“Perbudakan di Hindia dan surat terbuka Reggie Baay”

Klow mau batja versi edjaan orde bau, silahken ngeklik ini. Pengantar: Setiap tanggal 1 Djuli setjara nasional Belanda mengenang penghapusan perbudakan di wilajah koloninja. Sedjak 2002 peringatan itu berlangsung di Oosterpark Amsterdam, persisnja di Nationaal monument slavernijverleden (Monumen nasional masa lampau perbudakan). Walau begitu, menurut Reggie Baay pada surat terbukanja berikut, pada tanggal itu sebenarnja hanja sebagian penghapusan perbudakan jang diperingati. Maret 2015 sedjarawan dan novelis Belanda Reggie Baay menerbitkan buku tentang perbudakan di Hindia Belanda berdjudul Daar werd wat gruwelijks verricht, slavernij in Nederlands-Indië (Di sana dilakukan sesuatu jang mengerikan: perbudakan di Hindia Belanda). Dalam buku terbarunja ini Reggie … Lanjutkan membaca “Perbudakan di Hindia dan surat terbuka Reggie Baay”

“Victim’s Plight, Perpetrator’s Absence” by Joss Wibisono

Other version of this review has appeared on Social Transformation Vol 3, No. 1 (pp 86-8) Fifteen years after the fall of Soeharto, the age of Reformasi, as it is popularly known, has finally reached the Indonesian literary scene. Not only is a novel published with its complete original content (which was omitted during Soeharto’s New Order regime), but Indonesian readers also have a choice in which literature they read. Many of these “new” novels deal with the tragedy in 1965 when up to one million people were slaughtered, marking Soeharto’s ascent to power. Indeed, literature is now finally taking … Lanjutkan membaca “Victim’s Plight, Perpetrator’s Absence” by Joss Wibisono

“Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

Untuk tahun 2013 (tatkala artikel ini ditulis) hadiah Nobel Kesusastraan diraih oleh tjerpenis Kanada Alice Munro. Lagi2 bukan penulis Asia Tenggara, seperti telah tak tulis di Tempo edisi 7-13 Oktober 2013 (halaman 74). Ini hlo versi usil kolomku itu. Sebagai pembuka, berikut dua dalil. Pertama, hadiah Nobel Kesusastraan sesungguhnja djuga erat berkaitan dengan bahasa, djadi bukan melulu sastra, seperti dugaan orang selama ini. Mustahil bahasa bisa kita tanggalkan dari karja sastra, keindahannja tak akan pernah bisa terungkap lewat medium lain ketjuali bahasa. Kedua, zaman sekarang djuga mustahil menjebut satu bahasa lebih indah ketimbang bahasa lain. Karena itu hadiah Nobel Kesusastraan … Lanjutkan membaca “Titik buta nobel sastra” oleh Joss Wibisono

“Djilbab handuk saat makan malem di Kyoto” oleh Joss Wibisono

Di Djepun ternjata orang bisa makan beberapa gangen (hidangan) pada beberapa restoran. Djadi voorafje (hidangan pembuka) di restoran A, hoofdgerecht (hidangan utama) restoran B, dan toetje (hidangan penutup) di restoran C. Kajaknja di Belanda enggak ada deh jang berbuwat gitu. Paling banter mungkin tjuman mendjeladjah bar jang artinja minum dari satu bar ke bar jang laen, ambil mitsal di Leidseplein, Ngamsterdam. Dalem soal makanan orang Belanda kajaknja enggak seavonturir orang Djepun jang dojan djadjan dari satu restoran ke restoran laen dalem satu malemnja. Bekitjot Kemis malem di awal bulan Djuni 2011 itu ikke diundang sama Okamoto-sensei, counterpartnja ikke, untuk makan … Lanjutkan membaca “Djilbab handuk saat makan malem di Kyoto” oleh Joss Wibisono

“Retour: sebuah novel djawaban” oleh Joss Wibisono

Versi EYD terbitnja di Suara Merdeka edisi 11 Djanuari halaman 23 Pulang karja Leila Chudori diterdjemahkan ke dalam bahasa Prantjis. Maka inilah djawaban seorang novelis Indonesia kepada seorang penulis Prantjis jang pernah menulis novel tentang Djawa. PADA TAHUN 1832 terbit sebuah novel berdjudul Voyage de Paris à Java (Perdjalanan dari Paris ke Djawa) karja penulis Prantjis Honoré de Balzac. Walaupun dikenal sebagai penulis realis, Balzac sebenarnja belum pernah melawat ke Djawa. Novel itu se-mata2 fantasinja belaka tentang sebuah wilajah eksotis di belahan bumi lain. Balzac misalnja mentjatat bahwa di Djawa tumbuh pohon beratjun upa jang bisa menewaskan siapa sadja jang … Lanjutkan membaca “Retour: sebuah novel djawaban” oleh Joss Wibisono

“Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

Zaman sekarang tjabé sudah tidak terpisahkan lagi dari menu se-hari2 kita. Begitu besar perannja sampai sangat sulit membajangkan ada djamuan makan Nusantara jang sepenuhnja bebas dari lombok. Tidaklah mengherankan klow terdengar keluhan begitu harga tjabé melondjak. Tapi tahukah anda bahwa sebenernja hidangan makanan Nusantara tidak selalu mengandung lombok? Nusantara pernah mengenal zaman tak bertjabé. Bahkan sajuran sumber rasa pedes ini sebenernja djuga bukan asli Nusantara. Djamuan makan pada zaman Hajam Wuruk, radja Madjapahit misalnja, tidak mengandung tjabé, walowpun tidak berarti absennja rasa pedes. Pedes tanpa lombok? Bagaimana mungkin? Tentang situasi kuliner Djawa djadoel itu berikut bintjang2 dengan Hedi Hinzler, pakar … Lanjutkan membaca “Makanan Djawa kuno: tanpa lombok dan kuning” oleh Joss Wibisono

2014 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini. Berikut ini kutipannya: Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 22.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 8 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya. Klik di sini untuk melihat laporan lengkap. Lanjutkan membaca 2014 in review

“Mengangkut babi” oleh Hedi Hinzler

Versi EYD nongolnja di Bali Post edisi 21 Desember 2014, halaman 19 kiri atas. Sjahdan, pada suatu ketika ada sematjam sangkar pandjang tanpa alas atau tutup, dibuat dari anjaman bambu kasar sadja dan dipergunakan untuk mengangkut babi hidup-hidup, ke pasar atau tempat pemotongan. Dulu itu djuga dibutuhkan tongkat jang dimasukkan ke dalam sangkar supaja dua pria bisa memikulnja dari tempat pembiakan ke rumah si pemesan binatang. Kadang2 sampai butuh waktu sedjam untuk menggotong babi ke tempat tudjuan, begitu tjerita orang padaku. Ketika sampai di depan rumah pembeli, babi itu lalu disembelih, dengan kelihaian seorang djagal: potongan dilakukan persis pada urat … Lanjutkan membaca “Mengangkut babi” oleh Hedi Hinzler

“Mitos kekuatan rakjat” oleh Joss Wibisono

Aslinja tulisan ini adalah tugas achir mata kuliah Sosiologi Pembangunan, dosennja Arief Budiman.  Tapi, berhubung masalah kekuwatan rakjat jang itu wektu terkenal dalem istilah Inggrisnja People’s Power kembali aktual dengen kembalinja Benazir Bhutto dari pengasingan, maka tugas achir itu aku tulis lagi djadi sebuwah opini jang nongol di harian Wawasan (Semarang) edisi 17 Mei 1986, halaman II. Tamtu azha penulisan kembali itu djuga didesek lantaran aku, sebagai mahasiswa tanpa penghasilan, butuh honornja supaja bisa makan.   KETIKA BENAZIR BHUTTO pulang dari pengasingan soal kekuatan rakjat (people’s power) kembali diperbintjangkan orang. Terilhami oleh tindakan Cory Aquino di Filipina, Benazir Bhutto ingin … Lanjutkan membaca “Mitos kekuatan rakjat” oleh Joss Wibisono

“Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono

Klow maunja batja versi EYD, silahken ngeklik ini. Kamis sore 16 Oktober itu Auditorium INALCO (singkatan bahasa Prantjis untuk Institut Nasional Bahasa dan Kebudajaan Timur) di Paris tenggara, tampak mulai ramai. Seperti air menetes, pengundjung berdatangan menghadiri seminar bertadjuk “Paris vu de Djakarta” alias “Paris dipandang dari Djakarta”. Atjara utama seminar bienale (dua tahunan) ini adalah peluntjuran Retour, terdjemahan bahasa Prantjis novel Pulang karja penulis Indonesia Leila S. Chudori. Dari sela2 pengundjung jang mulai memadati ruangan menudju auditorium, sesekali menjembul seorang perempuan jang begitu sibuk mengurusi ini itu. Sore itu Johanna Lederer bergaun tjoklat kemerahan dengan selendang songket biru berdjuntai … Lanjutkan membaca “Asosiasi Pasar Malam dan Sastra Indonesia di Prantjis” oleh Joss Wibisono