“Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

Artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” dalam suplemen chusus 40 tahun Tempo,  mendjelaskan bagaimana madjalah mingguan ini bersusah pajah merawat bahasa Indonesia. Isinja bukan tjuma proses menemukan kata2 baru, tapi djuga bagaimana menghindari kata2 jang dianggap salah dan mengapa kata2 itu salah. Walau begitu ada satu hal penting jang luput. Mungkin karena medium tjetak, Tempo tidak terlalu berurusan dengannja. Itulah masalah lafal. Sebelum itu perlu ditegaskan artikel “Bahasa Tempo, Bahasa Kita” djuga berkisar tentang perlawanan. Perlawanan karena, misalnja, Tempo menolak menggunakan bahasa birokrat atau penguasa. Tidak diuraikan lebih landjut bahasa seperti apa itu. Tapi kita mafhum: di mana2 bahasa birokrat selalu … Lanjutkan membaca “Berbahasa Mandiri dan Kreatif” oleh Joss Wibisono

“Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini (dan dalem EYD) bisa dibatja di LKIP. Perubahan zaman pasti akan tertjermin pada bahasanja. Begitu zaman berganti, kosakata jang digunakan masjarakat djuga ikut berubah. Tidak pernah terdjadi pada zaman baru orang tetap menggunakan istilah atau kata2 warisan zaman lama. Walaupun misalnja zaman lama begitu ngebet ingin menghibahkan bahasanja kepada zaman baru, sangat patut diragukan zaman baru sudi menerima warisan itu. Tidaklah berlebihan kalau ditegaskan bahwa zaman lama akan selalu gagal mewariskan bahasanja kepada zaman baru. Dan karena dalam 15 tahun terachir Indonesia terutama mengalami perubahan politik, maka jang mentjolok adalah perubahan bahasa politik. Tergusur sudah istilah2 … Lanjutkan membaca “Pemilukada, Ditjokok dan Pembina: Memaknai Bahasa Masa Kini” Oleh Joss Wibisono

“Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

Pada setiap peringatan Hari Soempah Pemoeda tanggal 28 Oktober, orang Indonesia selalu diingatkan betapa herois dan nasionalistis para pemoeda dulu tatkala mereka bersumpah untuk—selain bertanah air dan berbangsa satu— terutama djuga berbahasa nasional satu: bahasa Indonesia. Heroisme matjem ini, membuwat kita buta pada politik bahasa penguasa kolonial Belanda. Londo dulu sebenarnja memang tidak pernah berminat untuk membuat segenap warga Hindia fasih berbahasa mereka. Londo kolonial itu membiarkan sadja kita berbahasa Melajoe, tjikal bakal bahasa Indonesia sekarang. Politik bahasa kolonial inilah jang harus djuga kita pahami, sebelum terus2an membanggakan bahasa nasional kita. Klow berminat, silahken menjimak tulisan jang versi bahasa Prantjisnja … Lanjutkan membaca “Politik bahasa kolonial dan lahirnja bahasa nasional Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 2 September 2013 Sungguh tak terduga kolom saja “Bahasa Nasional” (Tempo, 29 Djuli-4 Agustus 2013) mendapat tanggapan kalangan akademis! Dosen UI, Kasijanto Sastrodinomo dalam kolom berdjudul “Satu Bangsa Satu Bahasa” (Tempo 19-25 Agustus 2013) membenarkan pendapat saja. Pendapatnja jang simpatik terbatja sebagai adjakan untuk berbalas pantun. Berikut sekedar “pantun balasan” itu. Dalam “Bahasa Nasional” sudah saja djelaskan pendirian penguasa kolonial Belanda dulu bahwa bahasanja hanja untuk kalangan elit dan tidak untuk kaum inlanders, bumiputra tanah djadjahan. Djuga bagaimana pendirian ini merupakan kelainan kalau dibanding pendjadjah Eropa lain. Berikut saja berniat untuk … Lanjutkan membaca “Melajoe Belanda” oleh Joss Wibisono

“Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

Versi lain (dan dalem EYD) nongolnja di Tempo edisi 29 Djuli Bajangkan Indonesia tanpa bahasa nasional, atau tepatnja bajangkan bahasa Indonesia itu tidak ada. Bagaimana kita akan berkomunikasi dari Sabang sampai Merauke? Bagaimana pula orang Atjeh bisa memahami orang Papua? Djangankan Atjeh di Sumatra dan Papua di Indonesia timur sebagai dua pulau jang terpisah itu; tanpa bahasa nasional warga satu pulau sadja tampaknja sudah akan kesulitan untuk bisa saling bertutur kata. Di Sumatra sadja: bagaimana orang Atjeh di wilajah utara harus menjapa orang Lampung di selatan? Dengan bahasa apa mereka bertegur sapa? Kiranja djelas, bagi kita tiadanja bahasa Indonesia tak … Lanjutkan membaca “Bahasa Nasional” oleh Joss Wibisono

“Ketika Kekuasaan Djantungan” oleh Joss Wibisono

Bagi Anda, apa makna kekuasaan dan bagaimana Anda mengalaminja? Pertanjaan ini diadjukan oleh orang Filipina kenalan saja kepada bekas Presiden Ferdinand Marcos dan penggantinja, Cory Aquino. Selang beberapa lama kami ketemu lagi, segera saja tanjakan djawaban jang diterimanja. Dari Marcos, pajah, keluhnja. Tidak djelas apa maksud dan maunja bekas diktator ini. Mula2 dia bilang demokrasi jang, seperti semua orang tahu, artinja kekuasaan (dari) rakjat. Lalu dia bilang kesedjahteraan umum. Tapi tiba2 ditambahkannja bahwa ada saat2 tertentu di mana harus dilakukan hal2 jang tidak begitu disukai orang banjak. Ini tjuma pengamanan djangka pendek, katanja, dan untuk djangka pandjang tudjuannja adalah demi … Lanjutkan membaca “Ketika Kekuasaan Djantungan” oleh Joss Wibisono

“History in the age of Reformasi” by Joss Wibisono

Written for panel discussion “Pluralisation of Narratives on the history of Indonesian Independence”, Leiden June 19, 2010. Applauding the advent of Reformasi, prominent historian the late Onghokham noted that Indonesia started a rage of historical revisionism, unprecedented in its post-colonial age. Of course it all started with the events around 1965 and Soeharto’s actual role in it. Yet, despite a lot of revelations, his role is still shrouded with mysteries. And so the investigation of Soeharto went further than 1965. It also reached his role in Indonesia’s colonial war, namely his conduct during the March 1st 1949 attack on Yogyakarta … Lanjutkan membaca “History in the age of Reformasi” by Joss Wibisono

“Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

Kalow engga demen sama edjaan Suwandi, silahken batja versi EYDnja dengen ngeklik ini Tahun 2013 ini, ketika Belanda memperingati 200 tahun monarki, berlangsung pelantikan radja baru di negeri kintjir angin. Dua abad sudah dinasti Oranje bertahta di negeri bekas pendjadjah, tapi ternjata selalu sadja menghadapi masalah. ADA SATU alasan menarik jang dikemukakan oleh ratu Beatrix senin malam 28 djanuari 2013 tentang mengapa dia memutuskan untuk berabdikasi, mundur dari tahta keradjaan Belanda. “Pada achir tahun ini kita akan memperingati 200 tahun silam negeri kita mendjadi sebuah keradjaan,” demikian sri baginda ratu jang sekarang sudah bergelar “putri”. Memang begitulah: tahun ini genap … Lanjutkan membaca “Wangsa Oranje dan Monarki di Belanda” Oleh Joss Wibisono

“Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono

Dit is een Nederlandse versie van een reeds in het Indonesisch gepubliceerd artikel. Dit artikel is gebruikt in het kader van tentoonstelling Gouden Tijden Zwarte Bladzijden in Deventer. De Spanjaarden deden het in de Filipijnen, Portugezen in Oost-Timor, de Fransen in Indochina, en de Britten in Birma: deze kolonisators legden hun taal op aan de inheemse bevolking. Maar Nederland deed dat niet in Indië. Daar bleef de bevolking de handelstaal Maleis gebruiken. In andere Nederlandse koloniën, zoals Suriname en de Antillen, moest wél Nederlands worden geleerd en gesproken. Hoe is dit verschil in taalpolitiek te verklaren? In Afrika, Zuid-Azië en Latijns-Amerika … Lanjutkan membaca “Taalpolitiek en VOC-mentaliteit” door Joss Wibisono