“Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

Ini resensi fiksi keduwa jang pernah kubikin, sekaligus ini adalah versi keduwa resensi keduwa ini. Versi pertama nongolnja di Tempo. Lantaran buku Iksaka Banu ini begitu menarik dan mingsih ada azha gagasan jang bernongolan, maka aku nulis versi kedua jang nongolnja di Majalah Loka. Berikut ini versi jang sedikit lain, lantaran tida dalem EYD. SEDJARAH INDONESIA SEBAGAI FIKSI: selain Pramoedya Ananta Toer, tidak banjak jang bernjali melakukannja. Salah satu penulis jang sedikit itu adalah Iksaka Banu. Dalam buku pertamanja, kumpulan tjerita pendek berdjudul Semua untuk Hindia Banu menggubah fiksi jang berisi kisah2 mulai dari kedatangan Cornelis de Houtman di kepulauan … Lanjutkan membaca “Bukan Belanda Sontolojo (Tjorat-tjoret setelah batja ‘Semua untuk Hindia’)” Oleh Joss Wibisono

“La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 16, Décembre 2013, pp. 187-191 Les Espagnols l’ont fait aux Philippines, les Portugais au Timor oriental, les Français en Indochine et, dans une certaine mesure, les Britanniques en Birmanie : les (ex)-colonisateurs ont forcé les (ex)-colonisés à parler leur langue. Mais les Néerlandais ne l’ont pas imposé aux Indes orientales. La population a continué à parler malais (bahasa Melajoe), het Maleis en néerlandais, la langue à la source de l’indonésien. Il est cependant intéressant de noter que les autres colonies néerlandaises comme le Surinam ou les Antilles néerlandaises ont, elles, été forcées de parler … Lanjutkan membaca “La politique de la langue et la mentalité VOC” par Joss Wibisono

“‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

Inilah resensi pertama sebuwah novel jang pernah kutulis. Tentu sadja ini djuga novel pertama penulisnja. Versi lain resensi ini nongol di koran Suara Merdeka (dulu De Locomotief), edisi 30 Maret 2014, halaman 24 bawah. Klow mingsih ada azha kalangan jang gak betah batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, dia bisa ngeklik ini untuk batja versi EYD-nja. Membatja Surga Sungsang, novel perdana Triyanto Triwikromo, laksana mendengar sebuah karja musik serius dan besar — dipentaskan bersama oleh orkestra Barat, seperangkat gamelan (sléndro maupun pélog) dan, tak ketinggalan, sekelompok paduan suara besar. Dua hal begitu menondjol dalam Surga Sungsang sehingga kita terdorong mengkaitkannja dengan … Lanjutkan membaca “‘Mendengar’ Surga Sungsang” oleh Joss Wibisono

“Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

Ini kata pengantarku untuk buku Nada Tjerita karja Manunggal Kusuma Wardaya. Aku pasang di sini untuk sedikit mengiklanken buku menarik ini. Membatja esai2 Manunggal Kusuma Wardaya serasa seperti mendengar seseorang mendongeng dalam tutur bahasa jang sederhana, baik, djelas, runtut dan kadang2 djuga berisi sentilan jang mengedjutken. Hanja karena itu sadja, saja sudah terpikat untuk membatja dan terus membatjanja. Menulis dengan baik, dengan kalimat2 sederhana jang tidak rumit dan djelas, apalagi masih disertai dengan tata penulisan jang tepat, sedjatinja merupakan ketrampilan chusus jang hanja dimiliki oleh kalangan tertentu. Padahal dengan bertambah populernja djedjaring sosial seperti twitter atau facebook, mengutarakan pendapat dalam … Lanjutkan membaca “Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

“Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

Artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” dalam suplemen chusus 40 tahun Tempo,  mendjelaskan bagaimana madjalah mingguan ini bersusah pajah merawat bahasa Indonesia. Isinja bukan tjuma proses menemukan kata2 baru, tapi djuga bagaimana menghindari kata2 jang dianggap salah dan mengapa kata2 itu salah. Walau begitu ada satu hal penting jang luput. Mungkin karena medium tjetak, Tempo tidak terlalu berurusan dengannja. Itulah masalah lafal. Sebelum itu perlu ditegaskan artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” djuga berkisar tentang perlawanan. Perlawanan karena, misalnja, Tempo menolak menggunakan bahasa birokrat atau penguasa. Tidak diuraikan lebih landjut bahasa seperti apa itu. Tapi kita mafhum: di mana2 bahasa birokrat selalu … Lanjutkan membaca “Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

“Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini (dan dalem EYD) bisa dibatja di LKIP. Perubahan zaman pasti akan tertjermin pada bahasanja. Begitu zaman berganti, kosakata jang digunakan masjarakat djuga ikut berubah. Tidak pernah terdjadi pada zaman baru orang tetap menggunakan istilah atau kata2 warisan zaman lama. Walaupun misalnja zaman lama begitu ngebet ingin menghibahkan bahasanja kepada zaman baru, sangat patut diragukan zaman baru sudi menerima warisan itu. Tidaklah berlebihan kalau ditegaskan bahwa zaman lama akan selalu gagal mewariskan bahasanja kepada zaman baru. Dan karena dalam 15 tahun terachir Indonesia terutama mengalami perubahan politik, maka jang mentjolok adalah perubahan bahasa politik. Tergusur sudah istilah2 … Lanjutkan membaca “Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

“Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

Pada setiap peringatan Hari Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober, orang Indonesia selalu diingatkan betapa herois dan nasionalistis para pemoeda dulu tatkala mereka bersumpah untuk—selain bertanah air dan berbangsa satu— terutama djuga berbahasa nasional satu: bahasa Indonesia. Heroisme matjem ini, membuwat kita buta pada politik bahasa penguasa kolonial Belanda. Londo dulu sebenarnja memang tidak pernah berminat untuk membuat segenap warga Hindia fasih berbahasa mereka. Londo kolonial itu membiarkan sadja kita berbahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia sekarang. Politik bahasa kolonial inilah jang harus djuga kita pahami, sebelum terus2an membanggakan bahasa nasional kita. Klow berminat, silahken menjimak tulisan jang versi bahasa Prantjisnja … Lanjutkan membaca “Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 29 Djuli Bajangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnja bajangkan bahasa Indonesia itu tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Atjeh bisa memahami orang Papua? Djangankan Atjeh di Sumatra dan Papua di Indonesia timur sebagai dua pulau jang terpisah itu; tanpa bahasa nasional warga satu pulau sadja tampaknja sudah akan kesulitan untuk bisa saling bertutur kata. Di Sumatra sadja: bagaimana orang Atjeh di wilajah utara harus menjapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Kiranja djelas, bagi kita tiadanja bahasa Indonesia tak … Lanjutkan membaca “Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono