“Bagi Mereka Sebaiknja Oranje Pulang Sadja” Oleh Marijn de Vries

Klik di sini untuk versi aslinja jang dalem bahasa Londo; berikut ini alih bahasa: Joss Wibisono     Air dalam ketel dikiranja sudah mendidih begitu terlihat busa tatkala dia memasukkan sebungkus teh tjelup ke dalamnja. Tapi dia lebih berniat beli mesin pendidih air sadja. Busa itu memang pertanda bahwa air sudah panas, tapi sebenarnja masih belum mendidih. Ia tak berani menggunakan ketel karena berisik begitu airnja mendidih. Pokoknja semua harus dilakukan supaja tidak mengganggu sang suami jang begitu keasjikan menonton sepak bola. Tangannja gemetaran ketika mengangkat tjangkir teh di medja dapur. Dari ruang keluarga dia dengar televisi disetel begitu keras. … Lanjutkan membaca “Bagi Mereka Sebaiknja Oranje Pulang Sadja” Oleh Marijn de Vries

“Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

Karena diwawantjarai Indonesiënu.nl aku tulis azha deh resensi ini. Di atas pentas, keberhasilan seorang soprano lebih tergantung pada kerdjasamanja dengan pianis pengiring ketimbang hanja pada kualitas vokalnja sendiri. Ini dibuktikan oleh dua orang pemusik Asia jang menuntut ilmu di Belanda dan kini djuga mentjoba membangun karier di negeri kintjir angin. Pada penampilan di Tong Tong Fair, Den Haag, Sabtu malam 7 Djuni 2014 itu, soprano Indonesia Bernadeta Astari dan pianis Djepang Inoue Kanako membutikan diri berhasil meningkatkan mutu kebersamaan seni mereka. Keduanja tampil harmonis; tidak sadja dalam irama, tapi dalam gojangan dan lebih penting lagi dalam pendjiwaan. Semuanja laras dan … Lanjutkan membaca “Menjanji dengan segenap raga” oleh Joss Wibisono

“Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

Article paru dans Le Banian no. 15 juin 2013, pp. 41-52 On a souvent ignoré le rôle du colonialisme dans le rapprochement de styles musicaux. Pourtant, dans le cas du gamelan (musique traditionnelle de Java et Bali), il existe des convergences avec la musique occidentale qui méritent l’attention. Son influence sur la composition de musiciens eurasiens provient de rencontres inattendues qui ont eu lieu pendant la période coloniale. Des compositeurs célèbres comme le Français Claude Debussy (1862-1918) ont pu voir et écouter à Paris du gamelan et c’est ce type d’influence qu’on retrouve dans certaines parties de son répertoire. On … Lanjutkan membaca “Avoir le gamelan dans le sang” par Joss Wibisono

“Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

Ini kata pengantarku untuk buku Nada Tjerita karja Manunggal Kusuma Wardaya. Aku pasang di sini untuk sedikit mengiklanken buku menarik ini. Membatja esai2 Manunggal Kusuma Wardaya serasa seperti mendengar seseorang mendongeng dalam tutur bahasa jang sederhana, baik, djelas, runtut dan kadang2 djuga berisi sentilan jang mengedjutken. Hanja karena itu sadja, saja sudah terpikat untuk membatja dan terus membatjanja. Menulis dengan baik, dengan kalimat2 sederhana jang tidak rumit dan djelas, apalagi masih disertai dengan tata penulisan jang tepat, sedjatinja merupakan ketrampilan chusus jang hanja dimiliki oleh kalangan tertentu. Padahal dengan bertambah populernja djedjaring sosial seperti twitter atau facebook, mengutarakan pendapat dalam … Lanjutkan membaca “Schetsen met Woorden (Kata2 sebagai Sketsa): Menjimak Esai2 Manunggal K. Wardaya” oleh Joss Wibisono

“Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

Pada setiap peringatan Hari Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober, orang Indonesia selalu diingatkan betapa herois dan nasionalistis para pemoeda dulu tatkala mereka bersumpah untuk—selain bertanah air dan berbangsa satu— terutama djuga berbahasa nasional satu: bahasa Indonesia. Heroisme matjem ini, membuwat kita buta pada politik bahasa penguasa kolonial Belanda. Londo dulu sebenarnja memang tidak pernah berminat untuk membuat segenap warga Hindia fasih berbahasa mereka. Londo kolonial itu membiarkan sadja kita berbahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia sekarang. Politik bahasa kolonial inilah jang harus djuga kita pahami, sebelum terus2an membanggakan bahasa nasional kita. Klow berminat, silahken menjimak tulisan jang versi bahasa Prantjisnja … Lanjutkan membaca “Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 29 Djuli Bajangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnja bajangkan bahasa Indonesia itu tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Atjeh bisa memahami orang Papua? Djangankan Atjeh di Sumatra dan Papua di Indonesia timur sebagai dua pulau jang terpisah itu; tanpa bahasa nasional warga satu pulau sadja tampaknja sudah akan kesulitan untuk bisa saling bertutur kata. Di Sumatra sadja: bagaimana orang Atjeh di wilajah utara harus menjapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Kiranja djelas, bagi kita tiadanja bahasa Indonesia tak … Lanjutkan membaca “Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

“Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

Kalow engga demen sama edjaan Suwandi, silahken batja versi EYDnja dengen ngeklik ini Tahun 2013 ini, ketika Belanda memperingati 200 tahun monarki, berlangsung pelantikan radja baru di negeri kintjir angin. Dua abad sudah dinasti Oranje bertahta di negeri bekas pendjadjah, tapi ternjata selalu sadja menghadapi masalah. ADA SATU alasan menarik jang dikemukakan oleh ratu Beatrix senin malam 28 djanuari 2013 tentang mengapa dia memutuskan untuk berabdikasi, mundur dari tahta keradjaan Belanda. “Pada achir tahun ini kita akan memperingati 200 tahun silam negeri kita mendjadi sebuah keradjaan,” demikian sri baginda ratu jang sekarang sudah bergelar “putri”. Memang begitulah: tahun ini genap … Lanjutkan membaca “Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

“Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

Dit is een Nederlandse versie van een reeds in het Indonesisch gepubliceerd artikel. Dit artikel is gebruikt in het kader van tentoonstelling Gouden Tijden Zwarte Bladzijden in Deventer. De Spanjaarden deden het in de Filipijnen, Portugezen in Oost-Timor, de Fransen in Indochina, en de Britten in Birma: deze kolonisators legden hun taal op aan de inheemse bevolking. Maar Nederland deed dat niet in Indië. Daar bleef de bevolking de handelstaal Maleis gebruiken. In andere Nederlandse koloniën, zoals Suriname en de Antillen, moest wél Nederlands worden geleerd en gesproken. Hoe is dit verschil in taalpolitiek te verklaren? In Afrika, Zuid-Azië en Latijns-Amerika … Lanjutkan membaca “Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

“Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja daripada versi EYDnja (kerna sudah kemakan orde bau), dipersilahken mengeklik di sini Zaman sekarang sulit dibajangken ada sebuwah album rekaman jang berisi lagu2 dalem bahasa2 Sunda, Indonesia, Belanda, Djerman dan Prantjis. Dua bahasa Timur dan tiga bahasa Barat dalam satu album rekaman. Bagaimana itu mungkin? Itulah hasil rekaman Bernadeta Astari, soprano Indonesia jang tahun lalu meraih gelar master pada Konservatorium Utrecht, Belanda tengah.   2012 memang tahun istimewa bagi Deta, panggilan akrab soprano jang lahir dan dibesarkan di Djakarta ini. Selain lulus dengan pudjian, dia djuga berhasil menggondol edisi pertama piala Dutch Classical Talent Award. Lebih … Lanjutkan membaca “Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono