“Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Salah satu daja tarik Amsterdam jang menjebabkan saja pada achir 1987 berkeputusan mendjadi penduduknja adalah amburadulnja situasi ibukota Belanda ini. Berlainan dengan Hilversum misalnja, kota tempat Radio Nederland bermarkas (waktu itu saja kerdja untuk seksi Indonesia), di Amsterdam lampu merah tidak berarti orang benar2 dilarang menjeberang djalan. Kalau memang sudah tidak ada hambatan, katakan sadja sudah tidak ada lagi mobil jang lalu lalang, maka walau pun lampu masih merah, warga Amsterdam pasti akan njelonong menjeberang djalan. Selain itu, di Amsterdam djuga terdapat banjak sekali tjoretan dinding jang disebut grafitti. Banjak matjam tjoretan dinding di Amsterdam, tetapi jang saja sukai adalah … Lanjutkan membaca “Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

“Nasionalisme: Kini Giliran Bahasa” oleh Joss Wibisono

Catatan awal: versi EYD kolom ini jang lebih pendekan telah diumumkan oleh MBM Tempo edisi 7 Desember 2009, halaman 68. Bisa diklik di sini. Blog Ivan Lanin djuga mengumumkannja. Vienna atau Wina? Geneva atau Djenewa? Cheska atau Tjeko? China atau Tjina? Selama dua versi itu terus digunakan, diskusi mengenai nama2 asing ini tidak akan pernah selesai. Uraian berikut datang dengan sudut pandang jang agaknja belum pernah digunakan. Itulah nasionalisme. Nasionalisme bahasa, persisnja. Dengan katjamata nasionalisme bahasa, maka pertanjaannja mendjadi: kalau kita sudah punja Wina kenapa harus Vienna? Kalau kita sudah punja Djenewa buat apa Geneva? Kalau kita sudah punja Tjina … Lanjutkan membaca “Nasionalisme: Kini Giliran Bahasa” oleh Joss Wibisono

“Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

Larangan mendengarkan djenis musik tertentu ternjata bukan tjuma pengalaman kita di zaman Demokrasi Terpimpin dulu. Sekitar tiga dekade sebelumnja, di zaman Nazi, orang Djerman djuga sudah pernah mengalami larangan serupa (tentunja termasuk berbagai pembatasan lain). Persamaannja dengan pengalaman kita, menariknja lagi, ternjata tidak berhenti di sini sadja: pada masing2 zaman itu musik jang dilarang selalu diberi nama, djulukan jang djelas bersifat edjekan belaka. Seperti kita tahu, pada zaman Demokrasi Terpimpin musik jang dilarang disebut musik ngak-ngik-ngok, dan terwudjud pada kelompok Koes Bersaudara (kemudian terkenal sebagai Koes Plus) jang didjebloskan dalam pendjara karena berada di garis depan para pemusik à la … Lanjutkan membaca “Sedjarah Musik Bedjat” oleh Joss Wibisono

“Soeharto dan diktator2 Nusantara lain*)” oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: Mohon maaf, kalau ada yang kesulitan, yang tidak bisa, yang merasa tersiksa, yang tidak betah atau yang tidak sudi membaca sebuah tulisan dalam ejaan Suwandi (berlaku dari 1952 sampai 1972), maka dipersilahkan membaca versi EYD tulisan ini yang diumumkan oleh Jurnal Renai, Kajian Politik Lokal dan Sosial-Humaniora, terbitan Yayasan Percik di Salatiga, Tahun VIII No. 2. 2008 – IX No. 1 2009 ISSN 1411-7924. Tulisan ini dicetak pada halaman-halaman 283-315. Terima kasih. SEMUA bentuk pelanggaran hak2 asasi manusia kedji ulah orde baunja harto bisa sadja tidak memiliki preseden dalam sedjarah Indonesia. Mungkin pula di bumi Nusantara pra Indonesia, … Lanjutkan membaca “Soeharto dan diktator2 Nusantara lain*)” oleh Joss Wibisono

“Fascination with Fascism” by Joss Wibisono

Fascination with Fascism: Japan and Germany in the Indies of the 1930s Japan’s victory over Russia in 1905 was, as widely known, an eye opener for other Asian nations, especially those who were still colonized. At last fellow Asians defeated the white race, so it was perceived. Japan became a model and the interest in the country of the rising sun extended well until the 1930s, a different period in Japan as it embraced fascism. Information and knowledge about Japan filtered through to the Indies mainly through publications in Dutch, which, in turn, originated from Germany. This should not be … Lanjutkan membaca “Fascination with Fascism” by Joss Wibisono

“Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini esei jang ditulis dalem EYD diumumken sama Majalah Historia Online. Kalow gak dojan batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, ja silahken klik MHO. Tjuman di situ gak lengkap dan tjonto2 karja musiknja djuga gak banjak. Perupa Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kedjutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinja. Tampang asli? Ija, kerna ketika misih muda, usia awal 20an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu misih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indischnja. Wilders, seperti kita tahu, memang punja nenek mojang jang berasal dari Hindia Belanda, tjikal bakal … Lanjutkan membaca “Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

“Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

Dèngen ini tulisan aku solider sama Eko Endarmoko jang didzolimi Pusat Bahasa karena karjanja Tesaurus Bahasa Indonesia didjiplak oleh lembaga taik kutjing itu. Versi jang agak berbeda diterbitkan oleh Tempo dalam rubrik bahasa, kemudian djuga diumumkan oleh blog rubrik bahasa milik Ivan Lanin. Seperti biasa, untuk blog, ini tulisan ditampilken dalam edjaan jang belon disempurnaken sama orde baunja engkong harto. Kalow ada jang lebih suka atow lebih terbiasa sama edjaannja si engkong, dipersilahken batja versi jang diumumkan Tempo. Pusat Bahasa, satu2nja otoritas bahasa kita, terdjerembab dalam kontroverse karena dituduh mendjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karja Eko Endarmoko. Tulisan ini mengadjak pembatja … Lanjutkan membaca “Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

“Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

Mohon perhatian: Siapa sadja boleh merudjuk tulisanku ini. Tapi tolong ditulis bahwa Anda merudjuknja. Kalangan mahasiswa/akademis sudah berbuwat demikian, menjebut eseiku ini pada referensi atow rudjukannja. Tapi tidaklah demikian dengan kalangan wartawan atau dunia pers, karena memang tidak umum bagi sebuwah laporan jurnalistik untuk djuga mentjantumken referensi. Walau begitu, supaja tak ditjap melakuken pendjiplakan atow plagiat, saja mendesak tulisan ini tetap disebut sebagai rudjukan djika Anda memang mengutipnja. Trims. Catatan awal: versi lain tulisan ini diumumkan oleh harian Kompas pada edisi Ahad 13 Maret 2011, di halaman 20, yang kemudian diambil alih oleh beberapa blog, antara lain blog ini. Untuk … Lanjutkan membaca “Gamelan Menerobos Musik Klasik” oleh Joss Wibisono

“Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: Versi sedikit lain tulisan ini diumumkan oleh MBM Tempo yang kemudian juga disalin oleh Ivan Lanin dalam blognya Rubrik Bahasa. Kolom ini ditulis antara lain untuk menjawab kalangan yang menghimbau supaya saya menulis soal sex, film, dst. Dalam blog ini digunakan ejaan yang belum disempurnakan oleh orde barunya engkong harto. Selamat membaca dan silahkan berkomentar. Kalow bisa lebih dari unjuk jempol jach. Trims banget, sebelumnya. Ada baiknja tulisan ini diawali dengan dua larik sjair lagu Djoewita Malam, karja Ismail Marzuki [1914-1958]. “Djoewita malam siapakah gerangan toean Djoewita malam dari boelankah toean”. Kemudian dua larik lagi, masih karja komponis … Lanjutkan membaca “Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

“Sang djenderal, sang teknokrat” oleh Joss Wibisono

Djenderal jang berpasangan dengan teknokrat sebenarnja bukan barang baru di Indonesia. Berniatkah orang menerobos tradisi ini untuk meningkatkan mutu berbangsa dan bernegara? I Sudah sedjak orde bau tampil berkuasa pada paruh kedua 1960an, Indonesia mengenal djenderal jang berpolitik (walaupun bibitnja sudah ditanam achir 1950an ketika terdjadi tentaraisasi perusahaan2 Belanda). Tapi mereka tidak pernah sendirian, karena dalam berpolitik djenderal selalu didampingi teknokrat. Keduanja senantiasa berkuasa bersama, djenderal sibuk berpolitik dan teknokrat mengurusi ekonomi. Dan itu bukan tanpa masalah, karena walaupun ekonomi tampak membaik, tapi itu tjuma semu belaka, maklum politiknja tetap se-wenang2. Pada achir kekuwasaan tangan besi orde bau, ketika politik … Lanjutkan membaca “Sang djenderal, sang teknokrat” oleh Joss Wibisono