“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 29 Djuli Bajangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnja bajangkan bahasa Indonesia itu tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Atjeh bisa memahami orang Papua? Djangankan Atjeh di Sumatra dan Papua di Indonesia timur sebagai dua pulau jang terpisah itu; tanpa bahasa nasional warga satu pulau sadja tampaknja sudah akan kesulitan untuk bisa saling bertutur kata. Di Sumatra sadja: bagaimana orang Atjeh di wilajah utara harus menjapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Kiranja djelas, bagi kita tiadanja bahasa Indonesia tak … Lanjutkan membaca “Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

“Ketika Kekuasaan Djantungan” oleh Joss Wibisono

Bagi Anda, apa makna kekuasaan dan bagaimana Anda mengalaminja? Pertanjaan ini diadjukan oleh orang Filipina kenalan saja kepada bekas Presiden Ferdinand Marcos dan penggantinja, Cory Aquino. Selang beberapa lama kami ketemu lagi, segera saja tanjakan djawaban jang diterimanja. Dari Marcos, pajah, keluhnja. Tidak djelas apa maksud dan maunja bekas diktator ini. Mula2 dia bilang demokrasi jang, seperti semua orang tahu, artinja kekuasaan (dari) rakjat. Lalu dia bilang kesedjahteraan umum. Tapi tiba2 ditambahkannja bahwa ada saat2 tertentu di mana harus dilakukan hal2 jang tidak begitu disukai orang banjak. Ini tjuma pengamanan djangka pendek, katanja, dan untuk djangka pandjang tudjuannja adalah demi … Lanjutkan membaca “Ketika Kekuasaan Djantungan” oleh Joss Wibisono

“History in the age of Reformasi” by Joss Wibisono

Written for panel discussion “Pluralisation of Narratives on the history of Indonesian Independence”, Leiden June 19, 2010. Applauding the advent of Reformasi, prominent historian the late Onghokham noted that Indonesia started a rage of historical revisionism, unprecedented in its post-colonial age. Of course it all started with the events around 1965 and Soeharto’s actual role in it. Yet, despite a lot of revelations, his role is still shrouded with mysteries. And so the investigation of Soeharto went further than 1965. It also reached his role in Indonesia’s colonial war, namely his conduct during the March 1st 1949 attack on Yogyakarta … Lanjutkan membaca “History in the age of Reformasi” by Joss Wibisono

“Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

Kalow engga demen sama edjaan Suwandi, silahken batja versi EYDnja dengen ngeklik ini Tahun 2013 ini, ketika Belanda memperingati 200 tahun monarki, berlangsung pelantikan radja baru di negeri kintjir angin. Dua abad sudah dinasti Oranje bertahta di negeri bekas pendjadjah, tapi ternjata selalu sadja menghadapi masalah. ADA SATU alasan menarik jang dikemukakan oleh ratu Beatrix senin malam 28 djanuari 2013 tentang mengapa dia memutuskan untuk berabdikasi, mundur dari tahta keradjaan Belanda. “Pada achir tahun ini kita akan memperingati 200 tahun silam negeri kita mendjadi sebuah keradjaan,” demikian sri baginda ratu jang sekarang sudah bergelar “putri”. Memang begitulah: tahun ini genap … Lanjutkan membaca “Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

“Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

Dit is een Nederlandse versie van een reeds in het Indonesisch gepubliceerd artikel. Dit artikel is gebruikt in het kader van tentoonstelling Gouden Tijden Zwarte Bladzijden in Deventer. De Spanjaarden deden het in de Filipijnen, Portugezen in Oost-Timor, de Fransen in Indochina, en de Britten in Birma: deze kolonisators legden hun taal op aan de inheemse bevolking. Maar Nederland deed dat niet in Indië. Daar bleef de bevolking de handelstaal Maleis gebruiken. In andere Nederlandse koloniën, zoals Suriname en de Antillen, moest wél Nederlands worden geleerd en gesproken. Hoe is dit verschil in taalpolitiek te verklaren? In Afrika, Zuid-Azië en Latijns-Amerika … Lanjutkan membaca “Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

“Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja daripada versi EYDnja (kerna sudah kemakan orde bau), dipersilahken mengeklik di sini Zaman sekarang sulit dibajangken ada sebuwah album rekaman jang berisi lagu2 dalem bahasa2 Sunda, Indonesia, Belanda, Djerman dan Prantjis. Dua bahasa Timur dan tiga bahasa Barat dalam satu album rekaman. Bagaimana itu mungkin? Itulah hasil rekaman Bernadeta Astari, soprano Indonesia jang tahun lalu meraih gelar master pada Konservatorium Utrecht, Belanda tengah.   2012 memang tahun istimewa bagi Deta, panggilan akrab soprano jang lahir dan dibesarkan di Djakarta ini. Selain lulus dengan pudjian, dia djuga berhasil menggondol edisi pertama piala Dutch Classical Talent Award. Lebih … Lanjutkan membaca “Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

“Pers Kampus: Jang terhempas dan Jang Kandas” Oleh Joss Wibisono*

Ini tulisan djaman baheula bener, terbit di Basis Edisi Djuni 1986, halaman 227-234 (Tahun XXXV, nomer 6). Bisa djadi inilah tulisan “ngilmiah”ku pertama jang diumumken oleh sebuwah medium massa. “Ngilmiah” karena ini tulisan pandjang komplit dengen tjatatan kaki serta referensi segala matjem. Maklum tulisan2 sebelonnja jang nongol di pelbagai media massa kebanjakan tjuman artikel pendek jang tida paké referensi. I Sebagai orang jang sudah agak lama berketjimpung dalam pers kampus izinkan saja mengawali tulisan ini  dengan sebuah berita. Berita jang akan saja turunkan berikut hanjalah kutipan, bukan hasil perburuan sendiri. Saja mengutip Sinar Harapan, edisi 25 Februari 1986, halaman V, … Lanjutkan membaca “Pers Kampus: Jang terhempas dan Jang Kandas” Oleh Joss Wibisono*

“Habibie Berdjudi di Timor Timur” Oleh Joss Wibisono

Habibie dengen Timor Leste: sekarang orang selalu melihat bahwa keduanja berkaitan karena, sebagai presiden Indonesia ketiga, Habibie menggandjarkan referendum kepada wilajah jang di zaman orde baru selalu disebut sebagai propinsi ke 27 itu. Bahkan sampai2 seorang pedjabat Malaysia mendamprat Habibie soal ini. Tapi, ulah Habibie di propinsi termuda itu (sebutan lain ketika Timor Timur mingsih memperdjuangken kemerdekaannja) sebenernja sudah lebih awal lagi dari 1999. Ketika misih mendjabat menristek, Habibie ternjata sudah pernah main djudi di Timor Timur. Berikut sebuwah tulisan lama tentang perdjudian Habibie di Timor Timur itu. Ketika pada bulan Desember 1995 Presiden Soeharto menjataken bersedia bertemu seorang tokoh … Lanjutkan membaca “Habibie Berdjudi di Timor Timur” Oleh Joss Wibisono

“Operación Yakarta: bagaimana Cile beladjar pada Indonesia” oleh Joss Wibisono

Tjatetan pengantar: Sekitar minggu kedua Oktober 2010, SBY terus2an didesek supaja beladjar pada presiden Cile Sebastián Piñera jang begitu tjekatan bertindak menjelamatkan 33 orang buruh tambang ketika mereka terdjebak dalam reruntuhan tambang tembaga dan emas di Copiapó. Menangkis desekan ini, menurut Jafar Hapsah, ketua Fraksi Demokrat di DPR, djustru pemerintah Cilelah jang beladjar dari SBY, karena ketika terdjadi gempa di Djocja, SBY sudah menginap di wilajah bentjana sambil bermain gitar. Di balik silang pendapat ini, sedjatinja Cile memang sudah beladjar pada Indonesia. Tapi bukan soal tolong menolong korban bentjana. Jang dipeladjari Santiago dari Djakarta adalah tjara2 menimbulkan bentjana dan malapetaka, … Lanjutkan membaca “Operación Yakarta: bagaimana Cile beladjar pada Indonesia” oleh Joss Wibisono