“Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

In tegenstelling tot de literatuur spreekt men in de muziek, zeker de klassieke muziek, niet van plagiaat. Maar dat wil niet zeggen dat er niet over en weer wordt gepikt. Bijvoorbeeld de dans van de Rijndochters uit Das Rheingold van Wagner is gewoon een copy-paste van het eerste deel, het vivace, van Beethovens zevende symfonie. Om toch credit te geven aan de componist van het oorspronkelijke werk spreekt men van variaties op een thema. Beethoven zelf schreef 33 variaties op een wals van Diabelli en Rachmaninoff componeerde een Rhapsody op een thema van Paganini. Maar ja, als je blijft pikken, … Lanjutkan membaca “Variaties op een Javaans thema” door Joss Wibisono*)

“Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu yang dalam EYD bisa dilihat di sini. Kebebasan, terutama kebebasan berpendapat jang didjundjung tinggi di Belanda, sekarang dalam antjaman. Masalahnja sedjarawan dan kolumnis Thomas von der Dunk dibungkam. Dia dilarang bertjeramah soal persamaan antara Nazi di Djerman zaman dulu dengan PVV, partai kebebasan pimpinan Geert Wilders di Belanda zaman sekarang. Tentu sadja, PVV jang anti Islam itu termasuk salah satu pihak jang melarangnja. Untuk kita di Indonesia pidato Thomas von der Dunk ini relevan, terutama karena dia djuga menulis tentang upaja kemerdekaan kita jang dihalang-halangi oleh Belanda. Dihukum mati Arondéuslezing adalah tjeramah tahunan jang diselenggarakan oleh Provinsi Noord … Lanjutkan membaca “Menohok Wilders dengan Perdjuangan Indonesia” Oleh Joss Wibisono

“Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

Salah satu daja tarik Amsterdam jang menjebabkan saja pada achir 1987 berkeputusan mendjadi penduduknja adalah amburadulnja situasi ibukota Belanda ini. Berlainan dengan Hilversum misalnja, kota tempat Radio Nederland bermarkas (waktu itu saja kerdja untuk seksi Indonesia), di Amsterdam lampu merah tidak berarti orang benar2 dilarang menjeberang djalan. Kalau memang sudah tidak ada hambatan, katakan sadja sudah tidak ada lagi mobil jang lalu lalang, maka walau pun lampu masih merah, warga Amsterdam pasti akan njelonong menjeberang djalan. Selain itu, di Amsterdam djuga terdapat banjak sekali tjoretan dinding jang disebut grafitti. Banjak matjam tjoretan dinding di Amsterdam, tetapi jang saja sukai adalah … Lanjutkan membaca “Tiga Peladjaran dari Amsterdam” oleh Joss Wibisono

“Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

Versi terdahulu ini esei jang ditulis dalem EYD diumumken sama Majalah Historia Online. Kalow gak dojan batja tulisan dalem Edjaan Suwandi, ja silahken klik MHO. Tjuman di situ gak lengkap dan tjonto2 karja musiknja djuga gak banjak. Perupa Belanda Jasper de Beijer, 37 tahun, bikin kedjutan. Dia membuat lukisan Geert Wilders muda dalam tampang aslinja. Tampang asli? Ija, kerna ketika misih muda, usia awal 20an, Wilders belum berambut pirang seperti sekarang. Politikus anti Islam pemblonda rambut itu misih berambut warna kelam, sesuai latar belakang indischnja. Wilders, seperti kita tahu, memang punja nenek mojang jang berasal dari Hindia Belanda, tjikal bakal … Lanjutkan membaca “Wilders Kedjepit Hitler dan Wagner” oleh Joss Wibisono

“Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

Dèngen ini tulisan aku solider sama Eko Endarmoko jang didzolimi Pusat Bahasa karena karjanja Tesaurus Bahasa Indonesia didjiplak oleh lembaga taik kutjing itu. Versi jang agak berbeda diterbitkan oleh Tempo dalam rubrik bahasa, kemudian djuga diumumkan oleh blog rubrik bahasa milik Ivan Lanin. Seperti biasa, untuk blog, ini tulisan ditampilken dalam edjaan jang belon disempurnaken sama orde baunja engkong harto. Kalow ada jang lebih suka atow lebih terbiasa sama edjaannja si engkong, dipersilahken batja versi jang diumumkan Tempo. Pusat Bahasa, satu2nja otoritas bahasa kita, terdjerembab dalam kontroverse karena dituduh mendjiplak Tesaurus Bahasa Indonesia karja Eko Endarmoko. Tulisan ini mengadjak pembatja … Lanjutkan membaca “Otoritas Bahasa: Perlukah?” oleh Joss Wibisono

“Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

Catatan pengantar: Versi sedikit lain tulisan ini diumumkan oleh MBM Tempo yang kemudian juga disalin oleh Ivan Lanin dalam blognya Rubrik Bahasa. Kolom ini ditulis antara lain untuk menjawab kalangan yang menghimbau supaya saya menulis soal sex, film, dst. Dalam blog ini digunakan ejaan yang belum disempurnakan oleh orde barunya engkong harto. Selamat membaca dan silahkan berkomentar. Kalow bisa lebih dari unjuk jempol jach. Trims banget, sebelumnya. Ada baiknja tulisan ini diawali dengan dua larik sjair lagu Djoewita Malam, karja Ismail Marzuki [1914-1958]. “Djoewita malam siapakah gerangan toean Djoewita malam dari boelankah toean”. Kemudian dua larik lagi, masih karja komponis … Lanjutkan membaca “Djenis kelamin tuan” Oleh Joss Wibisono

“Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat: paralel dua saudara sepupu” Oleh Joss Wibisono

Historiografi Indonesia jang timpang kembali djelas terlihat pada kasus dua saudara sepupu Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat. Soewardi jang kemudian ganti nama mendjadi Ki Hadjar Dewantara dikenal luas sebagai pahlawan dan bapak pendidikan nasional Indonesia. Saudara sepupunja, Noto Soeroto, tjuma segelintir jang tahu. Padahal keduanja muntjul serempak dalam sedjarah Belanda. Betapa sedjarah bekas penguasa kolonial itu lebih lengkap dan anehnja orang Indonesia djuga tidak merasa risi. Pernah dengar nama Noto Soeroto? Tidak apa2 kalau tidak pernah, karena memang sekarang sosok ini sudah tidak dikenal orang lagi. Dulu, pada zaman pra-kemerdekaan, mungkin masih ada jang pernah dengar namanja. Itupun bisa djadi … Lanjutkan membaca “Noto Soeroto dan Soewardi Suryaningrat: paralel dua saudara sepupu” Oleh Joss Wibisono

“Bisanja Tjumak Njebut 350 Tahun” oleh Joss Wibisono

Kalow bisanja tjuman batja veri edjaan orde bau EYD, ja silahken ngeklik ini azha: Dalam hal kolonialisme Belanda, kita selalu menundjuk aspek durasinja jang menurut ingatan chalajak umum Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Aspek lain jang lebih honggiam atawa gawat tidak pernah atau djarang kita tuding. Mengapa hanja menekankan lamanja pendjadjahan? Itupun jang salah lagi! Masalahnja tak ada sedjengkalpun wilajah Nusantara jang pernah didjadjah Belanda sampai tiga setengah abad. Sebenarnja lebih tepat untuk menuding aspek lain. Aspek jang mana itu? Sebagai orang jang njaris, auzubillah, seperempat abad menetap di Belanda, negeri bekas pendjadjah, aku sering ditanja tentang masa lampau Belanda … Lanjutkan membaca “Bisanja Tjumak Njebut 350 Tahun” oleh Joss Wibisono