“Djin2 jang kena kutukan Timor-Leste” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama, pernah terbit di situs Ranesi tahun 2007. Dipasang lagi di sini semata2 untuk menunjukken bahwa para djindral berikut begitu takut sama pengadilan, karena mereka djuga tida berani bertanggung djawab atas perbuwatan mereka di masa lampau. SBY termasuk salah satunja. Begitu denger RMS mengadjuken gugatan ke pengadilan, dia langsung batalin kundjungan kenegaraan ke negeri bekas pendjadjah. Sistem pengadilan Indonesia jang korup tidak bisa mendjangkau mereka. KKP jang dibentuk oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Timor Leste djuga tidak berani menjentuh mereka. Masjarakat internasional ogah mendirikan tribunal untuk mengadili mereka. Tetapi anehnja, para djindral Indonesia dengan pengalaman tertjoreng di Timor … Lanjutkan membaca “Djin2 jang kena kutukan Timor-Leste” oleh Joss Wibisono

“Bahasa dan Keindonesiaan Kita” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama, upaja pertama menulis masalah nasionalisme bahasa versus EYD dan politik Bahasa Indonesia jang baek en bener. Ketika kemudian terbit tulisan soal bahasa dan kekuwasaan, beberapa aliena diambil dari ini tulisan. Diunggah dalem rangka bulan bahasa, persisnja hari Soempah Pemoeda. Dua djudul berita berikut terpampang pada Rubrik Nasional Koran Tempo edisi 20 Februari 2007. “RUU Bahasa Tak Diperlukan” dan “Tiga Negara Disinjalir Langgar Wilajah Indonesia”. Berita pertama soal protes terhadap keinginan pemerintah untuk membatasi pengaruh asing melalui UU Bahasa. Berita kedua soal penerbangan gelap di atas alur laut kepulauan Indonesia serta wilajah zona ekonomi eksklusif. Tiga negara disebut … Lanjutkan membaca “Bahasa dan Keindonesiaan Kita” oleh Joss Wibisono

“Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama. Hasil reportase pertamaku ke luwar negeri. Dalam hal ini ke Leipzig di Djerman Timur, dua minggu setelah Tembok Berlin bobol, November 1989. Diumumkan oleh Madjalah Editor, No. 13/Thn. III/2 Desember 1989, halaman 89-90 Leipzig, kota industri, pusat perlawanan kaum pembangkang, tak pernah sepi dari demonstrasi. Leipzig, Djerman Timur, 21 November 1989. Pedagang kristal Walter Dreyers tampak ter-buru2 melajani pengundjung tokonja. Di seberang toko itu, lontjeng Geredja Thomas –tempat komponis Johann Sebastian Bach 200 tahun silam mementaskan karja2nja–  berdentang empat kali. Mengapa ter-buru2 tutup? Pak tua itu mendjawab singkat, “Demo!” Leipzig, tak pelak lagi, merupakan pusat perlawanan rakjat … Lanjutkan membaca “Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

“Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini terbit di harian Kompas tanggal 19 Agustus 2005. Sajang tautannja sudah mati. Peringatan ke-60 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2005 itu terasa istimewa. Untuk pertama kalinja seorang pedjabat Belanda, Menteri Luar Negeri Bernard Bot, hadir pada upatjara Detik2 Proklamasi. Kedatangan Menlu Bot mentjerminkan perubahan sikap Belanda jang achirnja berani djuga menerima kenjataan sedjarah. Mendjelang keberangkatannja ke Djakarta, Bot mengatakan, Belanda berada di sisi salah sedjarah dan karena itu akan menerima 17 Agustus setjara politik dan moral. Apa maknanja? Bagaimana Belanda bisa berubah sikap? 17-8-1945 versus 27-12-1949 Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka 27 Desember 1949. … Lanjutkan membaca “Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

“Tien Soeharto: geluksvrouw, ongeluksvrouw en mysterieuze krachtsvrouw” door Joss Wibisono

Tien Soeharto, de 72-jarige first lady van Indonesië, is op zondag 28 april 1996 aan een hartaanval overleden, althans volgens de officiële mededeling. Haar dood roept vraagtekens op over de beschikbaarheid van Soeharto voor een zevende ambtstermijn. Tien Soeharto was een omstreden zakenvrouw maar ook de steun en toeverlaat van de 74-jarige generaal-president. Er is reeds veel geschreven over de dood van Tien Soeharto. Vooral over de vraag of Soeharto zijn machtpositie zal kunnen behouden en voortzetten als volgend jaar zijn zesde termijn als president eindigt. Veel van deze analyses zijn pure speculaties omdat het gesloten politieke systeem van Indonesië … Lanjutkan membaca “Tien Soeharto: geluksvrouw, ongeluksvrouw en mysterieuze krachtsvrouw” door Joss Wibisono

“Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

An earlier version of this essay has appeard on CSEAS Newsletter Number 65, Spring 2012, pp 21-4 The role of colonialism has often been overlooked when examining the merging of musical genres. Yet in the case of gamelan (traditional music of Java and Bali) there are some interesting conjunctions with western classical music. Influences in the compositions of Eurasian composers were also born out of unexpected unions that developed through colonial encounters. Renowned composers such as the French composer Claude Debussy [1862-1918] watched and listened to Sari Oneng, an ensemble of Sundanese gamelan from West Java in Paris, and it … Lanjutkan membaca “Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

“Tank Leopard dan Diplomasi Kita” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit lain dan dalem EYD nongol di Koran Tempo edisi 26 Djuni 2012 Debat de Tweede Kamer, parlemen Belanda, hari Kamis 21 Djuni itu berachir aneh. Di luar kebiasaan, usai debat tidak diadakan pemungutan suara. Sore itu tidak ada keputusan jang diambil. Apa pasal? Maklum pemerintah, dalam hal ini Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal, mentjabut rentjananja minta izin parlemen untuk mendjual 80 unit Tank Leopard kepada Indonesia. Tampaknja memang itulah satu2nja pilihan sang Menlu. Maklum dia berhadapan dengan parlemen jang, dalam majoritas, menentang rentjana itu. Dengan mentjabut usulnja, berarti pemerintahan demisioner Perdana Menteri Mark Rutte jang djatuh April … Lanjutkan membaca “Tank Leopard dan Diplomasi Kita” oleh Joss Wibisono

“Festival, istana, kuil dan hotel tjinta di Kyoto” oleh Joss Wibisono

Versi lain tjatatan perdjalanan ini diumumkan oleh Majalah Historia No. 2 Tahun 1, 2012 pada rubrik Time Traveler jang nongolnja pada halaman2 14 sampé 19. Kalau Chairil Anwar hanja bisa menjatakan mau hidup 1000 tahun lagi, Kyoto sudah pernah selama itu mendjadi kota nomer satu Djepang. Bisalah dimaklumi belaka kalau pada tahun 1869, ketika Kaisar Meiji jang masih ABG (16 tahun) memindahkan ibukota ke Edo (sekarang Tokyo), ratusan ribu warga Kyoto meratap. Dengan sesenggukan bertjutjuran air mata mereka melambaikan tangan pada iring2an kaisar jang bergerak ke arah timur. Para warga berduka: kota tertjinta kehilangan status sebagai ibukota. Dan seolah klaju … Lanjutkan membaca “Festival, istana, kuil dan hotel tjinta di Kyoto” oleh Joss Wibisono

“Zakar makar” Oleh Joss Wibisono

Zakarku telah mekar, kekar siap memangsa tubuh-tubuh sintal Zakarku kini tegar, kekar siap menjebar teror dan makar Zakarku mengedjar, hadang menjasar tubuh kuning sintal gemetar Zakarku tetap kekar kian menegar membuat tubuh sintal tergelepar Zakarku puas, menggenggam bebas kerna tubuh sintal bisu terhempas dan deritanja tersimpan, takkan terungkap Zakarku kini tegar, kekar setelah teror, makar, luas tersebar Hilversum 30 Djuli 1998. Lanjutkan membaca “Zakar makar” Oleh Joss Wibisono

“Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono

Harep ini link diklik doeloe dan videonja dilihat en didenger. Kalow tida soeka sama jang namanja opera, tjoekoeplah bebrapa minit sadja lihatnja. Sak soedanja itoe baroe batja ini toelisan lebih landjoet. Freudian Itu tadi aria Allein! Weh, ganz allein! dari opera Elektra tertjipta oleh Richard Strauß [1864-1949] jang libretto (sjairnja) terkarang oleh Hugo von Hofmannsthal atas satoe dramanja Sophokles, poedjangga Joenani poerbakala. Dalem ini aria Elektra menjataken dia ada rindoe loewar biasah sama dia poenja bapak. Ma’loem Elektra ada poenja rasa birahi sama bapaknja dia. Inilah kebalikan Oedipus, soalnja Oedipus ada rasa sjoer sama dia poenja iboe. Maka kalow ada … Lanjutkan membaca “Kenapa jach kok engkong harto sampé batalin »Elektra«?” terkarang oleh Joss Wibisono