunja ini Reggie … Lanjutkan membaca “Perbudakan di Hindia dan surat terbuka Reggie Baay”

“Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

Zaman sekarang tjabé sudah tidak terpisahkan lagi dari menu se-hari2 kita. Begitu besar perannja sampai sangat sulit membajangkan ada djamuan makan Nusantara jang sepenuhnja bebas dari lombok. Tidaklah mengherankan klow terdengar keluhan begitu harga tjabé melondjak. Tapi tahukah anda bahwa sebenernja hidangan makanan Nusantara tidak selalu mengandung lombok? Nusantara pernah mengenal zaman tak bertjabé. Bahkan sajuran sumber rasa pedes ini sebenernja djuga bukan asli Nusantara. Djamuan makan pada zaman Hajam Wuruk, radja Madjapahit misalnja, tidak mengandung tjabé, walowpun tidak berarti absennja rasa pedes. Pedes tanpa lombok? Bagaimana mungkin? Tentang situasi kuliner Djawa djadoel itu berikut bintjang2 dengan Hedi Hinzler, pakar … Lanjutkan membaca “Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

“Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

Ini resensi fiksi keduwa jang pernah kubikin, sekaligus ini adalah versi keduwa resensi keduwa ini. Versi pertama nongolnja di Tempo. Lantaran buku Iksaka Banu ini begitu menarik dan mingsih ada azha gagasan jang bernongolan, maka aku nulis versi kedua jang nongolnja di Majalah Loka. Berikut ini versi jang sedikit lain, lantaran tida dalem EYD. SEDJARAH INDONESIA SEBAGAI FIKSI: selain Pramoedya Ananta Toer, tidak banjak jang bernjali melakukannja. Salah satu penulis jang sedikit itu adalah Iksaka Banu. Dalam buku pertamanja, kumpulan tjerita pendek berdjudul Semua untuk Hindia Banu menggubah fiksi jang berisi kisah2 mulai dari kedatangan Cornelis de Houtman di kepulauan … Lanjutkan membaca “Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

“Menelusur Djedjak Adinda” Oleh Henk Mak van Dijk

Ini esai aku jang bikin terdjemahannja. Klow gak betah batja tulisan dalem edjaan Soewandi, silahken klik di sini untuk versi edjaan orde baunja, alias EYD. Eduard Douwes Dekker baru berusia 18 tahun tatkala dia, pada tahun 1839, tiba di Batavia bersama ajah dan kakaknja. Berkat djaminan sang ajah, dia bisa bekerdja sebagai amtenar tak bergadji tetap pada Algemeene Rekenkamer, lembaga keuangan penguasa kolonial jang antara lain menghitung batig slot, jaitu keuntungan kolonial jang dibawa “pulang” ke Belanda. Prestasi kerdjanja baik, sehingga ia tjepat naik pangkat. Tetapi dalam posisi tweede commies, dengan tugas melakukan penghitungan itu, Eduard sering bosan jang sebenarnja … Lanjutkan membaca “Menelusur Djedjak Adinda” Oleh Henk Mak van Dijk

“La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 16, Décembre 2013, pp. 187-191 Les Espagnols l’ont fait aux Philippines, les Portugais au Timor oriental, les Français en Indochine et, dans une certaine mesure, les Britanniques en Birmanie : les (ex)-colonisateurs ont forcé les (ex)-colonisés à parler leur langue. Mais les Néerlandais ne l’ont pas imposé aux Indes orientales. La population a continué à parler malais (bahasa Melajoe), het Maleis en néerlandais, la langue à la source de l’indonésien. Il est cependant intéressant de noter que les autres colonies néerlandaises comme le Surinam ou les Antilles néerlandaises ont, elles, été forcées de parler … Lanjutkan membaca “La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono