“Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini terbit di harian Kompas tanggal 19 Agustus 2005. Sajang tautannja sudah mati. Peringatan ke-60 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 2005 itu terasa istimewa. Untuk pertama kalinja seorang pedjabat Belanda, Menteri Luar Negeri Bernard Bot, hadir pada upatjara Detik2 Proklamasi. Kedatangan Menlu Bot mentjerminkan perubahan sikap Belanda jang achirnja berani djuga menerima kenjataan sedjarah. Mendjelang keberangkatannja ke Djakarta, Bot mengatakan, Belanda berada di sisi salah sedjarah dan karena itu akan menerima 17 Agustus setjara politik dan moral. Apa maknanja? Bagaimana Belanda bisa berubah sikap? 17-8-1945 versus 27-12-1949 Bagi Belanda, Indonesia baru merdeka 27 Desember 1949. … Lanjutkan membaca “Terbangun setelah 60 tahun” oleh Joss Wibisono

“Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

An earlier version of this essay has appeard on CSEAS Newsletter Number 65, Spring 2012, pp 21-4 The role of colonialism has often been overlooked when examining the merging of musical genres. Yet in the case of gamelan (traditional music of Java and Bali) there are some interesting conjunctions with western classical music. Influences in the compositions of Eurasian composers were also born out of unexpected unions that developed through colonial encounters. Renowned composers such as the French composer Claude Debussy [1862-1918] watched and listened to Sari Oneng, an ensemble of Sundanese gamelan from West Java in Paris, and it … Lanjutkan membaca “Gamelan in the Blood” by Joss Wibisono

“Tank Leopard dan Diplomasi Kita” oleh Joss Wibisono

Versi jang sedikit lain dan dalem EYD nongol di Koran Tempo edisi 26 Djuni 2012 Debat de Tweede Kamer, parlemen Belanda, hari Kamis 21 Djuni itu berachir aneh. Di luar kebiasaan, usai debat tidak diadakan pemungutan suara. Sore itu tidak ada keputusan jang diambil. Apa pasal? Maklum pemerintah, dalam hal ini Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal, mentjabut rentjananja minta izin parlemen untuk mendjual 80 unit Tank Leopard kepada Indonesia. Tampaknja memang itulah satu2nja pilihan sang Menlu. Maklum dia berhadapan dengan parlemen jang, dalam majoritas, menentang rentjana itu. Dengan mentjabut usulnja, berarti pemerintahan demisioner Perdana Menteri Mark Rutte jang djatuh April … Lanjutkan membaca “Tank Leopard dan Diplomasi Kita” oleh Joss Wibisono

“Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi” oleh Joss Wibisono

Kalow misih kesulitan batja tulisan tidak dalem EYD, silahken lihat versi EYDnja azha dan klik di sini. Apa sjaratnja supaja seseorang bisa diangkat sebagai bapak bangsa, dan mungkinkah kaum perempuan djuga memperoleh sebutan terhormat ini? Kita punja sederetan nama jang kita sebut bapak bangsa. Mereka memang bapak2 jang berdjasa bukan hanja dalam memperdjuangkan kemerdekaan Indonesia, tetapi sebelum itu djuga menggagasnja, berpikir untuk mendirikan bangsa jang merdeka dari belenggu pendjadjahan. Tentu sadja pantas ditanja mengapa hanja ada istilah “bapak bangsa”? Di manapun djuga tidak kurang kaum perempuan jang berperan bagi bangsanja. Mengapa tidak ada istilah ibu bangsa? Dan itu bukan tjuma … Lanjutkan membaca “Bapak Bangsa dan Ibu Pertiwi” oleh Joss Wibisono

“Saling serap Indonesia Belanda” oleh Joss Wibisono

Catatan awal: pelbagai tulisan yang menguraikan serapan kata-kata Belanda ke dalam bahasa Indonesia selalu bersikap sepihak: tidak menguraikan bahwa bahasa Indonesia (mereka sebut het Maleis, bahasa Melajoe) sebenarnya juga diserap oleh bahasa Belanda. Inilah yang dicoba diuraikan dalam esei berikut. Serapan itu biasanya memang selalu dua pihak. Versi sedikit lain tulisan ini pernah terbit di Tempo. Partai politik pertama di Nusantara adalah Indische Partij jang pada tahun 1911, di Bandung, didirikan oleh Ernest Douwes-Dekker (Setiabudi Danudirdja), Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Suryaningrat. Kata bahasa Belanda partij selandjutnja kita serap ke dalam bahasa Indonesia mendjadi partai. Karena itu sekarang ada Partai Keadilan … Lanjutkan membaca “Saling serap Indonesia Belanda” oleh Joss Wibisono

“Politik Bahasa dan Mentalitas VOC” oleh Joss Wibisono

Versi lain esei ini pernah terbit di Mingguan Tempo Edisi 23 Djanuari 2012. Djuga diambiil alih oleh blog rubrik bahasa milik Ivan Lanin Serasa ada sesuatu jang terlewat pada setiap bulan bahasa, sebagai bagian ritual mengenang heroiknja Soempah Pemoeda. Itulah mengadjukan dan berupaja mentjari djawaban terhadap sebuah pertanjaan jang tidak kalah pentingnja: mengapa pendjadjah Belanda dulu tidak mewadjibkan kita berbahasa mereka? Bukankah di Filipina Spanjol memberlakukan bahasa mereka, seperti djuga Portugal di Timor Lorosa’e dan Prantjis di Indochine, sekarang Vietnam, Kambodja dan Laos? Kekuatan kolonial Eropa jaitu Inggris, Prantjis, Spanjol dan Portugal memang selalu membuat wilajah djadjahan mereka djuga berbahasa … Lanjutkan membaca “Politik Bahasa dan Mentalitas VOC” oleh Joss Wibisono

“Bersih2 di Rosse Buurt Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Versi lain ini tulisan nongol di U-Mag edisi Februari 2011, halaman 84-93. Djudulnja “Suatu sore di Rosse Buurt”. Dimuwat di sini, soalnja ada kabar sedih: U-Mag berachir. TJERITA TENTANG pelaut jang langsung tjari pelampisan begitu kapal mereka membuang sauh mungkin berasal dari Amsterdam. Dari bilangan Rosse Buurt, di djalan jang bernama Zeedijk, persisnja. Maklum, bagian tertua Amsterdam inilah salah satu tempat mendjadjakan sex jang paling tua dan, bisa djadi, paling terkenal di belahan bumi bagian Barat. Dulu sekali, sekitar abad ke 15, Zeedijk memang masih merupakan pinggiran laut. Di situlah para kelasi mendjedjakkan kaki tatkala kapal mereka merapat. Makna harafiah … Lanjutkan membaca “Bersih2 di Rosse Buurt Amsterdam” oleh Joss Wibisono

“Natalan Bersama Quirijn” Oleh Joss Wibisono

Semula, semua itu tjuma berita di media massa: para rohaniwan Katolik terlibat peletjehan sexuil terhadap anak2. Geredja Katolik kesulitan, ada beberapa jang harus membajar santunan ganti rugi pada korban jang sekarang sudah berumur 60an tahun. Bahkan di beberapa negara bagian Amerika konon sudah ada geredja jang bangkrut. Di tengah kritik jang ber-tubi2, Tahta Sutji Vatikan tetap sadja diam seribu bahasa. Beredar banjak desas-desus, dan karena tidak dibantah, makin gentjar sadja desas-desus itu. Ada jang bilang Paus Benediktus XVI melindungi seorang pastur jang melakukan peletjehan. Begitu kira2 berita jang sempat kubatja. Tapi hari itu, dengan email jang menindaklandjuti telpon seorang sohib … Lanjutkan membaca “Natalan Bersama Quirijn” Oleh Joss Wibisono

“Rawagede: Menguak Tjara Den Haag Berhitung” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini tulisan terbit di Koran Tempo, edisi 13 Desember 2011. Silahken ngeklik itu kalow tidak suka batja tulisan dalem edjaan Suwandi. Setelah permintaan maaf dan santunan ganti rugi kasus Rawagede, tibalah saatnja kita bertanja, mengapa Belanda baru melakukannja sekarang, 64 tahun setelah kedjadian? Mengapa tidak dulu2? Di sini utjapan Liesbesth Zegveld, pengatjara sembilan orang jang menggugat negara Belanda, bermakna penting karena menjiratkan djawabannja. Kepada pers Belanda, Zegveld dengan djitu menguraikan hitung2an politis dan ekonomis Den Haag. Per-tama2 dia menganggap pemerintah Belanda sebenarnja senang dengan keputusan pengadilan jang memenangkan para penggugat. Djumlah mereka sembilan, tetapi dua meninggal sebelum vonis … Lanjutkan membaca “Rawagede: Menguak Tjara Den Haag Berhitung” Oleh Joss Wibisono

“Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono

Catatan awal: versi EYD tulisan ini sudah diumumkan pada situs Radio Nederland. Jadi kalau lebih terbiasa dengan ejaan orde baru itu, ya silahkan mengklik situs tersebut. Terus kalau ogah baca, juga silahkan mengklik situs Radio Nederland untuk mendengarkan versi audio resensi ini. Opera Java digelar di Amsterdam awal September 2010 untuk memperingati 100 tahun Tropenmuseum. Maka penonton disuguhi pertundjukan teater Djawa jang terus memperbaharui diri dan tanpa segan2 menampilkan hal2 jang bisa dinilai saru. Sepintas, terbesit kesan puritanisme telah kokoh mentjokoli masjarakat kita. Tengok sadja ketjaman massal terhadap video pornonja artis2 terkenal atau berlakunja UU Pornografi. Belum lagi ormas2 jang … Lanjutkan membaca “Opera Java: Verismo dan Pemberontakan Sinta” Oleh Joss Wibisono