“Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja daripada versi EYDnja (kerna sudah kemakan orde bau), dipersilahken mengeklik di sini Zaman sekarang sulit dibajangken ada sebuwah album rekaman jang berisi lagu2 dalem bahasa2 Sunda, Indonesia, Belanda, Djerman dan Prantjis. Dua bahasa Timur dan tiga bahasa Barat dalam satu album rekaman. Bagaimana itu mungkin? Itulah hasil rekaman Bernadeta Astari, soprano Indonesia jang tahun lalu meraih gelar master pada Konservatorium Utrecht, Belanda tengah.   2012 memang tahun istimewa bagi Deta, panggilan akrab soprano jang lahir dan dibesarkan di Djakarta ini. Selain lulus dengan pudjian, dia djuga berhasil menggondol edisi pertama piala Dutch Classical Talent Award. Lebih … Lanjutkan membaca “Lengkingan Indonesia di Belanda” oleh Joss Wibisono

“Pers Kampus: Jang terhempas dan Jang Kandas” Oleh Joss Wibisono*

Ini tulisan djaman baheula bener, terbit di Basis Edisi Djuni 1986, halaman 227-234 (Tahun XXXV, nomer 6). Bisa djadi inilah tulisan “ngilmiah”ku pertama jang diumumken oleh sebuwah medium massa. “Ngilmiah” karena ini tulisan pandjang komplit dengen tjatatan kaki serta referensi segala matjem. Maklum tulisan2 sebelonnja jang nongol di pelbagai media massa kebanjakan tjuman artikel pendek jang tida paké referensi. I Sebagai orang jang sudah agak lama berketjimpung dalam pers kampus izinkan saja mengawali tulisan ini  dengan sebuah berita. Berita jang akan saja turunkan berikut hanjalah kutipan, bukan hasil perburuan sendiri. Saja mengutip Sinar Harapan, edisi 25 Februari 1986, halaman V, … Lanjutkan membaca “Pers Kampus: Jang terhempas dan Jang Kandas” Oleh Joss Wibisono*

“Habibie Berdjudi di Timor Timur” Oleh Joss Wibisono

Habibie dengen Timor Leste: sekarang orang selalu melihat bahwa keduanja berkaitan karena, sebagai presiden Indonesia ketiga, Habibie menggandjarkan referendum kepada wilajah jang di zaman orde baru selalu disebut sebagai propinsi ke 27 itu. Bahkan sampai2 seorang pedjabat Malaysia mendamprat Habibie soal ini. Tapi, ulah Habibie di propinsi termuda itu (sebutan lain ketika Timor Timur mingsih memperdjuangken kemerdekaannja) sebenernja sudah lebih awal lagi dari 1999. Ketika misih mendjabat menristek, Habibie ternjata sudah pernah main djudi di Timor Timur. Berikut sebuwah tulisan lama tentang perdjudian Habibie di Timor Timur itu. Ketika pada bulan Desember 1995 Presiden Soeharto menjataken bersedia bertemu seorang tokoh … Lanjutkan membaca “Habibie Berdjudi di Timor Timur” Oleh Joss Wibisono

“Operación Yakarta: bagaimana Cile beladjar pada Indonesia” oleh Joss Wibisono

Tjatetan pengantar: Sekitar minggu kedua Oktober 2010, SBY terus2an didesek supaja beladjar pada presiden Cile Sebastián Piñera jang begitu tjekatan bertindak menjelamatkan 33 orang buruh tambang ketika mereka terdjebak dalam reruntuhan tambang tembaga dan emas di Copiapó. Menangkis desekan ini, menurut Jafar Hapsah, ketua Fraksi Demokrat di DPR, djustru pemerintah Cilelah jang beladjar dari SBY, karena ketika terdjadi gempa di Djocja, SBY sudah menginap di wilajah bentjana sambil bermain gitar. Di balik silang pendapat ini, sedjatinja Cile memang sudah beladjar pada Indonesia. Tapi bukan soal tolong menolong korban bentjana. Jang dipeladjari Santiago dari Djakarta adalah tjara2 menimbulkan bentjana dan malapetaka, … Lanjutkan membaca “Operación Yakarta: bagaimana Cile beladjar pada Indonesia” oleh Joss Wibisono

“Djin2 jang kena kutukan Timor-Leste” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama, pernah terbit di situs Ranesi tahun 2007. Dipasang lagi di sini semata2 untuk menunjukken bahwa para djindral berikut begitu takut sama pengadilan, karena mereka djuga tida berani bertanggung djawab atas perbuwatan mereka di masa lampau. SBY termasuk salah satunja. Begitu denger RMS mengadjuken gugatan ke pengadilan, dia langsung batalin kundjungan kenegaraan ke negeri bekas pendjadjah. Sistem pengadilan Indonesia jang korup tidak bisa mendjangkau mereka. KKP jang dibentuk oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Timor Leste djuga tidak berani menjentuh mereka. Masjarakat internasional ogah mendirikan tribunal untuk mengadili mereka. Tetapi anehnja, para djindral Indonesia dengan pengalaman tertjoreng di Timor … Lanjutkan membaca “Djin2 jang kena kutukan Timor-Leste” oleh Joss Wibisono

“Bahasa dan Keindonesiaan Kita” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama, upaja pertama menulis masalah nasionalisme bahasa versus EYD dan politik Bahasa Indonesia jang baek en bener. Ketika kemudian terbit tulisan soal bahasa dan kekuwasaan, beberapa aliena diambil dari ini tulisan. Diunggah dalem rangka bulan bahasa, persisnja hari Soempah Pemoeda. Dua djudul berita berikut terpampang pada Rubrik Nasional Koran Tempo edisi 20 Februari 2007. “RUU Bahasa Tak Diperlukan” dan “Tiga Negara Disinjalir Langgar Wilajah Indonesia”. Berita pertama soal protes terhadap keinginan pemerintah untuk membatasi pengaruh asing melalui UU Bahasa. Berita kedua soal penerbangan gelap di atas alur laut kepulauan Indonesia serta wilajah zona ekonomi eksklusif. Tiga negara disebut … Lanjutkan membaca “Bahasa dan Keindonesiaan Kita” oleh Joss Wibisono

“Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

Ini tulisan lama. Hasil reportase pertamaku ke luwar negeri. Dalam hal ini ke Leipzig di Djerman Timur, dua minggu setelah Tembok Berlin bobol, November 1989. Diumumkan oleh Madjalah Editor, No. 13/Thn. III/2 Desember 1989, halaman 89-90 Leipzig, kota industri, pusat perlawanan kaum pembangkang, tak pernah sepi dari demonstrasi. Leipzig, Djerman Timur, 21 November 1989. Pedagang kristal Walter Dreyers tampak ter-buru2 melajani pengundjung tokonja. Di seberang toko itu, lontjeng Geredja Thomas –tempat komponis Johann Sebastian Bach 200 tahun silam mementaskan karja2nja–  berdentang empat kali. Mengapa ter-buru2 tutup? Pak tua itu mendjawab singkat, “Demo!” Leipzig, tak pelak lagi, merupakan pusat perlawanan rakjat … Lanjutkan membaca “Ich bin parteilos” oleh Joss Wibisono

“Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini terbit di harian Kompas tanggal 19 Agustus 2005. Sajang tautannja sudah mati. Peringatan ke-60 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2005 itu terasa istimewa. Untuk pertama kalinja seorang pedjabat Belanda, Menteri Luar Negeri Bernard Bot, hadir pada upatjara Detik2 Proklamasi. Kedatangan Menlu Bot mentjerminkan perubahan sikap Belanda jang achirnja berani djuga menerima kenjataan sedjarah. Mendjelang keberangkatannja ke Djakarta, Bot mengatakan, Belanda berada di sisi salah sedjarah dan karena itu akan menerima 17 Agustus setjara politik dan moral. Apa maknanja? Bagaimana Belanda bisa berubah sikap? 17-8-1945 versus 27-12-1949 Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka 27 Desember 1949. … Lanjutkan membaca “Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

“Tien Soeharto: geluksvrouw, ongeluksvrouw en mysterieuze krachtsvrouw” door Joss Wibisono

Tien Soeharto, de 72-jarige first lady van Indonesië, is op zondag 28 april 1996 aan een hartaanval overleden, althans volgens de officiële mededeling. Haar dood roept vraagtekens op over de beschikbaarheid van Soeharto voor een zevende ambtstermijn. Tien Soeharto was een omstreden zakenvrouw maar ook de steun en toeverlaat van de 74-jarige generaal-president. Er is reeds veel geschreven over de dood van Tien Soeharto. Vooral over de vraag of Soeharto zijn machtpositie zal kunnen behouden en voortzetten als volgend jaar zijn zesde termijn als president eindigt. Veel van deze analyses zijn pure speculaties omdat het gesloten politieke systeem van Indonesië … Lanjutkan membaca “Tien Soeharto: geluksvrouw, ongeluksvrouw en mysterieuze krachtsvrouw” door Joss Wibisono

“Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

An earlier version of this essay has appeard on CSEAS Newsletter Number 65, Spring 2012, pp 21-4 The role of colonialism has often been overlooked when examining the merging of musical genres. Yet in the case of gamelan (traditional music of Java and Bali) there are some interesting conjunctions with western classical music. Influences in the compositions of Eurasian composers were also born out of unexpected unions that developed through colonial encounters. Renowned composers such as the French composer Claude Debussy [1862-1918] watched and listened to Sari Oneng, an ensemble of Sundanese gamelan from West Java in Paris, and it … Lanjutkan membaca “Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono